Friday, March 9, 2012

Fachry Ali: Refleksi tentang Kekerasan dan Premanisme



Ada kemungkinan bagi kita menemukan perspektif dalam melihat peningkatan eskalasi aktivitas premanisme dewasa ini.

JAKARTA, Jaringnews.com - Dibandingkan dengan ribuan tulisan miliknya, catatan pinggir (caping) Goenawan Mohamad yang diterbitkan majalah Tempo pada Senin (5/3), yang berjudul ‘Berani’, tidak terlalu menarik. Akan tetapi, justru isi caping terakhir itu relevan dengan tema diskusi kita sekarang. Goenawan memang menyatakan bahwa capingnya kali ini berkaitan dengan meningkatnya aktivitas premanisme. Oleh karena itu, ia mempersoalkan usaha merumuskan definisi ‘berani’--seperti yang selalu ingin ditekankan filosof Yunani kuno Socrates. Bagi dia, usaha membuat definisi atas fakta pada esensinya adalah reduksi. Hal yang sama, terjadi pada kata ‘berani’. Dalam hal ini, Goenawan menyatakan:

Perilaku yang beragam selamanya berlangsung dalam pengalaman yang beragam, pengalaman yang kongkret. Terutama dalam Grenzsituation, ‘situasi perbatasan’, antara hidup dan mati, antara selamat dan celaka. Dalam situasi yang genting itu setiap pilihan bukan saja menyangkut cuma kesadaran, bukan cuma proses penalaran, tetapi juga endapan trauma, magma nafsu dan hasrat.

Keragaman situasi membuat perilaku dan motif di belakangnya tidak bisa digeneralisasikan. Dalam konteks inilah Goenawan memahami ‘keberanian’. Secara khusus, ia memberikan catatan:

Begitulah keberanian. Keberanian para pembajak pesawat yang menabrakkan diri ke Menara Kembar New York 11 September 2001 punya titik persamaan dengan keberanian seorang prajurit yang menubruk granat yang meledak agar teman-temannya selamat; tapi masing-masing mengandung pertimbangan, pengalaman dan hasrat yang sama sekali lain.

Dengan mengacu pada logika yang dibangun Goenawan ini, ada kemungkinan bagi kita menemukan perspektif dalam melihat peningkatan eskalasi aktivitas premanisme dewasa ini. Menjadi seorang preman, sudah tentu menunjukkan adanya sikap atau perilaku ‘berani’ penyandangnya. Akan tetapi, ‘keberanian’ itu sendiri bisa kita asumsikan tidak lahir oleh sumber atau motif yang sama.

Para penggemar musik Dangdut tentu pernah mendengar lagu ciptaan Rhoma Irama yang berjudul Darah Muda. Dalam kenyataannya, lagu tersebut adalah refleksi pengalaman Rhoma sendiri. Di dalam masa remajanya, sambil tetap bercita-cita menjadi pemusik akhir 1960-an dan awal 1970-an, Rhoma bergabung dengan kelompok anak muda yang siap berkelahi apa yang sering sebagai 'geng'. Pada masa itu memang tumbuh berbagai 'geng' di Jakarta, seperti Kenari Boys, Cobra Boys, yang saling bermusuhan satu sama lain.

Rhoma menjadi salah satu pentolan (tokoh utama) di dalam gengnya, dan karena itu acap terlibat perkelahian dengan geng lain. Walau beberapa kali memenangkan perkelahian, Rhoma pernah babak belur dalam sebuah perkelahian di Megaria, karena dikeroyok oleh lima belas lawannya. Lagu Darah Muda, dengan demikian, mengabadikan pengalaman remaja, seperti bunyi bait pertamanya: Darah Muda darahnya para remaja/Yang selalu merasa gagah/Tak pernah mau mengalah.

Jelas, bahwa dalam kasus Rhoma remaja, 'keberanian' dan 'kekerasan' terungkap secara menyatu. Akan tetapi 'kekerasan' tersebut bukan saja tidak berkembang menjadi organized crime, melainkan juga tidak berlanjut. Rhoma sendiri, seperti kita ketahui mengungkapkan pesan-pesan keagamaan di dalam lagu-lagunya--setelah sukses dengan lagu-lagu komersial. Di sini kita melihat masa 'keberanian' yang bergabung dengan 'kekerasan' tampaknya hanya merupakan persinggahan sementara.

Perubahan besar dunia politik tampaknya menjadi setting kemunculan berbagai geng anak muda itu. Yaitu ketika rezim Orde Lama di bawah Presiden Soekarno (1959-1967)--yang secara berlebihan menekankan semangat nasionalisme di dalam berbagai bidang dan 'mengharamkan' semua hal berbau asing, termasuk ekspresi budaya--berganti dengan rezim Orde Baru (1967-1998) yang lebih liberal. 'Keberanian' yang bergabung dengan 'kekerasan' pada masa Rhoma remaja bisa kita tafsirkan sebagai ungkapan 'rasa bebas' dari kungkungan politik budaya yang terlalu menekankan nasionalisme 'sempit'.

Mengacu kepada logika Goenawan Mohamad di atas, kita melihat 'keberanian' remaja tersebut tidak bisa digeneralisasikan, karena sikap itu hanya memberi respons terhadap momen perubahan sebuah politik budaya. Setting dan momen sosial-politik dan budaya--termasuk juga ekonomi--dengan demikian menjadi sangat penting diperhitungkan di dalam menganalisa gejala premanisme dan kekerasan di tengah-tengah masyarakat. Sebab, dengan memperhatikan setting dan momen itu, kita bisa menemukan premanisme, kekerasan dan keberanian yang begitu tipikal di dalamnya.

Tidak perlu menjadi seorang sejarahwan untuk mengenal Ken Arok atau Angrok. Tokoh 'preman' ini bahkan dimitoskan telah memiliki kesaktian ketika masih berada di dalam kandungan. Ketika menyetubuhi sang ibu yang sedang mengandung Ken Arok, sang ayah menemui ajalnya--yang dipercayai karena kesaktian sang calon bayi. Sang ibu, Ndok, segera membuang bayi Arok setelah dilahirkan, karena terdorong rasa takut. Petualangannya sebagai preman terjadi setelah ia dipungut oleh preman senior yang membawanya ke singgasana kekuasaan Singasari, setelah membunuh Tunggul Ametung. Kepremanan Ken Arok bukan saja menjadi salah satu simbol bahwa orang biasa bisa menjadi penguasa, melainkan juga menandai sebuah tradisi pertalian antara politik, kekuasaan dengan premanisme.

Di sini, setting dan momen telah menyebabkan premanisme, keberanian dan kekerasan menemukan framework atau kerangka perspekstif tersendiri. Maka, menjadi tidak mengherankan jika revolusi 1945-1949 telah melahirkan setting dan momen khusus untuk terciptanya panggung bagi aktor-aktor yang bisa kita identifikasikan sebagai preman. Studi Anton Lucas tentang Revolusi di Tegal, Jawa Tengah, menemukan seorang Lenggaong (bahasa lokal untuk preman) yang mengambil peran sosial di dalam masa yang penuh kecamuk itu. Walaupun lenggaong ini, yang dipanggil sebagai Kutil, sejatinya adalah preman, namun ia menggembangkan gagasan 'sama rasa sama rata' dalam distribusi kekayaan yang direbut dari tangan para pejabat selama masa Revolusi.

Di atas setting dan momen Revolusi yang sama, studi William Frederick menemukan tokoh kekerasan yang lebih brutal di Jawa Timur. Namanya adalah Zainul Sabaroeddin, sering dipanggil hanya dengan Bodin.

Lahir di Kutaradja, Aceh, pada 1922, Bodin adalah anak seorang jaksa bernama Gunung Nasution, yang bertugas di Sidoarjo pada 1928-33. Beberapa saat setelah menyelesaikan MULO (sekolah menengah atas masa Kolonial), Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Tentara Pendudukan Jepang pada 1942. Sebagai remaja, Bodin terpanggil untuk bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air). Maka, ketika Revolusi Nasional berkecamuk, Bodin menjadi salah satu yang paling siap dengan konflik militer. Di dalam studi William Frederick itu ditemukan bahwa Bodin lebih senang membangun pasukan tersendiri yang terdiri dari berbagai orang dengan perangai kasar. Di dalam situasi di mana ia mendapatkan kesempatan kekuasaan dalam setting dan momen Revolusi inilah ia melakukan tindakan kekerasan. Selain membunuh R. P. Suryoatmodjo, menantu bupati Sidoarjo, ia melakukan serangkaian pembunuhan terhadap orang-orang Belanda sipil--bahkan mereka yang telah berada di dalam penjara kaum Republik. Ia juga membunuh seorang tentara Inggris keturunan India. Dan untuk memuaskan nafsunya, Bodin membangun harem tersendiri dengan mengumpulkan perempuan-perempuan mulai dari etnik Jawa, Sunda, Cina dan Eropa.

Premanisme, kekerasan dan keberanian, dengan kasus-kasus di atas, menuntut kita melihat gejala tersebut pada akar-akar yang spesifik. Dalam arti, seperti logika Goenawan Mohamad di atas, akan menjadi sia-sia jika kita melihat makna konseptualnya dengan cara menggeneralisasikannya.

Mungkin, dengan sikap intelektual yang sama kita juga harus melihat eskalasi kekerasan dan premanisme dewasa ini. Yaitu melihat gejala ini dari sebuah pertanda tentang perubahan. Saya ingat rumusan Robert Cribb tentang Revolusi Indonesia 1945-49 itu sebagai refleksi dari diskrepansi (ketidakcocokan) struktural. Dalam hal ini Cribb menulis:

There is a broad scholarly consensus today that Indonesian revolution was essentially an artefact of Dutch colonial rule, that it was a product of social, economic and intellectual changes wrought by the colonialism in the Indonesian archipelago. This transformation gave society and politics a new form and new problems to which people sought new solutions, one of the most important of which was independence, in the form of the Indonesian Republic. Many have suggested that independence as it was ultimately obtained may not have been as much of a solution as was originally expected, but the assumption remains that the revolution was, or at least could have been, a new phenomenon in Indonesian history.

Studi Robert Cribb ini memang melihat bagaimana para gangsters (preman) menyatu ke dalam perjuangan kemerdekaan di Jakarta. Akan tetapi, paragraf yang saya kutip di atas tampak lebih menarik sebagai sebuah sarana berefleksi. Bahwa, jika Revolusi Nasional 1945-49 tersebut adalah produk gerakan rakyat untuk mencari pemecahan baru akibat ketidakcocokan struktural dari perubahan-perubahan sosial-politik dan ekonomi yang diperkenalkan kolonial Belanda--seperti tertera dalam paragraf Cribb di atas--maka dapatkah kita mengambil perspektif ini untuk memahami pasangnya premanisme dan kekerasan dewasa ini? Bahwa proses demokratisasi, perubahan-perubahan sosial-politik dan ekonomi yang terjadi dewasa ini telah menimbulkan kesadaran baru dari berbagai kelompok masyarakat untuk menyatakan diri secara terbuka, di mana kaum preman dengan tradisi kekerasan membonceng di dalam proses itu?

Penulis

Dr. Fachry Ali M.A
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Penasihat Ahli Kapolri.

Sumber: Fachry Ali: Refleksi tentang Kekerasan dan Premanisme (Jaring News, 9 Maret 2012 13:25 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons