Tuesday, April 10, 2012

Harga Sembako Tak Kunjung Turun

JAKARTA (Suara Karya): Meski harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak jadi naik, namun harga sejumlah bahan pangan pokok dan kebutuhan penting lainnya tetap membubung tinggi dan tidak ikut "batal" naik seperti harga BBM.

Untuk itu, pemerintah diminta melakukan penindakan terhadap distributor dan pedagang besar maupun melakukan intervensi pasar. Apalagi jelas-jelas masalah harga sembako yang masih di kisaran tinggi ini terjadi akibat ulah spekulan yang mempermainkan stok, pasokan, dan harga barang yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Sudah seharusnya pemerintah mengatasi dampak psikologis dari rencana kenaikan harga BBM bersubsidi yang memicu gejolak harga sembako di berbagai wilayah di Tanah Air.

Rangkuman pendapat ini disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo dan ekonom Universitas Diponegoro (Undip) FX Sugiyanto secara terpisah di Jakarta dan Semarang, Senin (9/4).

"Pemerintah harus bertanggung jawab atas masalah kenaikan harga pangan dan barang yang sudah telanjur naik akibat kisruh rencana kenaikan harga BBM. Masalah ini sudah sangat membebani masyarakat. Pemerintah harus melakukan intervensi agar harga bahan pokok kebutuhan masyarakat bisa kembali normal," kata Firman Subagyo.

Menurut dia, pemerintah dan instansi terkait harus bisa memberikan sanksi tegas terhadap distributor, agen, dan pengecer nakal yang tidak mau menurunkan harga barang yang dijualnya. Apalagi tidak ada alasan kuat bagi mereka untuk menaikkan harga bahan pangan yang jadi kebutuhan pokok masyarakat. Langkah tegas tetap diperlukan seiring dengan dilaksanakannya upaya untuk menurunkan harga barang di pasaran, baik melalui operasi pasar maupun pasar murah.

Selain itu, Firman juga mengingatkan, agar pemerintah lebih berhati-hati dalam mengumumkan rencana pelaksanaan suatu kebijakan. Apalagi yang berhubungan langsung dengan kepentingan serta nasib masyarakat banyak.

"Walaupun akhirnya tidak ada kenaikan harga BBM, tapi spekulan-spekulan sudah memanfaatkannya sebagai alasan untuk menaikkan harga barang. Orang-orang seperti ini yang harus ditindak tegas pemerintah," ujarnya.

Jika dibiarkan, menurut anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar ini, bisa dipastikan harga bahan pangan kebutuhan pokok akan tetap bertahan tinggi. Bahkan, perekonomian masyarakat kurang mampu dari golongan petani, nelayan, buruh, dan pekerja musiman akan makin terpuruk.

"Apalagi dalam beberapa bulan ke depan, masyarakat juga dihadapkan pada beban ekonomi yang makin berat. Musim penerimaan siswa baru sekolah pada Mei-Juni 2012 hingga bulan Puasa serta Lebaran pada Juli-Agustus 2012 merupakan masa-masa tersulit bagi masyarakat," tuturnya.

FX Sugiyanto mengatakan, harga barang sembilan bahan pokok (sembako) yang sudah telanjur naik akan sulit turun. "Ini semua akibat dampak psikologis atas rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi," katanya di tempat terpisah.

Ia berpendapat, keputusan pemerintah yang mengambang--belum jelas kapan akan menaikkan harga BBM bersubsidi--mendorong psikologi pasar untuk langsung merespons dengan menaikkan harga barang-barang, khususnya yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Akibatnya, harga menjadi sulit turun kendati harga BBM tidak jadi naik.

Penundaan keputusan kenaikan harga BBM itu, kata dia, hanya mendorong ketidakpastian dalam perekonomian nasional. Sebab, harga bahan kebutuhan pokok dan barang lainnya justru lebih dulu naik untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM serta sulit turun meski kenaikannya ditunda.

"Saya perkirakan, jika kelak pemerintah jadi menetapkan kenaikan harga BBM bersubsidi, pasti harga kebutuhan pokok maupun harga barang-barang lainnya bakal terlecut kembali hingga dua kali lipat," ujar dia.

Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang, Senin (9/4), harga gula pasir dan minyak goreng terkerek Rp 1.000 per kilogram (kg). Di Pasar Karangayu, harga gula pasir naik dari Rp 10.500 menjadi Rp 11.200 per kg. Minyak goreng dari Rp 10.500 menjadi Rp 11.000 per kg. Kenaikan sudah berlangsung sejak sepekan lalu.

Sedangkan untuk sayur, kenaikan harga tertinggi dialami cabai rawit merah. Di Pasar Johar, sepekan lalu harga masih berkisar Rp 27.500 per kg, saat ini sudah dipatok Rp 35.000 per kg. Cabai merah keriting naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 16.500 per kg, sedangkan cabai teropong dari Rp 12.400 naik menjadi Rp 16.500 per kg.

Di Pasar Wage Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, harga cabai rawit merah terus melonjak drastis hingga mencapai Rp 60.000 per kg. Pada dua pekan sebelumnya, cabai rawit merah dijual Rp 20.000 per kg. Seorang pedagang cabai, Eti (46), mengatakan, kenaikan harga cabai merah diakibatkan minimnya pasokan dari petani. "Saya biasanya dipasok dari Pemalang dan Wonosobo. Namun, dalam beberapa hari terakhir, pasokan merosot tajam sehingga harganya melonjak," tuturnya.

Karena harganya yang melonjak tinggi, kata dia, maka konsumen pun mengurangi konsumsi cabai rawit merah. "Biasanya dalam sehari saya bisa jual cabai merah 20 kilogram, saat ini hanya lima hingga tujuh kilogram saja," ucapnya.

Bahkan, tingginya harga cabai rawit merah mengakibatkan pedagang eceran tidak berani menjual komoditas tersebut. Wati (30), seorang pemilik warung eceran, mengaku dalam empat hari terakhir ini tidak berani menjual cabai rawit merah.

Di sisi lain, para pedagang pengecer umumnya masih menjual beras pada harga tinggi dengan alasan harga barang banyak yang naik, pasokan dari pabrikan berkurang, dan faktor cuaca hujan yang menghambat pengeringan gabah yang akan digiling. (Bayu/Pudyo Saptono)

Sumber: Harga Sembako Tak Kunjung Turun (Suara Karya, 10 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons