Friday, May 27, 2011

Restrukturisasi Ala Indonesia

Sebagai negara yang berdaulat atas kepemilikan 17.508 pulau sehingga nama negara Indonesia dikenal oleh dunia sebagai negara yang memiliki pulau terbesar di dunia. Dengan kapasitasnya sebagai pemilik maka negara Indonesia berhak dan berkewajiban memelihara, mengolah, serta melestarikan lingkungan hidup beserta seluruh sumber daya alam yang ada diatas kepulauan tersebut. Indonesia merupakan negara yang masuk dalam wilayah asia tenggara, dengan dibentuknya ASEAN pada tahun 1967 di Bangkok melalui 'deklarasi bangkok' dengan anggotanya antara lain Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, Myanmar, Kamboja,Laos, Brunei Darussalam, Vietnam dan Thailand maka Indonesia menjadi negara yang terintegrasi dalam bidang ekonomi dan politik yang termasuk didalamnya adalah mengenai pertumbuhan ekonomi, perdamaian dikawasan ASEAN, pendidikan, penelitian, dan perdagangan.

Dalam suatu perekonomian yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan dengan peningkatan PDB atau PDB per kapita yang dapat memberikan kelayakan hidup yang sejahtera dalam ruang lingkup negara yang melindungi hak dan asasi seluruh orang yang tinggal didalamnya. Berkaitan dengan itu semua aset yang bernilai bagi perekonomian Indonesia dan berada diatas negara Indonesia adalah milik negara Indonesia yang berhak dimanfaatkan oleh bagi kesejahteraan umum dan tertera dalam suatu undang-undang dasar yang dibentuk atas dasar naskah pembukaan UUD 1945 yang mencerminkan tujuan dan arah negara Indonesia, yaitu pasal 33 UUD 1945.

Dengan demikian, Indonesia berhak mengarahkan seluruh sumber daya ekonomi untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan sebagai suatu amanah dalam UUD 1945 yang dapat dipakai untuk 'road map' ke arah mana Indonesia akan bergerak dengan mengendalikan seluruh kapasitas yang dapat memberikan tingkat kemakmuran dalam perdagangan dalam negeri dan luar negeri. Indonesia dapat membentuk suatu hubungan bilateral maupun multilateral dengan negara lain yang dapat bertujuan untuk perdamaian dan perdagangan melalui jalur ekspor-impor barang melalui perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh negara sebagai BUMN maupun sebagai suatu perusahaan yang didirikan oleh masyarakat dalam bentuk koperasi dan perusahan swasta atau BUMS. Cikal bakal Indonesia dalam perdagangan internasional telah diakui oleh dunia dengan tujuan ekspor ke negara maju seperti AS, Uni Eropa (Jerman, Perancis, Inggris), ASEAN (Singapura, Thailand, Malaysia), Cina, Korea Selatan, Australia, Taiwan, Jepang serta ke negara-negara bagian lain yang termasuk dalam negara dunia kedua dan ketiga.

Impian Indonesia sebagai negara agraris nampaknya hanya akan menjadi hiasan dalam pikiran-pikiran rakyatnya dimana pemanfaatan sumber daya yang belum dapat maksimal dalam memberikan sumbangan pada nilai PDB per kapita dan mengkikis kemiskinan. Suatu negara besar seperti Indonesia dengan jumlah populasi diatas 225 juta maka dapat dikatakan telah menjadi negara yang mampu mandiri karena luas tanah yang dimiliki Indonesia dinilai lebih dari cukup untuk dapat digarap dan diolah untuk kesejahteraan hidup masyarakatnya.

Sejak krisis tahun 1997 perekonomian Indonesia hilang kemudi dengan tidak terkontrolnya semua sumber daya dan kapasitas produksi tanpa batas dan tidak memperhatikan lingkungan hidup sehingga dampak yang diakibatkan adalah banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi di daerah-daerah dan banjir juga kian sering terjadi di perkotaan. Maka, dari berbagai peristiwa yang menjadi bagian sejarah Indonesia semakin kian terkubur oleh berdirinya bangunan-bangunan pencakar langit di perkotaan dan industri-industri yang dengan suara bising mesin dan kepulan asap pabrik yang membumbung tinggi telah menghilangkan sebagian besar harapan para anak bangsa yang hanya dapat hidup dalam serba berkecukupan meskipun perekonomian Indonesia dengan nilai PDB sebesar 6.0 persen dengan PDB per kapita yang diharapkan oleh pemerintah akan sebesar $ 5,000.

Dengan intervensi asing dalam perekonomian Indonesia dalam penjualan aset-aset negara telah dinilai sangat merugikan karena kebijakan privatisasi yang didesak oleh IMF ternyata tidak memberikan kesempatan pada Indonesia untuk lebih dapat mandiri dalam pengelolaan sumber daya di dalam negeri sehingga tingkat kemiskinan tidak dapat diminimalisir pada tingkat yang optimal, sebagai gambaran yang nyata dapat dilihat pada kebijakan pemerintah yang tidak konsisten dengan pembangunan dan perbaikan infrastruktur yang dapat digunakan sebagai fasilitas transportasi perdagangan, tetapi justru tingkat koruptif yang dilakukan oleh mayoritas pejabat pusat dan daerah semakin tinggi. Dampak yang ditimbulkan dari tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme tersebut jelas-jelas sangat merugikan kepentingan rakyat, namun dengan tetap fokus dan konsisten serta kepercayaan yang terbentuk dalam setiap kebijakan regulasi maka setiap komponen masyarakat dapat tetap memberikan kritik dan saran pada jalannya proses pembangunan yang diharapkan dapat menjadi lebih baik.

Seharusnya, sikap yang dapat dibentuk dari kenyataan itu adalah dengan merubah paradigma yang sudah tidak layak digunakan dalam era reformasi dan di alam demokrasi di Indonesia dimana kebijakan penanaman modal asing yang tidak berpihak kepada kemakmuran negeri ini semakin lepas kendali pemerintah sehingga eksploitasi atas sumber daya alam menjadi tidak terbatas dan tidak juga memperhatikan aspek lingkungan hidup dan ditambah lagi kehidupan politik di dalam negeri yang selalu tidak pro pada kehidupan berbangsa dan bernegara juga dengan masih tumbuh bekembangnya upaya disintegrasi dalam tindakan kriminal terorisme sehingga fokus pemerintah menjadi tidak konvergen.

“Restrukturisasi Ala Indonesia” merupakan kebijaksanaan yang seharusnya menjadi ide sentral dalam pembenahan semua aspek yang menunjang hajat hidup orang banyak seperti yang dicetuskan dalam pasal 33 UUD 1945, sehingga dapat menjadi sebuah negara yang agraris dengan pemanfaatan tanah bagi kesejahteraan untuk meningkatkan produksi pangan serta tata kota yang bersih dan rapi. Semua itu menjadi dambaan setiap orang yang berada di Indonesia karena ekspektasi para investor pun dapat diwujudkan yang dapat mendorong perekonomian dalam tingkat yang minim menjad maksimum apabila semua aspek tersebut dapat terwujud.

Tulisan ini pernah dimuat di kompasiana 
___________
Photo from www.corbisimages.com

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons