Rabu, 01 Februari 2012

Pemimpin Harus Rela Menderita (Suara Merdeka, 1 Februari 2012)

Jangan biarkan rakyat menderita, tapi biarlah pemimpin yang menderita. Pesan itu disampaikan saat Haul Ke-62 Jenderal Soedirman di Purwokerto, Minggu lalu. Rasanya pesan mulia itu tepat, saat hedonisme dan materialisme mewabah di tengah elite mabuk kekuasaan, serakah menggapai dengan mengorbankan rakyat. Elite memerlukan pencerahan untuk membukakan mata hati dan nurani akan amanah besar di pundak mereka.

Memimpin adalah menderita. Ajaran dan teladan ini diberikan tokoh besar Haji Agus Salim, seorang genius yang menguasai sedikitnya sembilan bahasa. Mohamad Roem menulis, sebagai menteri luar negeri dan perunding kelas wahid, Agus Salim dan keluarganya berpindah-pindah rumah kontrakan antara Bogor dan Jakarta. Kerelaannya untuk tetap hidup miskin menjadi teladan luar biasa. Begitu pula Jenderal Soedirman.

Penderitaan bagi seorang pemimpin bukanlah tanpa makna. Menderita karena kecintaan, dan berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan untuk menyejahterakan rakyat. Jika masih ada rakyat yang tidak bersandang, papan, dan pangan, seorang pemimpin sakit batinnya; hidupnya tidak nyaman ketika menyaksikan orang-orang tidak punya makanan, berpakaian compang-camping, tidur di rumah yang tidak layak huni dan tidak berpendidikan.

Mimpi hadirnya pemimpin yang rela menderita sangatlah kontras dengan kenyataan sekarang. Di era pencitraan dan hedonisme, para elite cenderung menjadikan rakyat hanya sebagai alat kekuasaan, setelah itu mengabaikan amanah. Penampilan elite sangat kontras dengan rakyatnya; selalu perlente dan serbamewah. Ada yang merehab kantor dan gedungnya dengan anggaran Rp 20 miliar, toiletnnya pun senilai Rp 2 miliar.

Pemimpin sejati adalah orang-orang yang bertanggung jawab dengan segala kesadaran hati dan pikiran untuk menjaga amanah. Integritas pribadi adalah kekuatan luar biasa sebagai sumber keberanian dalam mengambil kebijakan dengan segala risiko untuk kepentingan rakyatnya, meskipun dirinya harus menderita. Jika tuntutan itu berlebihan, paling tidak mereka rela mundur, jika menyimpang atau gagal menjalankan ama-nah.

Pemimpin senantiasa berorientasi pada kesepakatan bersama; amanah untuk menyejahterakan, memakmurkan, dan melindungi rakyat. Jika rakyat belum bahagia dan sejahtera, jangan mengaku sebagai pemimpin. Sosok pemimpin sejati, sebagaimana harapan Jenderal Soedirman terimpikan membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan: negara makmur, rakyat teratur, diridai Allah SWT, baldatun toyyibatun warrobbun ghofur. (/)

Sumber: Pemimpin Harus Rela Menderita (Suara Merdeka, 1 Februari 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons