Selasa, 20 Maret 2012

Curhat SBY Melawan Gerakan Aneh (Suara Merdeka, 20 Maret 2012)

Presiden kembali waswas terhadap keselamatan diri dan keluarga. Kali ini, di tengah pro-kontra kenaikan harga BBM, dalam acara silaturahmi dengan jajaran pengurus Partai Demokrat di Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, ”Ada gerakan aneh. Intinya, pemerintah SBY harus jatuh sebelum 2014 dengan alasan yang dicari-cari oleh kelompok yang sebenarnya tidak mau berjuang di jalan demokrasi. Bahkan, ada yang mengancam keselamatan saya dan keluarga.”

Curahan hati SBY mengenai ”gerakan aneh” tentu bukan ungkapan biasa. Ini setara dengan saat mantan presiden Soeharto di hadapan Ketua Umum PDI Soerjadi, mensinyalir ada ”setan gundul” atau organisasi tanpa bentuk yang menunggangi Partai Demokrasi Indonesia pro-Megawati pada Juli 1996 untuk mengacau keamanan dan keselamatan dirinya. Kita tahu kemudian terjadi Peristiwa Kelabu 27 Juli dan Partai Rakyat Demokratik diburu. Apakah suasana hati SBY saat ini sama dengan situasi kejiwaan Soeharto saat itu?

SBY dengan dukungan intelijen memang bisa menangkap sinyal-sinyal kekuatan lain yang akan melakukan kudeta. Tudingan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Ramadhan Pohan yang menyebutkan Ketua Umum Hanura, Wiranto, tengah berupaya menggulingkan SBY, tentu bukan sekadar omongan di warung kopi. Hanya yang menjadi persoalan, apakah Wiranto dan tokoh lain benar-benar sedang menjadi generator bagi ”gerakan aneh”? Apakah mereka benar-benar akan memberontak? 

Meluncur juga pertanyaan lain, apakah SBY sudah begitu berbahaya bagi perkembangan negeri ini sehingga perlu dikudeta? Sesungguhnya tanpa dikudeta, jika rakyat sudah tidak menginginkan kepemimpinannya, SBY akan runtuh sendiri. Soeharto, sebagai contoh, jatuh tanpa ada kekuatan lain yang mengudeta. Soeharto saat itu mampu membaca keadaan sehingga dia lebih memilih lengser keprabon, madeg pandhita  ketimbang mengerahkan tentara yang memicu pertumpahan darah.

Karena itu, memaknai ancaman atau kudeta terhadap dirinya, SBY memang tidak perlu mengeluh. Keluhan hanya akan menunjukkan betapa sebagai pemimpin dia memiliki sisi kecengengan. SBY mungkin harus belajar pada Soekarno dalam menghadapi acaman dan tindakan pengudetaan. Meskipun pada 30 November 1957 digranat, dia tidak menunjukkan kekhawatiran. Soekarno justru menggunakan peristiwa itu sebagai ”alasan” untuk menumpas perlawanan Kartosuwirjo.

Ancaman dan rencana kudeta dari siapa pun juga harus dimaknai sebagai koreksi. Saat ini rakyat sudah tidak sabar menunggu sepak terjang pemerintah untuk menyejahterakan dan memakmurkan mereka. Hal itu menjadikan pemimpin yang tidak cekatan dianggap sebagai biang keladi permasalahan. Di tengah-tengah masyarakat yang lelah menunggu ”ratu adil” dan ”masa sejahtera”,  SBY memang harus siap menjadi sasaran tembak. Dia akan lolos dari ancaman dan kudeta jika bisa menjadi pewujud keinginan rakyatnya. (/)

Sumber: Curhat SBY Melawan Gerakan Aneh (Suara Merdeka, 20 Maret 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons