Friday, March 9, 2012

Negara Autopilot: Kesenjangan Dalam Interpretasi

Istilah auto dapat diartikan sebagai bergerak sendiri dan istilah pilot adalah seseorang yang mengendalikan sesuatu yang bergerak (manusia), maka dua istilah tersebut jika digabungkan menjadi bergerak sendiri tanpa dikendalikan oleh manusia. Dalam tulisan ini istilah auto dan pilot digabungkan menjadi autopilot dalam pengertian yang sentralistis pada sebuah negara yang bergerak sendiri tanpa dikendalikan oleh pemimpin negara, penggunaan istilah autopilot tersebut sebagai analogi atau persamaan dari dua hal yang berbeda.

Analogi dari sebuah negara autopilot merupakan interpretasi terhadap kondisi dari sebuah Negara yang dalam keadaan tetap bergerak dinamis ketika kepemimpinan oleh pemimpin negara bersikap pasif, dalam artian ketika negara tanpa kepemimpinan pemimpin negara tetapi negara dipimpin oleh rakyat secara tidak langsung atas dasar otoritasnya sebagai individu-individu yang berdasarkan kepentingan pencarian hidupnya sedangkan pemimpin negara cenderung diam hanya menerima hasil.

Interpretasi yang berkembang ditingkat elit politik berbeda-beda, masing-masing interpretasi mendasarkannya pada tujuan dilemparkannya isu negara autopilot yang berawal di sarasehan anak negeri, tanggal 12 Januari 2012 yang bertajuk “Penyelamatan Negara Autopilot” diselenggarakan oleh perusahaan media televisi swasta di Indonesia yang kemudian memunculkan beragam opini dari kalangan masyarakat dan elit politik mengenai isu tersebut. Beragam opini cenderung menanggapi isu tersebut dinilai sebagai tidak berdasar pada teori serta angka agregat pencapaian pertumbuhan ekonomi pun disodorkan ke publik dan peran pemerintah pusat dalam segala aspek kinerja selama ini pun ikut pula mendominasi sebagai bukti bahwa negara bergerak tidak tanpa pemimpin tetapi sebaliknya negara digerakkan oleh pemimpin.

Terkait dengan isu negara autopilot ada beberapa tanggapan yang oleh penulis dikutip dari beberapa media nasional berikut ini:

Menko Perekonomian, Hatta Rajasa:
 “Dengan membuat tudingan semacam itu, sama saja kita mengatakan lurah, camat, bupati, gubernur sampai presiden tidak bekerja.”
Ketua DPP Demokrat Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional, Kastorius Sinaga:
"Statement autopilot itu sama sekali ngawur, tidak berdasar dan lebih mencerminkan pikiran picik yang dieksploitir oleh media massa untuk sensasi yang provokatif."
Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), Ignas Kleden:
Keadaan ini harus diambil benefitnya. Jangan mengeluh terus. Ciptakan alternatif tokoh lain, tokoh muda yang cerdas untuk memimpin negara ini pada saatnya nanti. Rakyat juga jangan desperate (putus asa), karena ini adalah dinamika yang biasa terjadi di masyarakat."
Panglima TNI Laksamana TNI, Agus Suhartono:
"Karena saya pelaut, di kapal juga ada autopilot itu. Jadi sebenarnya saya sendiri tidak jelas juga apa yang dimaksud autopilot didalam kritikan-kritikan masyarakat itu.”
Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Jero Wacik:
"Presiden SBY onboard, menteri-menteri onboard, nggak usah khawatir. Kami akan jalan terus.”
Dari beragam tanggapan terhadap isu negara autopilot tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa isu tersebut muncul dengan sendirinya dari permukaan atas dasar pengamatan dan pengalaman di lapangan yang di pantau oleh media selama ini dan isu negara autopilot tersebut meskipun tidak berdasarkan pada teori politik maupun teori bernegara lainnya yang telah menempati ruang pikir publik didalam urutannya tersendiri tetapi istilah autopilot memiliki pengertiannya tersendiri dengan penggunaan analogi berupa korelasi antara situasi dan kendali.

Situasi dan kendali tersebut terkait dengan keadaan dimasa kini dalam dinamika kehidupan sosial, ekonomi, hukum dan politik dimasyarakat serta faktor lainnya yang berkomplemen pada aspek tersebut dan kemudian secara tidak langsung menghubungkannya dengan tanpa kendali dari seorang pemimpin dalam pengertian pemimpin menyerahkan kewibawaannya pada tingkatan struktural dibawahnya untuk bertindak otonom sesuai dengan tujuannya namun tetap pada konteks nasionalisme kebangsaan yang pluralis untuk mancapai taraf kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Istilah negara autopilot pun kemudian berkembang menjadi istilah politis sehingga nampak terdapat politisasi pada kepemimpinan seseorang sebagai pemimpin yang tidak bekerja secara optimal dan dengan seolah adanya sikap pembiaran terhadap keadaan di masyarakat. Dalam hal ini citra kepemimpinan seseorang tersebut disorot melalui beragam peristiwa dalam bingkai kehidupan di masyakat terkait dengan kondisi ekonomi, sosial, hukum serta politik yang kerap kali dibincangkan oleh publik secara luas dan kondisi-kondisi pun dapat mudah diamati baik secara langsung maupun dengan melalui media.

Sejalan dengan berkembangnya istilah negara autopilot itu dikuatirkan pula ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu untuk menciderai jalannya arah pergerakan roda kepemimpinan pemerintahan karena munculnya istilah negara autopilot memberikan kesan bahwa pemerintah tidak melakukan apa-apa dan negara bergerak sendiri dengan rakyat didalamnya yang bekerja karena inisiatif rakyat demi kelangsungan hidupnya sendiri-sendiri. Ironinya apabila istilah tersebut hanya akan menjadi kritik pendewasaan bagi proses demokrasi bukannya malah lantas membuat pemerintah membuka mata pada situasi yang terjadi saat ini.

Daftar Referensi

Image from corbisimage
M. Arief Pranoto, “Negeri Autopilot: Kritik atau Propaganda?”, Research Associate Global Future Institute (GFI), 21 Januari 2012.
Tempo.co, “IniKomentar Hatta Soal Negara Autopilot”, (Selasa, 17 Januari 2012).
Jaringnews.com, “Kastorius Sinaga: Istilah Negara Autopilot Menyesatkan Dan Sarat Hasutan”, (Senin, 16 Januari 2012).
Seruu.com, “Ini Tanggapan Panglima TNI Soal NegeriAutopilot”, (19 Januari 2012).
Vivanews.com, “Jero Wacik: Negara Ini Tak Pakai Autopilot”, (17 Januari 2012).

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons