Friday, March 2, 2012

Isyarat dari Peristiwa Pembacokan Jaksa (Suara Merdeka, 2 Maret 2012)

Jaksa Sistoyo, terdakwa kasus dugaan suap Rp 100 juta, diserang dengan golok usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Bandung. Pelaku, Deddy Sugarda (44) mengaku melakukan tindakan nekat karena ingin memberi pelajaran terhadap para koruptor. Sementara itu, Jaksa Sistoyo mengalami luka serius, dan mendapatkan delapan jahitan. Peristiwa ini tidak boleh dianggap enteng, karena memberikan pelajaran banyak hal.

Jika pelaku tunggal itu mengaku ingin memberikan pelajaran pada para koruptor yang dianggapnya pengkhianat itu, kenapa hanya dilakukan kepada jaksa. Sebelumnya, dia juga mengincar Jaksa Cyrus Sinaga yang belum lama divonis. Kenapa pula yang diancam bukan yang lain-lain, seperti misalnya pelaku korupsi yang dinyatakan bebas, hakim yang memutus bebas murni koruptor, atau polisi yang dengan sengaja menghentikan perkara ?

Mungkinkah pelaku dendam terhadap jaksa ? Profesi yang seharusnya menjadi pilar utama penegakan hukum, tetapi justru menjadi pelaku tindak pidana itu. Mungkin kejengkelan Deddy terhadap jaksa sudah lama terpendam, dan sengaja mencari sasaran dan momen yang tepat untuk memberikan pelajaran serius. Meski pun tindakan seperti ini tidak bisa dibenarkan, tetapi kejengkelan pelaku terhadap keadaan penegakan hukum bisa dipahami.

Apa yang diperlihatkan oleh pelaku pembacokan tersebut sebenarnya itulah cermin kegeraman masyarakat terhadap keadaan republik saat ini. Kasus korupsi yang sudah sedemikian terbuka misalnya, tidak juga pelaku disentuh. Hal seperti ini banyak sekali terjadi, dan seolah-olah tidak ada apa-apa. Pengecualian terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang tidak memiliki beking, atau jaringan, dengan mudah untuk disidik dan diadili.

Di dalam kultur masyarakat kita sekarang ini, sebuah model apa apun bentuknya akan dengan mudah ditiru msyarakat. Contoh sederhana, jalan yang rusak parah oleh masyarakat akan ditanami pisang. Model seperti ini sekarang berlangsung di mana-mana. Hakim dilempar sepatu juga beberapa kali terjadi. Kantor polisi juga digeruduk ramai-ramai. Nah, ulah Deddy yang nekat seperti itu bukan tidak mungkin akan ditiru pelaku lain.

Untuk itu, terasa mendesak sekali sistem pengamanan peradilan dibenahi. Seluruh personil yang terlibat dalam persidangan, mulai dari terdakwa, penuntut umum, panitera, hakim dan seluruh proses yang menyertai harus dijamin keamanannya. Jika hanya dengan menggunakan kapak, atau pedang pelaku mudah sekali diringkus.Tetapi bagaimana jika ada yang nekat membawa senjata api, atau pun bom ? Ini persoalan yang serius. (/) 

Sumber: Isyarat dari Peristiwa Pembacokan Jaksa (Suara Merdeka, 2 Maret 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons