Monday, October 17, 2011

Camilla Vallejo, Kartini dari Chille


Selama beberapa bulan terakhir, media massa internasional cukup banyak memberitakan demonstrasi yang terjadi di Chille. Bukan saja karena ini adalah aksi massa terbesar di Chille setelah era Agusto Pinochet, tetapi juga karena aksi ini dipimpin oleh seorang mahasiswi cantik bernama Camila Vallejo, Presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile (FECh), yang merupakan salah satu organisasi mahasiswa tertua di Chile. Koran Inggris, The Guardian, bahkan aksi ini adalah yang terbesar selama 20 taun terakhir seantero Amerika Latin. "Sejak masa Subcomandante Marcos dari Zapatista, belum pernah lagi Amerika Latin terpesona dengan seorang pemimpin perlawanan". Tidak seperti para tokoh oposisi lain pada umumnya di Amerika Latin yang menggunakan topeng, cangklong, ataupun senjata, Vallejo terkenal karena anting kecil dihidungnya, selain memang kemampuan orasinya yang mampu menyihir ribuan rakyat Chille.

Dari awalnya demonstrasi kecil di dekat kampus, aksi-aksi mahasiswa Universidad de Chile bersama sejumlah mahasiswa universitas lain menggelembung menjadi aksi massa nasional. Sejak Mei hingga Oktober 2011, terdapat sedikitnya 300 demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa tersebut. Dari yang tadinya 'hanya' diikuti sekitar 150.000 mahasiswa, bertambah menjadi ratusan ribu orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga kelas pekerja. Dari sekadar isu sederhana meminta pendidikan gratis, demonstrasi kemudian membesar hingga ke tuntutan mundur Presiden Sebastian Pinera. Tidak tanggung-tanggung, hasilnya adalah pemecatan Kepala Kepolisian Chille dan salah seorang di Kementrian Kebudayaan akhirnya dipecat, sehingga membuat Presiden Pinera mengundangnya secara langsung untuk bernegosiasi. 


Kebijakan privatisasi pendidikan telah dilakukan sejak era Pinochet, dan diteruskan oleh Presiden Pinera, sehingga banyak merugikan rakyat miskin yang tidak mampu untuk mengakses pendidikan tinggi. Daily Beast menulis, gelar sarjana adalah milik elite, dan angka pelajar putus sekolah mencapai 52 persen. Oleh karena itu, Vallejo, sebagai perwakilan mahasiswa, menolak penambahan anggaran untuk pendidikan dan beasiswa, dalam diskusinya dengan Menteri Pendidikan Chille. Vallejo menginginkan tuntutan yang lebih mendasar, yaitu penghentian agenda privatisasi pendidikan dan di sektor lainnya. Seperti dikutip Daily Beast, “Tindakan ini bagus, namun bukan perubahan struktural," kata Camila sambil menghisap sebatang rokok. "Kami ingin mengubah model pembangunan." 

Tawaran dari pemerintah Chille yang cenderung tambal sulam dalam mengatasi masalah pendidikan, membuat Vallejo mengambil langkah lain. Layaknya seorang Kartini yang memperjuangkan akses pendidikan, Vallejo dan teman-temannya tidak kehabisan akal dan terus berjuang. Kini sedang merancang sebuah plebisit nasional. Sekalipun presiden menolak, jika rakyat Chile mayoritas mendukung perlunya sebuah plebisit nasional, maka tentu ini akan menjadi pukulan telak kepada pemerintah.

Sebuah jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Adimark menyebutkan bahwa 79% responden setuju dengan proposal mahasiswa untuk melakukan plebisit.


Plebisit ini akan memberikan hak kepada setiap warga negara Chile yang sudah berusia 14 tahun ke atas untuk menentukan masa depan pendidikannya. Mereka akan memberikan jawaban atas tiga point pertanyaan: (1) Apakah responden setuju dengan tuntutan pendidikan berkualitas, pendidikan gratis di semua jenjang, dan didanai oleh negara? (2) Apakah responden setuju dengan tuntutan manajemen pendidikan yang terdesentralisasi di pemerintah kota? (3) Apakah responden setuju untuk menolak privatisasi sistem pendidikan publik?

Pemungutan suara akan diorganisir oleh mahasiswa via online dan institusi-institusi publik di seluruh negeri. Lebih jauh lagi, jika plebisit ini berhasil dan mendapat dukungan rakyat, bukan tidak mungkin gerakan mahasiswa akan punya ‘legitimasi” untuk mengajukan referendum konstitusi guna mengubah pasal yang membolehkan pendidikan dikelola melalui mekanisme pasar. 

***


Jalan-jalan di kota Santiago, ibukota Chile, penuh sesak dengan barisan panjang mahasiswa, buruh, dan aktivis gerakan sosial. Sudah sebulan lebih mahasiswa dan rakyat menentang rencana privatisasi pendidikan.

Sesekali, dalam bagian aksi yang lain, terlihat sejumlah mahasiswa terlibat pertempuran dengan polisi. Polisi berusaha membubarkan aksi protes mahasiswa dengan semprotan air dan tembakan gas air mata. Sebaliknya, mahasiswa memberikan perlawanan yang tak kalah hebatnya: lemparan batu, memasang barikade, hingga bom Molotov.

Di tengah-tengah aksi protes, tampak seorang perempuan cantik dikerubuti oleh wartawan. Perempuan cantik itu bernama Camila Vallejo. Dia adalah Presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile (FECh). Rambutnya panjang agak berombak. Dan, seperti kebanyakan anak muda lainnya, Ia menindik hidungnya.

Nama lengkapnya ialah Camila Antonia Amaranta Vallejo Dowling. Lahir di Santiago, Chile 28 April 1988, dari pasangan Reinaldo Vallejo dan Mariela Dowling. Keduanya adalah anggota Partai Komunis dan anggota Chillean Resistance pada masa rezim diktator Augusto Pinochet. Komandan Camila, begitu panggilannya, adalah Presiden Ikatan Mahasiswa Universidad de Chile, universitas paling berpengaruh di negeri tetangga Argentina itu. Tercatat sebagai mahasiswa jurusan Geografi, Vallejo yang terlahir dalam keluarga yang kental dengan tradisi gerakan, langsung terpilih sebagai konselor FederaciĆ³n de Estudiantes de la Universidad de Chile (FECh, Student Federation of the University of Chile) pada 2008, dan kemudian terpilih sebagai presiden pada 2010. Ia adalah perempuan kedua yang menduduki jabatan presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile. Pendahulunya adalah Marisol Prado, seorang militan komunis, yang menjabat antara tahun 1997-1998.


Kecantikan Camila Vallejo di tengah gelombang aksi massa menjadi sorotan dunia, bahkan menghiasai media-media mainstream barat. Para wartawan menjulukinya “La Pasionaria” (semangat) dari Chili, julukan yang sebelumnya juga diberikan kepada pejuang perang rakyat Spanyol, Dolores Ibarruri. Sementara Guardian Inggris menyebutnya “Komandan Camila” dan “Pahlawan Rakyat dari Amerika Latin.”Tetapi pemimpin muda karismatik ini mengaku tidak terpengaruh. Camila Vallejo tidak terseret pada gaya “selebritisme” media massa itu. Ia memilih tetap konsen terhadap perjuangannya. "Selama bertahun-tahun, anak muda Chile telah menjadi korban model neoliberal yang mengagungkan konsumerisme dan pencapaian personal. Semua tentang saya, saya, saya. Tak ada banyak empati untuk yang lain," kata Camila di kantornya yang dihiasi foto ukuran besar Karl Marx, ketika diwawancarai oleh sebuah media massa setempat.

Di meja perundingan pun Vallejo dikenal bak singa dan non-kompromis. Karena itu, namanya pun melonjak menjadi aktivis mahasiswa paling populer di Amerika latin saat ini. Selain pernah diundang langsung bertemu dengan Presiden Sebastian Pinera (Chile), Vallejo pernah pula diajak bertemu dengan Presiden Brazil Dilma Roussef.

Dan, karena itu, Alvaro Garcia Linera, wakil Presiden Bolivia yang pernah jadi gerilyawan Marxist itu, memuji sepenuh hati kepimpinan Camila Vallejo. “Anda perlu bicara tentang kejadian di Argentina, Brazil dan Chile….disana pemimpin muda dan cantik memimpin kaum muda dalam pemberontakan besar.” seperti dalam lagu Green Day, "...She's a rebel.. symbols of resistance!"


Sumber: Camilla Vallejo, Kartini dari Chille (Detik Forum, 17 November 2011 14:33 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons