Kamis, 15 Maret 2012

Arsitek Tanpa Pamrih

Widjojo Nitisastro hadir di tengah urgensi pembenahan perekonomian yang carut-marut. Memahami dinamika riil di lapangan, pro kepada rakyat, dan mementingkan pembangunan menjadi ciri pemikirannya. Semua itu masih relevan hingga kini. --- 

Ketika Indonesia diterpa masalah ekonomi yang dilematis, peka, dan berdampak politis berupa kenaikan bahan bakar minyak, saat itulah Widjojo Nitisastro, sang arsitek ekonomi Orde Baru pergi menghadap Sang Khalik.

Peletak fondasi ekonomi nasional pasca keruntuhan Orde Lama itu menghembuskan nafas terakhir Jumat dini hari pekan lalu di RS Cipto Mangunkusumo. Kepergiannya sontak mengajak banyak orang untuk mengingat jasa, peran, dan pengabdiannya ketika bangsa dan negara menghadapi persoalan ekonomi yang berat dan akut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai melayat almarhum di Gedung Bappenas, menilai Widjojo sebagai sosok perancang pembangunan yang andal dan berkelas dunia. "Beliau memiliki andil besar bagi pembangunan bangsa," katanya.

Sebagai ekonom yang menggunakan pendekatan demografi untuk ilmu ekonomi, Widjojo pun dekat dengan sejumlah perwira di Angkatan Darat, termasuk Soeharto. "Bersama tim ekonomi bentukannya, mereka sering disebut Mafia Berkeley oleh para pengkritiknya, namun Widjojo lebih bersikap seperti halnya peribahasa - anjing menggongong, kafilah berlalu,? kata pria berusia 84 tahun itu kepada Taufiqurrohman dari GATRA.

Meski mengaku dekat secara pribadi, Kartomo mengaku ada perbedaan pemikiran antara dirinya dengan Widjojo, yang lebih menganut aliran teori pembangunan. Keberadaan Widjojo dalam lingkungan kekuasaan membuat ide, pemikiran dan paradigmanya menjadi lebih mudah diimplementasikan dalam sebuah kebijakan pemerintahan pada rentang waktu yang relatif panjang. "Pemikirannya tidak lepas dari ekonom dunia asal Estonia, Ragnar Nurske, yang menekankan peningkatan investasi untuk menggenjot pembangunan ekonomi," ujar Kartomo.

Pembangunan yang kontinu melalui program pelita hingga tahap kelima merupakan implementasi dari pemikiran Widjojo. Untuk menopang pembangunan berkelanjutan dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan stabilitas baik ekonomi dan politik-keamanan. Paradigma ini cocok pada sosok kepemimpinan Soeharto. Namun, model tersebut, menurut Kartomo tidak bisa diteruskan karena konstelasi kekuatan dunia berubah setelah bubarnya Uni Soviet.

Zaman sudah berubah. Kini orientasi dan kondisi ekonomi global sudah berbeda jauh sehingga menurut Kartomo ada pemikiran Widjojo yang sulit untuk diterapkan. Separo lebih dunia berpaham liberal. "Paham liberalisme meminta peran dan intervensi negara seminimal mungkin, jadi sangat bertolak belakang dengan pemikiran Widjojo," katanya. Apalagi kini DPR juga menjadi lebih menentukan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi maupun politik. 

Dalam hal kebijakan ekonomi, harus diakui Widjojo adalah sosok yang mau memahami dinamika riil di lapangan. Hal itu nampak dari kesediaan beliau untuk mendengarkan saran-saran dari kalangan industri dan dunia usaha sepanjang hal itu benar dan tepat.

Di mata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas, Armida Salsiah Alisjahbana, sosok Widjojo Nitisastro, apabila dilukiskan, bisa dikatakan dalam lima kesan. Pertama, ia adalah sosok konsisten dalam pemikiran, dan detil dalam konteks perencanaan pembangunan. Kedua, sosok pekerja keras yang tidak kenal lelah. "Tanpa pamrih, benar-benar mencurahkan tenaga dan pikirannya," ungkap Armida.

Ketiga, sosok teladan di dalam pemimpin suatu tim yang sangat efektif. Keempat, sosok yang sangat low profile dan banyak bekerja sehingga tanpa bicara pun orang tahu bagaimana gagasan dan hasil kerjanya. "Dan kelima, beliau sosok yang memiliki jiwa pendidik yang bagus hingga akhir hayat," katanya kepada Muhammad Gufron Hidayat dari GATRA, Selasa lalu.

Sumbangsihnya untuk negara dan bangsa bisa dilihat di 15 tahun pertama Orba. Sistematisasi, perincian, dan pengisian perencanaan pembangunan dalam tahapan-tahapan pembangunan hingga implementasinya meletakkan fondasi yang kuat untuk sebuah negara berpenduduk sekitar 160 juta, yang secara ekonomi telah lumpuh. Setelah itu Widjojo berada di balik layar sebagai penasehat ekonomi presiden.

Meksipun kondisi Indonesia dan global telah berubah, namun menurut Armida pemikiran Widjojo mengenai fokus-fokus pembangunan pada ketahanan pangan, energi, infrastruktur, pembangunan daerah, dan sistematika dari perencanaan secara bertahap masih relevan. "Perhatian pada program peningkatan sumber daya manusia dan pemerataan pembangunan tidak bisa diabaikan begitu saja," ungkapnya.

Meskipun sudah tidak mengajar aktif, namun perhatian Widjojo kepada mahasiswa sangatlah besar. "Cara beliau mengirim fotokopi artikel di Far Eastern Economic Review melalui amplop coklat kepada kami untuk dibahas adalah sangat khas," ungkap Armida. Kesan lain yang selalu diingat Armida adalah analisis, prediksi dan pemikiran Widjojo yang selalu kontemporer.

Saat diskusi soal perekonomian dan pandangan mengenai pengembangan SDM di kampus, Widjojo sempat mengingatkan bahwa krisis ekonomi di Thailand bisa terjadi di Indonesia. "Itu saya tidak akan lupa. Lalu, pada bulan September Indonesia mengalami krisis," kenangnya.

Menurut Armida, untuk mengenal jejak pemikiran Widjojo, generasi selanjutnya dapat membaca dua buku yang sangat bernilai. Pertama buku berjudul "Pengalaman Pembangunan Indonesia" yang terbit tahun 2010. Isinya kumpulan tulisan dan uraian Widjojo. Kedua, buku yang ditulis oleh 55 sahabatnya mengenai sosok Widjojo yang ditulis antara tahun 1996-1997 untuk mengenang 70 tahun usianya. Uniknya, buku itu baru bisa terbit hampir sepuluh tahun kemudian.

G.A. Guritno, Bernadetta Febriana, dan Birny Birdieni

(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/19, terbit Kamis tanggal 15 Maret 2012) 

Sumber: Arsitek Tanpa Pamrih (Gatra News, 15 Maret 2012 02:29 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons