Kamis, 29 Maret 2012

Menghentikan Perlombaan Nuklir (Suara Merdeka, 29 Maret 2012)

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan Nuklir di Seoul, Korea Selatan, telah berakhir. Ada komitmen bersama yang dihasilkan dari pertemuan lebih dari 50 kepala negara pada KTT tersebut, meski pada sisi lain, sebagian pengamat menyatakan tidak puas karena KTT dinilai tidak menghasilkan solusi kongkret alias hanya wacana saja. Bagaimanapun, hasil tersebut bisa dipandang dari sisi optimistik maupun sisi pesimistik dan tetap penting untuk agenda ke depan.

Pertemuan berakhir dengan menghasilkan komunike yang menunjukkan komitmen negara peserta dalam mengurangi pasokan uranium dan plutonium, meningkatkan keamanan fasilitas nuklir, serta mencegah penjualan materi nuklir dan radioaktif ilegal. Isu utama yang mendasari komunike tersebut adalah ikhtiar dari negara-negara peserta KTT agar materi nuklir tidak jatuh ke tangan yang salah, yakni kelompok teroris sehingga tidak menimbulkan ancaman terorisme nuklir.

Mengingat sedikit saja materi nuklir bisa membinasakan ratusan ribu jiwa, kekhawatiran terhadap terorisme nuklir sangat beralasan. Kerisauan terhadap ancaman terorisme nuklir bukan sekadar paranoid, tetapi karena bahaya itu memang nyata. Dunia sesungguhnya berkejaran dengan waktu untuk menghentikan perlombaan nuklir. Sayangnya, justru negara-negara besar dan maju yang sebetulnya memulai perlombaan nuklir serta bersikap hipokrit menyangkut kebijakan nuklir.

Perdebatan saat KTT Nuklir mencerminkan arus wacana yang berlangsung, yakni masih saja memusatkan ketakutan pada program nuklir negara-negara yang secara ideologis tidak sejalan dengan Amerika Serikat dan Barat, semisal Iran dan Korea Utara. Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda misalnya, melenceng dari agenda forum dengan meminta komunitas internasional menuntut Korea Utara menghentikan rencana peluncuran roket satelit.

Korut memang berencana meluncurkan roket pembawa satelit pada bulan dan Jepang yakin peluncuran satelit itu adalah kedok untuk uji coba rudal jarak jauh. Sikap saling curiga seperti itu adalah hambatan pertama dalam upaya membangun dialog keamanan nuklir. Sebab, persoalan selalu berputar pada satu kesimpulan yang seragam, bahwa Barat tetap aman mengembangkan kapasitas nuklir sementara negara-negara di luar Barat dinilai tidak layak memiliki nuklir.

Amerika Serikat dan Israel sampai saat ini belum meratifikasi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir. Padahal, iktikad politik AS dan Israel akan mendorong enam negara lain yang juga belum meratifikasi traktat tersebut. Sebab, jika ratifikasi sudah lengkap, traktat dapat diterapkan dan uji coba ledak nuklir akan terlarang. Penerapan traktat itu adalah langkah awal menghentikan perlombaan nuklir. Namun untuk soal itu, AS masih saja bersikap mendua. (/) 

Sumber: Menghentikan Perlombaan Nuklir (Suara Merdeka, 29 Maret 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons