Rabu, 28 Desember 2011

Korban Bentrok di Bima Ditembak Mati Saat Menyerah

TEMPO.CO, Jakarta - Tim investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menemukan kejanggalan penanganan massa oleh polisi dalam insiden berdarah di Pelabuhan Feri Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu lalu. "Kami mendapatkan informasi polisi menembak warga yang sudah menyerah," kata Nur Kholis, Komisioner Komnas HAM, melalui sambungan telepon dari Bima tadi malam. 

Komnas juga berkukuh jumlah korban tewas tiga orang, bukan dua orang seperti klaim polisi. Ketiganya adalah Arif Rahman, 19 tahun, Syaiful, 17 tahun, dan Arifuddin Arrahman. Arifuddin meninggal sehari kemudian, Arif dan Syaiful tewas di tempat. Sebanyak 15 warga terluka. "Ada yang kritis," ujar Nur Kholis.

Menurut laporan warga kepada Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nusa Tenggara Barat, Syaiful dibunuh saat hendak menolong Arif Rahman, yang tersungkur ditembak dari jarak dekat. Padahal Syaiful sudah mengangkat tangan. Ia ditembak di dada kiri—tempat di jantung, paru-paru, dan pembuluh darah besar.

Koordinator Walhi Nusa Tenggara Barat Ali Usman mengatakan, polisi menyerbu massa menggunakan gas air mata, water cannon, peluru karet, dan peluru tajam. Sebelumnya, sekitar pukul dua, polisi memadamkan lampu dan memasang kawat berduri. "Bahkan ada Brimob di atap rumah warga,” kata Ali.

Juru bicara Markas Besar Kepolisian RI, Saud Usman Nasution, membenarkan bahwa Arif dan Syaiful ditembak dari jarak dekat. 

Kepastian itu diperoleh polisi dari otopsi terhadap dua jenazah korban konflik. Menurut Saud, kedua korban tertembak di bagian pinggang kanan tembus hingga ke dada kiri. Dia belum bisa memastikan jenis peluru yang digunakan apakah peluru karet atau peluru tajam. "Kami cek dulu." Sejauh ini, Saud belum mendapat laporan soal penemuan bukti penting selongsong peluru.

Prosedurnya, kata Saud, polisi harus menggunakan peluru karet. Tapi, peluru karet jika ditembakkan dalam jarak dekat bisa berakibat fatal. "Bisa menembus badan."

Saud juga belum bisa memastikan adanya pelanggaran prosedur dalam pembubaran aksi unjuk rasa di Bima. Saud beralasan mayat korban ditemukan sekitar 600 meter di luar area pelabuhan Sape. Saat itu banyak warga yang diblokir oleh polisi agar tak masuk ke dalam pelabuhan.

Ia menegaskan lembaganya akan terus menyelidiki penyebab kematian korban dengan melihat siapa saja petugas yang bertugas di daerah ditemukan mayat tersebut. "Kan petugas sudah dibagi-bagi bertugas di daerah itu," tambahnya.

M. ANDI P. | RUSMAN P. | INDRA WIJAYA | SUNUDYANTORO

Sumber: Korban Bentrok di Bima Ditembak Mati Saat Menyerah (Tempo, 28 DESEMBER 2011 | 06:39 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons