Saturday, February 11, 2012

Proses Pembentukan Kelompok

Dalam ilmu manajemen terutama pada ilmu yang mempelajari perilaku organisasi terutama mempelajari eksistensi individu dan kelompok di dalam suatu organisasi yang memiliki fenomena unik dalam pembentukan paradigma dan struktur sosial yang dapat digunakan secara kritis dan optimal untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Individu didalam kelompok sebagai seorang yang memiliki keunikan dan yang mempunyai tujuan, serta visi dan misi yang berbeda-beda. Untuk mencapai tujuan-tujuannya individu-individu tersebut mengkonsepsi pemikirannya dengan pola terstruktur yang sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya juga terdapat pula pengaruh lingkungan yang melingkupinya dalam perannya sebagai anggota suatu kelompok tertentu.

Definisi kelompok menurut Stephens P. Robins (2006) sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling tergantung, yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu. Kelompok memiliki karakteristik yang beraneka ragam tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi oleh individu dalam mencapai tujuan-tujuannya. Proses pembentukan kelompok di dalam organisasi mempunyai keunikan yang berbeda dengan proses pembentukan kelompok di lingkungan sosial masyarakat, misalnya untuk mencapai tujuan organisasi setiap individu akan memiliki pola formal dan informal, tetapi biasanya individu di dalam organisasi lebih menyukai pola formal yang sesuai dengan struktur yang telah dibentuk oleh organisasi tersebut seiring dengan pembagian tugas yang jelas dan terperinci. Maka, dapat didefinisikan bahwa kelompok formal adalah kelompok yang dibentuk terstruktur sesuai dengan kebutuhan organisasi. Disamping struktur yang formal tersebut terdapat pula pola informal yang di identifikasi didalamnya individu-individu berasal dari kesamaan visi, tujuan, budaya, latar belakang pendidikan, agama, dan etnis, namun kelompok informal ini tidak memiliki struktur dan pembagian tugas yang jelas. Dan dapat didefinisikan bahwa kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki struktur formal dan tidak ditentukan oleh kebutuhan organisasi, melainkan karena respon kebutuhan akan hubungan sosial.

Kelompok formal memiliki subkelompok lagi didalamnya yang biasanya dikenal dengan kelompok tugas dan kelompok komando. Masing-masing kelompok tersebut tidak memiliki bentuk yang jauh berbeda dengan kelompok formal, karena biasanya memiliki tujuan yang spesifik dan biasanya dibentuk didalam struktur kelompok formal. Kelompok tugas didefinisikan sebagai kelompok yang dibentuk oleh individu-individu didalamnya untuk bersama-sama menyelesaikan tugas dan kelompok komando didefinisikan dengan seluruh manajer dan stafnya, atau hubungan antara atasan dan bawahan.

Untuk kelompok yang sifatnya biasa seperti kelompok kepentingan dan kelompok persahabatan yang biasanya dibentuk untuk menyesuaikan dengan situasi dan maksud tertentu. Kelompok kepentingan didefinisikan sebagai individu-individu yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan menjadi perhatian orang lain didalam dan diluar organisasi. Sedangkan, kelompok persahabatan didefinisikan sebagai kelompok yang dibentuk secara bersama karena mempunyai satu atau lebih kesamaan dalam sifat dan keunikan.

PROSES PEMBENTUKAN KELOMPOK

Dalam proses pembentukan kelompok setiap individu yang tergabung ke dalam kelompok diidentifikasikan sebagai memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dan berharap akan mendapatkan manfaat dari bergabungnya individu ke dalam kelompok. Tujuan individu untuk bergabung kedalam kelompok sebagian besar didasari oleh status, rasa aman, harga diri, pencapaian tujuan, kekuasaan, dan afiliasi yang akan diperoleh setelah bergabung kedalam kelompok (Stephen, 2006).

Kelompok terbentuk oleh aturan yang telah baku selama proses pembentukannya, dan memiliki tahapan-tahapan proses yang berbeda. Dalam proses pembentukan kelompok terdapat suatu model pembentukan kelompok yang banyak digunakan oleh ilmuwan di dunia yang dikenal dengan “Model Lima Tahap”, yang dijelaskan sebagai:

1. Pembentukan (forming)
2. Keributan (storming)
3. Penormaan (norming)
4. Pelaksanaan (performing)
5. Peristirahatan (adjourning)

Gambar 1.1
Model Lima Tahap


Selain “Model Lima Tahap” masih ada satu lagi model pembentukan kelompok yang sering diadaptasi oleh individu, yaitu “Model Keseimbangan - Bersela”. Model ini memiliki keunikan dalam prosesnya yang terdiri dari:
  1. Pertemuan awal yang menentukan arah kelompok.
  2. Fase pertama pembentukan kelompok adalah fase inersia (lemas tanpa energi).
  3. Peralihan (transisi) dari fase pertama, tepatnya setelah kelompok menghabiskan separuh waktu yang disediakan.
  4. Transisi mengawali perubahan-perubahan yang besar.
  5. Fase ini adalah fase inersia kedua dan mengikuti masa transisi.
  6. Pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh kegiatan yang sangat terpacu.

Gambar 1.2
Model Ekuilibrium Bersela


Sumber Pustaka

Robbins, Stephen P., Perilaku Organisasi, Ed. 10, Prentice Hall, USA, 2006 (Edisi Bahasa Indonesia).

John R. Schermerhorn, Jr., James G. Hunt, Richard N. Osborn, Organizational Behaviour, 7th Ed, University of Phoenix, 2002.

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons