Senin, 06 Februari 2012

Memolitisasi Perilaku Politikus (Suara Merdeka, 6 Februari 2012)

Inilah politik. Terkadang kesimpulan “jalan buntu” seperti itulah yang mengemuka untuk menutup perdebatan tentang suatu persoalan atau wacana yang muncul dari panggung politik. Seolah-olah ada pemahaman bahwa kalau berlangsung keanehan-keanehan dan kontroversi yang dilakukan oleh para politikus, maka sahlah itu sebagai “keadaan yang boleh dipahami”. Semacam justifikasi, apa pun bisa terjadi dan muncul dari ruang-ruang yang bersinggungan dengan permainan kekuasaan.

Begitulah kita memaknai perdebatan dan aksi-reaksi mengenai renovasi ruang Badan Anggaran DPR yang menyerap anggaran Rp 20 miliar. Geger berlangsung setelah ruangan jadi dengan fasilitas serbamewah. Harga barang-barang pengisi ruang pun menghenyakkan rakyat. Ironi bertambah meningkat antar anggota DPR sendiri saling serang, saling menuding. Lebih pahit lagi, sebagian di antara para wakil rakyat memanfaatkannya sebagai peluang pencitraan diri berpihak kepada rakyat.

Ketua DPR Marzuki Alie misalnya, yang sejak awal mengaku kaget atas nilai proyek tersebut lalu memosisikan diri berseberangan dengan sekjen dan banggar, dalam statemennya yang paling aktual menyebut, anggaran Rp 14 miliar pun masih mahal. Aneka pernyataan lain bernada “menyesali” muncul dari para anggota DPR. Fraksi-fraksi tertentu menginstruksikan anggotanya untuk tidak memasuki ruang banggar sebagai ungkapan keberpihakan dalam bentuk simpati kepada rakyat.

Keputusan apa pun yang lahir dari Gedung DPR, logikanya tentu merupakan keputusan lembaga, bukan sikap orang per orang. Terealisasinya pengucuran anggaran renovasi tentu sudah diproses dari tahap ke tahap, sehingga menjadi sangat aneh ketika antara anggota DPR sendiri saling menyalahkan. Namun dari pandangan “itulah politik!”, semua menjadi niscaya. Peluang sekecil apa pun untuk membangun citra akan disambar, dimaksimalkan oleh mereka yang bermain di lahan ini.

Kita sering terusik oleh paradoks-paradoks demikian. Sikap “seolah-olah berpihak” pun menjadi representasi identitas yang telah terkondisikan sebagai hal biasa dalam kehidupan politik kita. Kalau tidak diusik dengan kontrol dan pengawalan oleh rakyat melalui elemen-elemen kritis publik, boleh jadi yang akan berlangsung adalah upaya terus menerus mereka yang berada di zona nyaman itu dalam mengakumulasi kewenangan dan kekuasaan untuk memperkuat kenyamanannya.

Benar, politik adalah “seni dari berbagai kemungkinan”. Tetapi yang mungkin terlupakan, rakyat tidaklah sebodoh yang ada dalam pandangan mereka. Sorotan, kegelisahan, kemuakan, dan reaksi-reaksi yang sering muncul menggambarkan betapa sesungguhnya rakyat menghendaki keamanahan ditegakkan, dan keterwakilan benar-benar diaspirasikan. Akrobat politik lewat tekak-tekuk lidah dalam memolitisasi perilaku politikus akhirnya hanya menyuburkan tontonan di tonil elite. (/)

Sumber: Memolitisasi Perilaku Politikus (Suara Merdeka, 6 Februari 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons