Rabu, 29 Februari 2012

Generasi Pembaharu: Pragmatisme Dalam Konsistensi Pembangunan

Indonesia telah melalui perjalanan panjang menghadapi persoalan bangsanya sendiri, baik persoalan sosial, politik, ekonomi, bahkan peristiwa sejarah pun turut menjadi persoalan yang kontroversial. Ada anggapan bahwa manusia kini berhadapan dengan pola hidup yang semakin kompleks dengan beragam pilihan mengenai cara hidup dan bagaimana memperoleh pendapatan untuk membiayai kehidupannya di dunia yang fana ini. Sekilas kita teringat bagaimana perjuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia pada jaman kolonial dengan rela berkorban demi kemerdekaan, baik jiwa dan raga yang telah gugur dalam pertempuran bahkan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dari berbagai aspek mendasar yang pada saat ini sangat mudah didapatkan, seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi serta sandang dan papan.

Seiring berjalannya waktu setiap orang justru malah sudah tidak lagi mengingat bahkan melupakan bagaimana menjadi warga negara yang peduli kepada Negaranya sendiri juga sikap sosial yang humanis seakan terkubur bersama gugurnya para pejuang kemerdekaan tempo dulu. Ini yang sangat disayangkan jika generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan perjuangan demi kemakmuran bangsa dan kesejahteraan rakyatnya justru malah banyak tidak peduli dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini, dimana dapat kita lihat kasus-kasus yang merugikan negara, pelanggaran HAM, bahkan ancaman terhadap keadilan dan keamanan masyarakat seperti perkosaan, pencurian, perampokan dan narkotika. Mengapa sebuah negeri yang besar layaknya Indonesia ini dengan sumber daya alam yang melimpah dan tanahnya yang subur tidak digunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan sosial masyarakat, bukan hanya untuk memenuhi kas negara yang pada akhirnya hanya bisa mengimpor barang-barang kebutuhan masyarakat atau membiayai investasi yang hanya bisa dinikmati oleh oknum-oknum tertentu. Begitulah gambaran kelabu dari sisi terang perjalanan bangsa ini, yaitu kepada orang-orang hanya melihat dunia ini secara serampangan (baca: semaunya saja) kemudian bersenang-senang diatas penderitaan orang lain bahkan sama sekali enggan menafsirkan Pancasila sebagai ideologi, sistem filsafat dan sumber etika juga yang sebagai landasan negara Indonesia.

Generasi pembaharu adalah generasi yang mampu melakukan perubahan secara konsisten sesuai dengan amanah Pancasila dan UUD 1945 demi kemakmuran bangsa dan Negara. Lalu bagaimana generasi pembaharu itu ada, apakah mereka dilahirkan atau dididik berdisiplin agar memiliki budi yang luhur. Anggapan yang keliru adalah jika kita menganggap mereka yang melakukan tindakan merugikan negara seperti korupsi dan kejahatan kerah putih pejabat birokrat serta mereka yang melakukan aksi anarkis apalagi terorisme adalah generasi pembaharu, namun jika pada akhirnya mereka sadar akan perbuatan kotor tersebut lalu memperbaiki sikap dan pandangan pada hal-hal yang dianggap baik oleh masyarakat maka belum tentu juga dianggap sebagai generasi pembaharu karena tidak mudah mengubah persepsi masyarakat pada hal-hal yang sudah dianggap sebagai kebaikan.

Lain halnya dengan mereka yang memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi serta mengindahkan yang dinilai baik oleh masyarakat juga memikirkan perubahan bangsa dan Negara demi kelangsungan hidup generasi selanjutnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki konsistensi, prinsip kepemimpinan dan intelektual tentang bagaimana membangun komunitas masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya yang berasal dari alam, modal dan manusia. Namun sayangnya tidak banyak dari kita yang memiliki sikap seperti itu, oleh karena itu pertanyaan yang sedang dibahas adalah darimana  berasal mereka yang dianggap sebagai generasi pembaharu, dilahirkan ataukah dididik.

Jika mereka dilahirkan maka tidak berbeda pula dengan kita, karena setiap makhluk memiliki siklus hidup dan kehidupan yang tidak berbeda (lahir, remaja, dewasa, tua dan mati) sedangkan sebagai manusia pembaharu dituntut harus memiliki prinsip kepemimpinan yang moderat, memiliki etika yang tinggi, menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta ketaatannya pada hukum. Kalau generasi pembaharu tersebut adalah mereka atau kita yang dilahirkan, maka tentulah kita sebagai generasi pembaharu pastinya memiliki sikap seperti itu atau paling tidak kita memahami bagaimana cara bertindak yang benar agar tidak dipersoalkan oleh aturan hukum yang berlaku dan tidak merugikan orang lain dengan cara-cara manipulatif.

Lalu bagaimana jika generasi pembaru dididik dan dilatih dengan pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi agar mampu menjadi seorang yang memiliki integritas tinggi, intelek dan beretika. Kalau begitu maka mereka yang berpendidikan rendah sampai berpendidikan tinggi dapat dikatakan sebagai generasi pembaharu, yaitu pelajar, mahasiswa, guru, cendikiawan, karyawan swasta, TNI, polisi, pegawai negeri, wiraswasta, sampai dengan presiden, jika generasi pembaharu adalah mereka yang disebutkan tadi maka status mereka sebagai seorang intelektual, pekerja dalam bidang ekonomi dan militer serta yang menjadi teknokrat maka status tesebut mereka seharusnya memberikan jaminan mutlak akan adanya perubahan yang secara konsisten dengan keterampilan mereka mengubah segalanya yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Karena ilmu dan keterampilan yang mereka tekuni yang diperoleh dari pendidikan dan pengalaman tersebut dapat menjadi modal yang bisa kembangkan untuk membuat sesuatu yang berguna bagi generasi saat ini untuk menjadi bekal bagi generasi selanjutnya agar kelangsungan hidup bangsa dan Negara terjamin dari beragam aspek penting, misalnya dari aspek ekonomi dengan adanya fasilitas jalan raya penghubung antar lokasi memberikan jaminan bahwa usaha yang dijalankan dapat berkembang karena adanya ekspansi ke tempat lain. Dari aspek teknologi adanya penelitian dalam bidang-bidang tertentu seperti penemuan alat-alat produksi yang dapat digunakan untuk proses pabrikasi dan rancang bangun produk yang sudah ada dengan  pembaharuan yang mengikuti kebutuhan.

Maka dari itu generasi pembaharu dapat dikatakan sebagai generasi yang dilahirkan dan dididik, yaitu generasi yang ada saat ini, yaitu orang-orang yang hidup pada jamannya masing-masing dengan berbeda situasi dan kondisi yang mendorong tiap orang untuk berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang lain sehingga dapat bermanfaat pula untuk bangsa dan Negara secara keseluruhan. Besar dan kecilnya usaha yang dilakukan untuk tersebut tidak mesti dengan harus menjadi seseorang yang pemimpin, karena untuk membangun bangsa dan Negara siapa pun orangnya pun bisa, dari pedagang kaki lima, tukang sapu, supir angkot, tukang ojek, bahkan sampai petani pun dapat dikatakan sebagai generasi pembaharu asalkan tujuannya disamping untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya juga secara langsung ikut membangun bangsa dan Negara dengan cara-cara yang bermoral dan beretika. 

Kendala yang dihadapi untuk tetap melaksanakan pembangunan secara konsisten adalah persoalan  kemiskinan dan pengangguran yang masih membayangi tujuan bangsa dan Negara ini mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, karena bagaimanapun kedua persoalan tersebut dianggap menjadi hal yang biasa saja bahkan seolah menjadi syarat mutlak mencapai pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan hal-hal lainnya yang menjadi bagian dalam perekonomian. Untuk menjadi sebuah bangsa dan Negara yang maju, kita sebagai generasi pembaharu harus mampu melakukan perubahan secara konsisten dengan cara-cara yang bermoral dan beretika sesuai dengan kemampuan diri kita masing-masing, karena untuk membangun bangsa dan Negara ini tidak harus kita menjadi seorang pemimpin, tetapi juga dapat dilakukan dengan beragam cara asalkan tidak melanggar hak hidup orang lain serta tetap berpegang pada Pancasila dan UUD 1945.

_____________________________
Photo from Corbisimage

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons