Senin, 13 Februari 2012

Krisis Ekonomi: Produk Bermerek "Kapitalisme"

Krisis yang terjadi dalam perekonomian adalah ciri khas dari ekonomi kapitalis yang seringkali berimbas pada negara-negara sedang berkembang yang dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain berasal dari terjadinya kesalahan dalam proses penyaluran kredit antara institusi penyalur kredit terutama perbankan dengan debitur dan dapat juga disebabkan oleh spekulasi dari penjualan aset, inilah yang disebut dengan krisis yang timbul dari kegagalan pasar (market failure) dan kemudian ada juga krisis yang timbul dari regulator ekonomi atau pihak yang memiliki otoritas dalam pengendalian moneter dimana ketika jumlah uang beredar terlalu besar yang menyebabkan harga aset meningkat atau disebut sebagai kegagalan kebijakan moneter (state failure).

Krisis moneter yang terjadi di Thailand pada tahun 1997 yang merambat ke negara Malaysia, Indonesia, Hongkong, Taiwan, Korea yang diawali dengan ketersediaan dana yang melimpah di Thailand karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama bertahun-tahun dan tersedianya sumber pinjaman yang bersumber dari perbankan dalam negeri dan luar negeri bahkan dari lembaga keuangan bukan bank, dengan nilai tukar Bath terhadap Dolar Amerika Serikat selama bertahun-tahun adalah 25 Bath per Dolar Amerika Serikat maka membuat dunia usaha tertarik untuk mencari pembiayaan dengan pinjaman dengan mata uang Dolar Amerika Serikat tanpa melihat ekspektasi nyata dari nilai tukar tersebut di masa mendatang. Kemudian perekonomian Indonesia juga mengalami krisis moneter yang berdampak pada  nilai tukar Rupiah terus merosot terhadap Dolar Amerika Serikat mencapai Rp 10.000 per $ 1 dan saat itu perusahaan di Indonesia banyak yang menggunakan hutang untuk menjalankan usahanya yang kemudian tidak di hedging dan berlanjut dengan modal dalam mata uang Dolar Amerika Serikat yang keluar dari Indonesia dan juga mengorbankan banyak korban jiwa dari kerusuhan yang terjadi pada masa tersebut.

Kemudian krisis lainnya adalah krisis Meksiko (1994), krisis Rusia (1998), krisis Brasil (1999), krisis Argentina (2001), krisis Turki (2002).  Kemudian krisis keuangan di Amerika Serikat pada 2007 – 2008 yang diawali pada akhir tahun 2007 dimana kredit perumahan yang akhirnya tidak mampu dibayar oleh para konsumen dan bangkrutnya perusahaan Lehman Brother pada 15 September 2008 yang akhirnya menjalar ke pasar modal Amerika Serikat dan berlanjut ke seluruh dunia. 

Kondisi perekonomian yang tidak stabil atau bergejolak yang dapat disebabkan oleh penularan dari negara lain terutama negara maju yang sedang mengalami krisis keuangan atau dikenal dengan “contagion effect” seperti yang didefinisikan oleh World Bank dalam Lucia Morales dan Bernadette Andreosso-O’Callaghan (2010)  dalam jurnal yang berjudul The Global Financial Crisis: "World Market or Regional Contagion Effect" berikut ini: “Contagion is the transmission of shocks to other countries or the cross-country correlation, beyond any fundamental link among the countries and beyond common shocks. This definition is usually referred as excess co-movement, commonly explained by herding behaviour.

Globalisasi memperlihatkan watak aslinya ketika terjadinya kriris ekonomi di beberapa negara seperti krisis keuangan dan anjloknya harga saham di pasar modal internasional. Terbukanya jalur perdagangan dunia dan dengan sistem keuangan yang mendukung keluar masuk arus modal dengan didukung oleh teknologi mutakhir serta semakin tingginya jumlah pengguna layanan internet dan satelit maka telah dapat dikatakan bahwa globalisasi merupakan bentuk kapitalisme dalam bentuknya yang berbeda dengan segala kemudahan transmisi modal antar negara yang tidak hanya dalam bentuk hot money tetapi juga sebagai sebuah korporasi yang sedang mengalami evolusi dari internasionalisasi bisnis.

Terbentuknya WTO sebagai organisasi multinasional yang dirancang untuk mengurus peraturan perdagangan antar negara-negara regional telah menjembatani arus transaksi perdagangan antar negara dengan mengurangi ataupun menghapus hambatan bahkan pembatasan perdagangan di seluruh dunia, ini berarti setiap negara harus mampu bersaing secara bebas dalam perdagangan internasional. Kemudian terdapat tiga bentuk integrasi ekonomi yang utama, yaitu FTA (free trade agreement) yang dibentuk untuk menghapus tarif perdagangan antar negara anggotanya, perserikatan kepabeanan (custom union) dalam penggunaan tarif bersama dalam perdagangan dengan bukan anggotanya, pasar bersama (common market) mengijinkan perpindahan faktor produksi secara bebas termasuk barang dan jasa antara negara anggotanya. 

Perekonomian domestik yang memiliki hubungan dengan perekonomian luar negeri melalui pasar keuangan terutama pasar modal dimana arus modal masuk dari luar negeri berupa hot money yang berasal dari investor yang mencari keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga di negara-negara yang memiliki pasar yang baru berkembang (emerging market), karena di negara asalnya tingkat suku bunga yang rendah tidak mungkin investor dapat mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi dari surat utang negara yang bebas risiko maka alasan dipilihnya negara emerging market yang memiliki tingkat suku bunga yang tinggi karena dapat memberikan tingkat pengembalian yang tinggi dan mampu menguatkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar sehingga meskipun penguatan Rupiah tidak membuat ekspor menjadi melemah karena pada saat rupiah terdepresiasi maka harga relatif produk yang diekspor akan menjadi murah dan sebaliknya para importir domestik akan merugi karena biaya impor yang meningkat serta beban utang luar negeri (sebanding dengan mata uang domestik).

Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana (link1link2)

Sumber Pustaka

Lucia Morales, Bernadette Andreosso-O’Callaghan, “The Global Financial Crisis: World Market or Regional Contagion Effect”, MFA (Midwest Finance Association) Annual Meeting, Febuary 24th -27th, 2010, Las Vegas, Nevada, USA, 2010.

Cyrillus Harinowo, “IMF: Penanganan Krisis dan Indonesia Pasca-IMF”, Cetakan ke-2, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Tulus T.H Tambunan, “Perekonomian Indonesia”, ISBN 978-979-450-556-4, Cetakan ke-1, Penerbit Ghalia Indonesia, April 2009.

Photo from corbisimages
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons