Sabtu, 31 Maret 2012

Jangan Salahkan Aksi Demo (Investor Daily, 31 Maret 2012)

Aksi demontrasi berbagai elemen masyarakat menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi harus dipandang sebagai tuntutan kepada pemerintah untuk konsisten mengaktualisasikan politik kesejahteraan rakyat.

Aksi demo yang dimotori para mahasiswa itu merupakan bentuk perlawanan rakyat kepada pemerintah yang tidak konsisten dengan kebijakan yang digulirkannya. Mereka melihat, kenaikan harga BBM bukan terutama didorong oleh niat yang tulus untuk menyejahterakan rakyat, tapi oleh motif politik.

Rakyat sudah melihat gelagat itu sejak terjadinya perubahan yang begitu cepat dari rencana semula, yakni membatasi BBM bersubsidi, ke kebijakan menaikkan harga BBM. Tak ada hujan, tak ada angin, pemerintah tibatiba menggulirkan rencana menaikkan harga BBM dan mengabaikan rencana pembatasan BBM bersubsidi.

Rakyat, yang kini semakin melek politik, langsung membaca itu sebagai sebuah strategi tebar pesona untuk mengambil simpati rakyat. Pendulumnya yakni digulirkannya bantuan langsung tunai (BLT) – kini disebut bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) — sebesar Rp 17 triliun untuk rakyat miskin. Dana tunai tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada rakyat miskin selama enam bulan.

Rakyat tentu saja senang dengan pemberian cuma-cuma tersebut. Tujuan yang terpapar dari digulirkannya BLSM adalah agar rakyat tak semakin tergencet oleh kenaikan harga barang-barang pascakenaikan harga BBM bersubsidi. Namun, dalam politik tak ada yang benar-benar gratis. 

Belajar dari pengalaman Pemilu 2009 lalu, BLT yang dikucurkan ketika itu benar-benar manjur sebagai instrument politik partai yang berkuasa. Para penerima BLT pada Pemilu 2009 mendukung incumbent yang memang menggulirkan program tersebut. Padahal, cara ini, baik secara ilmiah maupun empirik, sangat tidak membantu. Pemerintah jadinya seperti sinterklas yang meninabobokan rakyat. Tak perlu kerja keras, pemerintah toh tinggal membagi- bagikan uang yang bersumber dari anggaran negara. Sementara itu, bagi rakyat yang mendapatkan BLT, setelah program ini selesai, tak ada perubahan yang terjadi. Mereka kembali lagi sebagai orang miskin. Tak ada yang bisa jadi kaya dengan BLT.

Jadi, menaikkan harga BBM sekaligus menggulirkan dana BLT bukanlah sebuah solusi yang tepat. Apalagi situasi yang kita hadapi saat ini juga sangat tidak mendukung. Jika Indonesia menaikkan harga BBM saat ini, ekonomi akan makin susah. Kalaupun akhirnya pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM, dana subsidi tidak untuk BLT, tapi untuk kegiatan-kegiatan produktif, seperti membangun infrastruktur, irigasi, membenahi sistem transportasi umum, dan membantu percepatan konversi energi dari BBM ke gas.

Dana BLT cukup diberikan bagi para penyandang cacat atau orang-orang yang benar-benar miskin. Tak ada cara lain kecuali pemerintah harus bekerja keras untuk menemukan solusi yang paling elegan. Pemerintah harus bekerja keras untuk menyosialisasikan gerakan hemat energi dan menghilangkan praktik pengelolaan sumber daya alam yang tidak jelas dan sangat koruptif. 

Rakyat juga harus diberikan pengertian bahwa sumber energi kita terbatas. Jika kita terus menerus menguras kekayaan minyak bumi yang kita miliki, saatnya nanti habis juga. Rakyat juga harus diberikan pemahaman bahwa BBM kita juga sangat terpengaruh oleh harga minyak dunia. Kalau rakyat diberi pengertian terus menerus, tentang hal ini, pada saatnya mereka menerima kebijakan kenaikan harga BBM.

Sosialisasi disertai program-program produktif itulah yang harus dikerjakan pemerintah. Sayangnya, pemerintah lebih suka mengambil cara gampang, yakni menaikkan harga BBM, dengan ritual ikutannya: membagi-bagikan BLT. Lebih runyam lagi, BLT yang dibagi- bagikan pun ternyata kental dengan aroma kepentingan politik kekuasaan. Ini yang tidak dikehendaki rakyat. Makanya para mahasiswa dan rakyat di berbagai daerah turun berdemonstrasi. Wajar pula apabila sejumlah gubernur, bupati, dan walikota — yang keterpilihannya didukung oleh partai politik — ikut berpanas-panasan di jalanan. 

Para mahasiswa dan masyarakat yang berdemonstrasi itu melihat adanya ketidak-konsistenan dan ketidakjujuran dalam kebijakan harga BBM. Untuk alasan inilah mereka turun ke jalan. Jadi, kita harus memberikan apresiasi atas perjuangan mereka. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka bukan orang-orang yang berkantor di gedungan. Mereka adalah orang-orang intelek, terbilang kelompok “sendal jepit”, tapi bisa memahami dengan jernih jeritan suara hati rakyat.

Karena itu, suara mereka tetap patut didengar, agar pemerintah tetap konsisten dalam upaya menyejahterakan rakyat bangsa ini. Juga agar pesan Reformasi 1998, yang dibayar tunai dengan kucuran keringat dan tetesan darah para mahasiswa ketika itu, jangan sampai kehilangan arah. (*)

Sumber: Jangan Salahkan Aksi Demo (Investor Daily, 31 Maret 2012 22:03 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons