Minggu, 12 Februari 2012

Perintisan Dan Pengembangan Organisasi-Organisasi Koperasi Modern

Dalam Ilmu Koperasi, ‘Koperasi Historis’ adalah lembaga yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan kerja-sama antar individu, yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia sampai pada awal “Revolusi Industri”, di Eropa pada akhir abad ke-18 dan selama abad ke-19. Karena itu, lembaga-lembaga ini seringkali disebut juga sebagai “Koperasi-koperasi Pra-industri” (c.f Engelhardt, 1980, hal. 557).

Sungguhpun lembaga-lembaga koperasi historis itu, secara analitis dibedakan dari koperasi-koperasi modern, namun terdapat bukti-bukti, yang mendukung pendapat bahwa bentuk-bentuk organisasi swadaya (self-help) dan kerja-sama tradisional dapat menguntungkan usaha perintisan dan penyebaran organisasi-organisasi koperasi modern. Selain itu, dalam ilmu-ilmu sosial terdapat teori yang menerangkan bahwa komunitas-komunitas yang ditata menurut “struktur koperasi yang bersifat terbuka” memiliki persyaratan-persyaratan yang lebih menguntungkan bagi pengembangan secara bertahap organisasi koperasi modern dan “Gerakan Koperasi”, dibandingkan dengan organisasi-organisasi yang tersusun menurut struktur hirarki tertentu.

Pengembangan dan penyebaran organisasi-organisasi koperasi modern, yang berusaha secara berhasil, telah merupakan suatu proses perdebatan ideologis dan konsepsional yang memakan waktu lama, dan proses trials dan errors yang panjang dalam mendirikan berbagai bentuk organisasi modern. Namun, sejak awal abad ke-18 dan lama sebelum timbulnya sejumlah organisasi koperasi dan Gerakan Koperasi yang berhasil, berbagai kritik terhadap fenomena ‘Kapitalisme Awal’ di Eropa telah menelorkan berbagai usul dan konsepsi mengenai pengembangan koperasi, yang mampu menunjang kepentingan para anggotanya secara efisien, dan selanjutnya, menjadi dasar penyusunan tata ekonomi nasional dan masyarakat yang lebih baik, bahkan ideal. Konsepsi-konsepsi pertama, terutama, dihasilkan dan disebar-luaskan oleh wakil-wakil dari aliran yang disebut ‘Sosialisme Utopia’, misalnya oleh ROBERT OWEN (1771-1858) di Inggris dan CHARLES FOURIER (1772-1837) di Perancis dan oleh murid-murid HENRI ST. SIMON yang menganut ajaran Sosialisme Kritiani – terutama oleh PHILIPPE J.B. BUCHEZ (1796-1865), demikian pula oleh LOUIS BLANC (1811-1882) di Perancis.

Pelopor-pelopor koperasi dari Rochdale ini adalah 28 pekerja, yang hidup di kota Rochdale di Bagian Utara Inggris, yang belajar dari pengalamannya dimasa lampau – seringkali merupakan pengalaman pahit yang diperoleh dari upaya pengembangan koperasi yang dilakukan secara eksperimental. Setelah melalui diskusi yang lama, mereka mendirikan saru koperasi pada tanggal 24 Oktober 1844 dan memulai usaha pertokoan, sebagai usahanya sendiri, secara berhasil. Peristiwa ini seringkali disebut sebagai saat kelahiran ‘Gerakan Koperasi Modern’.

Para pelopor dari Rochdale itu memperbincangkan aturan-aturan itu secara mendalam dan mengetahui dampaknya. Ketika aturan-aturan itu disyahkan dalam Rapat Rochdale Equitable Pioneer’s Co-operative Society, para pelopor Rochdale itu berhasil memberikan demonstrasi pertama tentang pengelolaan suatu perusahaan koperasi. Aturan-aturan yang disusun oleh para pelopor Rochdale, mula-mula hanya sekedar petunjuk-petunjuk tentang bagaimana seharusnya suatu toko koperasi konsumen yang baik diorganisasi dan dijalankan oleh para anggotannya sendiri, atas dasar keadaan-keadaan yang terdapat di Inggris pada ketika itu, akhirnya menjadi Prinsip-prinsip Koperasi Rochdale yang terkenal. Prinsip-prinsip tersebut, adalah:
  • Keanggotaan yang bersifat terbuka;
  • Pengawasan secara demokratis (satu anggota, satu suara);
  • Bunga yang terbatas atas modal anggota;
  • Pengembalian sisi hasil usaha sesuai dengan jasanya pada koperasi (patronage refund);
  • Barang-barang hanya dijual dengan harga pasar yang berlaku dan hanya secara tunai;
  • Tidak ada perbedaan berdasarkan ras, suku bangsa, agama dan aliran politik;
  • Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-barang yang asli, tidak rusak atau palsu;
  • Pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan.
Sungguhpun gerakan koperasi pertanian pada umumnya dimulai di Jerman, namun usaha-usaha serupa telah dilakukan pula pada waktu yang sama oleh LUIGI LUZATTI (1841-1927) di Italia dan ABBE DE LEMMERAIS (1782-1854) di Perancis di bidang koperasi kredit pertanian dan pada tahap kemudian oleh SIR HORACE PLUNKETT (1854-1932) di Irlandia di bidang koperasi pengolahan susu.

Selain koperasi-koperasi ‘modern’ (menurut pengertian hukum), di banyak negara berkembang masih terdapat pula berbagai jenis usaha swadaya kolektif dan kerjasama tradisional ‘transitoris’ dan ‘quasi modern’ (lihat misalnya: Seibel/Damachi, 1982; Kirsch et al., 1980; Kirsch et al., 1983: Chukwu, 1985; Mtula 1985). Apa yang disebut sebagai ‘koperasi-koperasi asli’ atau ‘organisasi-organisasi swadaya asli’ ini seringkali adalah prakoperasi atau koperasi dalam pengertian sosial-ekonomis, yang tidak diorganisasikan menurut suatu Undang-Undang Modern. Anggota-anggotanya adalah sebahagian besar para petani kecil, para pengarajin, pedagang-pedagang eceran, dan pekerja-pekerja di daerah pedesaan dan di daerah perkotaan. Organisasi-organisasi ini seringkali berusaha di sektor-sektor ‘tradisional’ atau ‘informal’. Kegiatan-kegiatannya meliputi: penyediaan jasa-jasa infrastruktur, sarana perumahan, pengadaan sarana produksi dan barang-barang kebutuhan sehari-hari, pemasaran, dan terutama, usaha simpan pinjam dan perkereditan. (Untuk Indonesia, lihat misalnya: Bogor Agricultural University, 1980, hal. 124 dst.; Hanel, 1983, II, hal. 28 dst.).

Sumber Pustaka

Prof. Dr. Alfred Hanel, Organisasi Koperasi: Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Organisasi Koperasi dan Kebijakan Pengembangannya di Negara-Negara Berkembang, Penerbit: Universitas Padjadjaran, Bandung, 1989.

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons