Sunday, February 12, 2012

Teori Siklus Produksi Vermon

Dikemukakan oleh Vermon (dalam Robock dan Simmonds, 1986). Vermon menghubungkan antara perdagangan dengan investasi asing langsung sebagai suatu tahapan yang berurutan mengikuti siklus produksi suatu produk, meliputi:

1. Tahap Inovasi
Pada tahap ini peranan ilmuwan dan teknisi dalam melakukan penelitian dan pengembangan sangat besar yaitu untuk memperkenalkan suatu perubahan dan pengembangan dari suatu produk. Produk tersebut dipasarkan terbatas pada pasar dalam negeri dan pada tahap awal biasanya produk tersebut belum begitu dikenal pasar sehingga penjualannya berjalan lambat dan permintaan untuk produk ini sedikit.

2. Tahap Pertumbuhan
Pada tahapan ini penjualan produk tersebut mulai meningkat sehingga terjadi produksi secara besar-besaran dan jumlah industri terus meningkat, hal ini mengakibatkan persaingan tercukupi atau karena peluang pasar di luar negeri menjadi lebih menguntungkan.

3. Tahap Kematangan Produk
Pada tahap ini, produk mulai teridentifikasi dan teknologi tidak lagi semata-mata menjadi milik sang penemu. Di samping aktivitas penelitian dan pengembangan serta kemampuan manajerial, peranan tenaga kerja terampil dan setengah terampil menjadi sangat penting. Hal-hal tersebut menimbulkan dorongan untuk melakukan ekspansi ke luar negeri dengan melakukan investasi. Selain untuk menjangkau pasar luar negeri, ekspansi tersebut juga bertujuan untuk mendapatkan input yang lebih murah dan menekan biaya produksi.

Di tahap ketiga teori produksi Vernon menjadi dorongn untuk melakukan ekspansi ke luar negeri guna mendapat input yang lebih murah dan menekan biaya produksi. Kondisi ini mendorong terjadinya aliran investasi asing. Studi empiris yang dilakukan oleh Belderbos dan Sleuwaegen (2003) membuktikan bahwa siklus produksi dapat menjelaskan terjadinya FDI pada periode 1980 dan 1990-an. Kajian tersebut menemukan keputusan investasi dan pendirian pabrik di luar negeri sangat dipengaruhi oleh siklus kematangan suatu produk. 


Akamatsu (1962) mengembangkan model tersebut menjadi “catching-up product cycle thesis” dimana dijelaskan bahwa negara follower pada tahap awal mengimpor produk berkualitas tinggi. Ketika permintaan domestik terhadap produk tersebut meningkat, produk tersebut diproduksi di dalam negeri melalui FDI. Apabila produk tersebut masuk tahap kematangan, maka produk tersebut kembali masuk ke fase ekspansi ke luar negeri melalui ekspor dan diikuti dengan investasi melalui jalur FDI ke negara follower lain dan negara follower sebelumnya menjadi negara leading. Kerangka ini diadopsi oleh Akamatsu dalam model “flying geese”.

Sumber Pustaka 


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 2008

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons