Tuesday, December 13, 2011

Aksi Bakar Diri (Lampung Post, 13 Desember 2011)

SONDANG Hutagalung nekat membakar diri di depan Istana Negara, Rabu (7-12). Sekujur tubuhnya menderita luka bakar berat. Setelah empat hari meregang nyawa, mahasiswa Universitas Bung Karno berusia 22 tahun itu akhirnya meninggal dunia, Sabtu (10-12).

Bakar diri itu dilakukan persis di Hari HAM Internasional, mengambil tempat di depan Istana Negara, yaitu simbol pusat kekuasaan Republik. Sondang memang aktivis hak asasi manusia. Ia pun dekat dengan komunitas Munir, pejuang HAM yang mati diracun dan kasusnya hingga kini belum terbongkar tuntas.

Pesan yang dibawa Sondang sekurang-kurangnya ialah betapa negara gagal menuntaskan banyak persoalan HAM. Pembunuhan Munir hanyalah salah satu contoh. Masih banyak contoh lain, seperti Tragedi Mei 1998, peristiwa Semanggi, atau kekerasan di Papua yang tak kunjung tertuntaskan.

Frustrasi politik Sondang sepertinya sudah memuncak tak tertahankan. Ia memprotes dengan membakar diri di depan Istana. Tak pernah ada yang bakar diri di depan Istana sejak kemerdekaan.

Aksi Sondang mengingatkan kita kepada sosok Mohamed Bouazizi, pemuda Tunisia yang membakar dirinya di depan kantor gubernur, akhir Desember 2010. Seperti Sondang, frustrasi Bouazizi terhadap negaranya yang korup dan gagal menyejahterakan rakyatnya juga memuncak.

Perbedaannya, Bouazizi membakar dirinya di hadapan negara yang otoriter. Negara otoriter senantiasa menutup rapat-rapat telinganya dari suara rakyat. Bakar diri menjadi ungkapan konyol, tetapi heroik agar suara rakyat didengar penguasa. Ketika penguasa tetap enggan membuka telinga, rakyat marah dan revolusi pun pecah di Tunisia.

Akan tetapi, Sondang membakar dirinya di hadapan negara yang demokratis. Negara demokratis semestinya mau membuka lebar-lebar telinga untuk menyerap suara rakyat.

Negara demokratis semestinya memiliki kekuatan otoritatif untuk menegakkan hukum dan menyelesaikan berbagai persoalan HAM. Namun, tengoklah, sudah 13 tahun aksi diam “payung hitam” di depan Istana bagi penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM berjalan nihil.

Oleh karena itu, tidaklah patut bila Istana sekadar menyayangkan dan prihatin atas aksi Sondang. Pemerintah harus sungguh-sungguh mendengar pesan Sondang yang merupakan representasi suara yang menuntut penegakan hukum dan HAM.

Seorang warga membakar diri di depan Istana Negara mungkin belum memberi makna kepada Presiden tentang gawatnya kekecewaan yang bersemayam di bawah permukaan. Namun, satu lebih dari cukup. Janganlah tunggu lebih banyak anak bangsa membakar diri baru berubah. (*)

Sumber: Aksi Bakar Diri (Lampung Post, 13 Desember 2011 05:11 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons