Wednesday, February 16, 2011

Bom Meledak di Mapolresta Cirebon

Aksi bunuh diri yang baru-baru ini saja terjadi di Cirebon, tepatnya didalam sebuah Masjid Mapolresta Cirebon (Jum'at, 15 April 2011) pada saat para jama'ah sedang akan melaksanakan sholat Jum'at, Peristiwa ini melukai sedikitnya 26 orang yang sebagian besar adalah anggota kepolisian. Apakah ini suatu hal yang bisa dikategorikan sebagai aksi perorangan atau kelompok, hal ini masih dalam proses penyelidikan tetapi dari material bom yang digunakan oleh pelaku aksi bunuh diri tersebut terdapat sejumlah paku yang ditemukan di tubuh para korban polisi.

Kejadian seperti ini memang membuat trauma masyarakat kembali muncul karena kekawatiran dan ketakutan akan seringkali menghantui dimanapun tempat yang mungkin akan menjadi lokasi aksi bom bunuh diri serupa. Pihak kepolisian yang selama ini ditugaskan menuntaskan terorisme ternyata kecolongan karena disaat tugas memburu teroris diheningkan sejenak oleh berita ditangkapnya oknum teroris yang terlibat dalam kasus bom bali 2002 ditangkap di Pakistan. Namun dalam hal ini pun pihak intelejen tidak dapat mengidentifikasi akan terjadi hal seperti ini di Indonesia padahal dengan adanya intelejen maka tindakan terorisme seperti ini semestinya dapat diantisipasi, mungkinkah ini akan menjadi beban berat juga buat intelejen di Indonesia yang molor dari tugasnya untuk menonaktifkan kegiatan terorisme dan tindakan lain yang mengancam kehidupan masyarakat bernegara.

Apakah benang merah dari peristiwa bom bunuh diri ini dengan kelompok aksi bom di Indonesia lainnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, maka dengan siapapun pasti akan mendapatkan beragam jawaban, tetapi menurut pendapat saya dalam aksi bom bunuh diri ini terdapat hubungannya dengan kehidupan sosial-ekonomi dan juga karena faktor psikologis, seperti stress dan depresi. Dari kedua alasan yang dapat diterima umum tersebut terdapat kaitan antara tindakan seseorang yang depresi oleh karena tekanan kejiwaan dapat mengakibatkan seseorang nekat untuk melakukan bunuh diri atau tindakan anarkis lainnya, sedangkan dari segi sosial-ekonomi berhubungan dengan ketidakadilan yang diperoleh seseorang dari jumlah pendapatan ekonomi atau ketidakseimbangan pendapatan antara orang kaya dan orang miskin dan juga karena hasil dari pembangunan ekonomi yang tidak merata menimbulkan lapangan kerja yang tersedia tidak dapat menampung kreatifitas orang-orang yang justru sangat membutuhkan pekerjaan untuk memperbaiki kehidupan ekonominya.

Ada pun beberapa poin penting yang disebutkan diatas merupakan gambaran kasar yang semestinya menjadi perhatian pemerintah sebagai organisator negara sehingga tindakan anarkis dan ekstrimis yang terjadi di Indonesia dapat di eliminasi hingga tuntas. Dalam hal ini peran intelejen sangat diperlukan karena dengan 'silent operation'-nya dapat digunakan untuk mendeteksi akan munculnya kekerasan seperti ini. Dengan keterlibatan pihak kepolisian, TNI, dan Intelejen, Semoga bangsa Indonesia dapat terbebas dari tindakan kekejaman yang telah banyak menimbulkan kerusakan ditanah air tercinta Indonesia ini.
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons