Tuesday, March 27, 2012

Pembungkaman Gerakan Mahasiswa

Ironis, di tengah hangatnya isu kenaikan harga BBM yang diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa, justru isu pembungkaman aksi mahasiswa dilakukan secara terbuka dan sistemik. Sinyal pembungkaman aksi demonstrasi mahasiswa terlihat ketika Presiden SBY mengajak safari mahasiswa ke China dan Korea.

Inilah ironi demokrasi. Keterbukaan dan kebebasan berekspresi yang dijamin negara telah dicederai oleh pemerintah sendiri. Mahasiswa yang berdemonstrasi menolak kenaikan BBM sebagai bentuk perjuangan membela kepentingan rakyat, berusaha diredam lewat safari ke China. Pertanyaannya, akankah mahasiswa diam tertindas atau memberontak?

Sejak pemerintah mewacanakan isu kenaikan BBM, serangkaian aksi mahasiswa menentang kenaikan harga BBM telah berlangsung serentak di seluruh pelosok negeri. Secara keseluruhan dan terbuka, mahasiswa menentang kebijakan pemerintah yang dinilai akan semakin menyengsarakan nasib rakyat kecil. Kenaikan harga BBM diasumsikan hanya akan menguntungkan oleh kaum elite, sehingga yang miskin semakin melarat, yang kaya semakin sejahtera.

Aksi mahasiswa menentang kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat merupakan bentuk aksi revolusioner mahasiswa melawan pemerintah. Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa telah menorehkan sejarah panjang yang penuh heroisme. Hampir tidak ada catatan sejarah yang mencatat perlawanan terhadap kebijakan pemerintah tidak dilakukan mahasiswa. Mahasiswa lahir sebagai motor gerakan yang mengkristal dari realitas masyarakatnya.

Aksi demonstrasi mahasiswa yang sistemik dan serentak tampaknya memancing kekhawatiran pemerintah hingga mengalami sindrom phobia demonstrasi. Demonstrasi sebagai bentuk ekspresi berdemokrasi dianggap mengancam eksistensi pemerintah. Sehingga, upaya melemahkan gerakan mahasiswa dilakukan secara sistemik.

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, mahasiswa selalu tampil sebagai katalisator yang memecah kebuntuan sosial, politik dan budaya yang diciptakan rezim penguasa. Sejarah panjang kemerdekaan Indonesia hingga reformasi pun, selalu diwarnai dengan perjuangan mahasiswa sebagai motor gerakannya. Mahasiswa telah menorehkan tinta emas yang penuh luka dan gairah proletarianisme. Mahasiswa hadir dengan bekal akademis dan sensitivitas sosial yang tinggi akan problem kebangsaan yang terjadi.

Aksi demonstrasi mahasiswa tidaklah berangkat dari ruang kosong. Mahasiswa berangkat dari ruang dialektika, perenungan dan sensitivitas sosial yang ada dalam masyarakat. Mahasiswa membawa ideologi gerakan yang menjunjung asas keberpihakan pada rakyat kecil.

Ideologi inilah yang menggerakkan mahasiswa dalam melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintah ketika rakyat semakin tertindas. Budayawan Frans Magnis Suseno menyebut ideologi sebagai sistem berpikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu, yang berfungsi memolakan, mengonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat.

Penolakan terhadap kenaikan harga BBM pun berangkat dari sebuah kegelisahan mahasiswa terhadap rakyat kecil yang terdiskriminasi dan tertindas. Mahasiswa menjadi katalisator perjuangan rakyat yang terus mengkristal dalam menentang kebijakan yang tidak populis dan merugikan rakyat.

Aksi massa mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM mendapat godaannya dengan isu keberangkatan mahasiswa yang bersafari bersama Presiden ke China dan Korea. Keberangkatan mahasiswa tentu menjadi sinyal merah akan dimensi kritis dan ideologis gerakan mahasiswa yang sudah terkooptasi. Mahasiwa yang sedang "panas" dengan kebijakan pemerintah harus dihadapkan dengan realitas bahwa ada mahasiswa yang dengan suka rela bersafari.

Itu juga sebagai bentuk "pelacuran" mahasiswa terhadap pemerintah? Pelacuran ideologi gerakan dan kritisisme yang mulai pudar? Tampaknya mahasiswa terjebak legitnya bargaining posisi yang ditawarkan pemerintah. Sehingga, akan memuluskan ambisi pemerintah untuk merealisasikan kenaikan harga BBM.

Namun, mahasiswa akan selalu hadir untuk melakukan aksi protes. Kenaikan BBM hanyalah permainan penguasa di tengah problem kebangsaan yang mulai akut, pemerintah justru menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat dengan manaikkan harga BBM. Konstan, penolakan dan aksi penimbunan pun dilakukan masyarakat sipil. Demonstrasi anarkis bermunculan di mana-mana.

Ketegangan yang ditimbulkan akibat kenaikan harga BBM melahirkan kekhawatiran akut pemerintah. Aksi massa mahasiswa dianggap ancaman serius yang bisa merubah arah kebijakan kenaikan BBM. Inilah perang gerakan (war of movement), perang wacana (war of opinion) dan perang posisi (war of position), kata Antonio Gramsci dalam kritik pembangunan dunia ketiga.

Pemerintah telah meniupkan terompet peperangan dengan mahasiswa. Wacana telah berkembang di publik, gerakan penentangan mahasiswa terus berdetak kencang di masyarakat dan pemerintah berupa mengambil posisi sebagai aktor otoriter penuh kekuasaan yang tak tersentuh.

Kejadian ini adalah momentum menunjukkan eksistensi dan identitis gerakan mahasiswa yang tidak akan pernah mati walau ditekan secara sistemik. Momentum kenaikan harga BBM dan safari mahasiwa bersama Presiden adalah bentuk nyata dari sebuah ketimpangan realitas sosio-politik.

Masyarakat akan tertindas dan eksistensi gerakan akan dibungkam. Namun, gelombang perlawanan akan terus berdenyut. Konteks realitas hidup hari ini hanya menyajikan dua pilihan, hidup tertindas atau mati terhormat. Sebagai insan gerakan, tentu kita tidak akan pernah tunduk akan hegemoni dan otoritarianisme rezim penguasa. ***

Penulis bergiat di Literacy Institute, Yogyakarta.

Sumber: Pembungkaman Gerakan Mahasiswa (Suara Karya, 27 Maret 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons