Senin, 19 Maret 2007

Bom Bali, Poso, dan Ambon: Clash Of Civilization!

Bung Karno (BK) adalah tokoh internasional, tidak hanya nasional. BK, sebagai manusia yang tergolong jenius, mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah: non blok, mandiri (berdikari: berdiri diatas kaki sendiri), bhineka tunggal ika (menghargai pluralisme), berazas Pancsila, dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Bersama RRC dan India (sahabat2 BK), mereka sanggup membuat dunia terkejut dengan gerakan non blok yang diawali dari konferensi Asia Afrika di Bandung. Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan pengkianatan terhadap negaranya sendiri, menusuk BK dari belakang, dengan cara melakukan konspirasi jahat bersama USA (via CIA+mafia Berkeley+mafia West Point, mohon baca artikel yang lain). Saat meletus G30S ditahun 1965, Indonesia dijadikan ajang pertempuran ideologi besar dunia, antara USA dkk (kapitalis) vs. Rusia dkk. (komunis), yang menang USA; sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia. Sejak saat itu, Indonesia menjadi negara boneka USA. Sebagai pemenang, regim militer dibawah Soeharto beserta USA dkk., menjadi kelompok yang paling menikmati kekayaan negara ini, dari Sabang hingga Merauke, dari gas alam di Aceh (LNG Arun) s/d Free Port di Irian, dan ini berlansung sejak 1965 s/d 1998 (32 tahun)! Maka boleh dikata sepertiga kekayaan bangsa telah jatuh ketangan asing, sepertiga jatuh ke regim Soeharto (militer + kroninya) di pusat Jakarta, hanya sepertiga untuk rakyat Indonesia.

Lamakelamaan Suharto mulai sadar bahwa negara RI telah ia gadaikan ke USA dkk., dan telah diperas habis2an oleh mereka. Seperti Sadam Husein dan Osama Bin Laden, Soeharto juga ingin melepaskan diri dari tekanan USA. Ketika itu regim ORBA juga sudah diambang kejatuhan akibat tekanan reformasi. Untuk melawan USA dan kaum reformis, maka strategi terjitu adalah politisasi agama (dalam hal ini agama Islam). Maka Suharto lalu mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian Soeharto dan para kroni naik haji, Soeharto menjadi Haji Muhamad Soeharto, Bob Hasan menjadi Haji Muhamad Hassan, sedangkan mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi sepulang dari Arab lalu memakai jilbab. Disamping itu, regim ORBA juga mendirikan ICMI dan memperkuat barisannya di MUI. Mulai sekitar 1990, boleh dikata Indonesia telah dialihkan dari ideologi Barat ke ideologi Timur Tengah (negara2 Arab).

Usaha regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) ternyata dapat digagalkan. Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.) namun gagal, kemudian terlanjur dimasukan mulut buaya (Timur Tengah). Regim Soeharto hingga kini memang selamat-sehat walafiat berkat politisasi uang dan agama; namun dengan efek sampingan yang parah sekali: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama.

Akibat strategi “save exit” Regim Orba yang sukses diatas, negara Timur Tengah seperti mendapat angin! Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Timur Tengah) untuk mendominasi kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, bahkan menjadi begitu kuat dan begitu vulgarnya. Mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG) adalah terbatas umurnya, diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak hanya sekitar 15 tahun lagi, disamping itu penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya, maka negara2 TIMTENG harus berjuang cepat dan sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa dari alternatip lain, strategi termudah adalah politisasi agama Islam (mirip Soeharto dan Osama Bin Laden), sebab agama Islam, budaya Arab, dan bahasa Arab adalah sumber devisa dimasa depan yang menarik, misalnya melalui touristm berbasis agama alias ibadah haji, pendidikan agama dan kebudayaan berbasis Arab, dst. Dampak gelombang politisasi agama Islam dari negara TIMTENG/Arab sangat terasa sekali dengan banyaknya pergolakan di: Thailand selatan, Philipina, Afganistan, dan Indonesia (Ambon, Poso, Tangerang, Jawa Barat, dst). Di Indonesia, hal ini mudah dirasakan dengan terusiknya pluralisme atau Bhineka Tunggal Ika. Beberapa mahasiswapun ikut terbuai gerakan untuk mendirikan negara Islam Indonesia (NII); mereka berhasil di cuci otak dan dibaiat (sumpah) lalu menjadi mabok agama; nalar intelektual para mahasiswa ini bagaikan lenyap diterpa badai gurun Sahara! Tanpa merasa malu dan asing, mereka menjiplak persis budaya Arab, lalu mereka melupakan budaya sendiri! Beragama yang baik harus tetap secara bijak, nalar dan logik, harus dapat membedakan antara agama dan kebudayaan (sebagai pembungkusnya)! Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika.

Sayang sekali, CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama, kurang atau tidak dipahami oleh kaum cerdik-pandai terutama sivitas akademisi di PTN2 TOP, sepertinya banyak dari mereka yang justru terlibat, mungkin dikarenakan mabok/mendem agama – sehingga nalar menjadi sirna. Dar…der..dor…blung…bum, bunyi bom dan bedil dimanamana; dengan cukup Nordin Top, Basyir, Habib Riziq, dkk., mereka (negara asing) mampu mengobrak-abrik Indonesia dengan bebas dan perkasa, seolah-olah bangsa ini sudah tidak ada kejantanan dan wibawanya lagi. Polisi tak berkutik, sebab ada ‘militer hijau’ yang melindunginya. Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2007), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya! Visi-misi Bung Karno, yang non blok dan cinta budaya sendiri, seperti India dan RRC (negara sahabat BK, yang saat ini sedang menginjak menjadi negara adidaya), untuk menjadi negara yang mempunyai kepribadian sendiri dan mandiri, saat ini hanya tinggal kenangan… Indonesia sampai detik ini (2007) sekedar menjadi ajang pertempuran ideologi asing… Sungguh sayang seribu sayang. Dimanakah nalar, nurani dan kebijaksanaan bangsaku?

Anda punya solusi? Tolong sampaikan pada kami. Terima kasih.

Sumbangan dari Forum Religiositas Agama di Yogyakarta dan Bali.

Sumber: Bom Bali, Poso, dan Ambon: Clash Of Civilization! (hatinurani21.wordpress.com, 19 Maret 2007 06:21 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons