Tuesday, February 21, 2012

Energi Yudhoyono (Lampung Post, 21 Februari 2012)

SUNGGUH berat tugas seorang Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai presiden, Yudhoyono harus mengurus negara. Pada saat yang sama, sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Yudhoyono harus mengurus partai.

Energi Yudhoyono idealnya lebih banyak tercurah untuk mengurus negara. Celakanya, belakangan ini energinya lebih banyak terkuras untuk mengurusi Partai Demokrat yang tengah dilanda prahara korupsi.

Riset lembaga monitoring media, The Founding Father House (FHH), pada 17 Maret hingga 31 Desember 2011 membuktikan hal itu. FHH yang meneliti 43.300 materi publikasi dari 11 koran, 7 televisi, dan 7 media online menunjukkan bahwa Yudhoyono paling banyak berkomentar tentang kasus Nazaruddin.

Nazaruddin ialah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang menjadi terdakwa korupsi wisma atlet. FHH menemukan di media cetak Yudhoyono berkomentar seputar kasus Nazaruddin 19 kali (6%), dibandingkan dengan komentar tentang KTT ASEAN 17 kali (5%), dan perombakan kabinet 13 kali (4%).

Untuk televisi, Yudhoyono berbicara soal kasus Nazaruddin dalam 22 tayangan (19%) dan soal perompak Somalia dalam 10 tayangan (4%). Di media online, pernyataan Yudhoyono tentang kasus Nazaruddin sebanyak 22 artikel (19%), KTT ASEAN 18 artikel (18%), dan Rakornas Demokrat 18 artikel (18%).

Di luar penelitian itu, bukti paling mutakhir bahwa energi Yudhoyono tercurah untuk partai ialah ketika dia marah besar atas rotasi Angelina Sondakh ke Komisi III DPR. Yudhoyono menilai rotasi Angie yang menjadi tersangka kasus wisma atlet ke komisi yang membawahkan hukum sangatlah tidak cerdas.

Sepintas tidak ada yang salah dengan amarah Yudhoyono itu karena dia melakukannya dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika energi amarah Yudhoyono ditujukan kepada para menteri yang tidak becus bekerja, misalnya.

Itulah yang namanya risiko rangkap jabatan. Rangkap jabatan bukan hanya mengandung risiko, melainkan sering juga membuat pemangkunya serbasalah.

Kondisi serbasalah itu pula yang dialami Yudhoyono. Ketika kasus korupsi wisma atlet yang melibatkan sejumlah kader Partai Demokrat mencuat, publik berharap Yudhoyono sebagai ketua dewan pembina partai terjun langsung menyelesaikan masalah itu.

Namun, ketika Yudhoyono turun langsung menyelesaikannya, publik menilai perhatian Yudhoyono lebih tercurah kepada partai. Penyebabnya ialah Yudhoyono dan pengurus partai tidak piawai menuntaskan persoalan korupsi yang membelit partai secara segera sehingga berlarut-larut. Makin berlarut-larut penyelesaian masalah partai, makin banyak pula waktu Yudhoyono yang tercurah untuk partai.

Semua itu mestinya menjadi pelajaran betapa dilematisnya rangkap jabatan. Sudah saatnya pejabat negara dan pemerintahan melepaskan jabatannya di partai agar energi mereka tercurah seluruhnya untuk negara.

Seorang pemimpin pernah berkata, “My loyalty to my party ends, where my loyalty to my country begins.”

Sumber: Energi Yudhoyono (Lampung Post, 21 Februari 2012 00:48 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons