Monday, November 19, 2001

Hubungan Militer dengan Gerakan Teror: Mengapa Maulani Begitu Emosional?

Hilversum, Selasa 20 November 2001 07:15 WIB

Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh suatu berita yang mensinyalir kuat keterlibatan TNI dalam sejumlah aksi pengeboman. Karenanya, kemarin, Graito Husodo, Kapuspen ABRI, merasa perlu untuk meluruskan hal tersebut. Dalam siaran persnya yang ditayangkan oleh sejumlah media massa, ia mengatakan bahwa pihak TNI akan membongkar dan menyeret oknum TNI yang terlibat dalam pelbagai teror tersebut.

Pihak Polri besok akan memanggil Al Chaidar, sumber utama yang mengungkapkan keterlibatan faksi TNI dan faksi-faksi Darul Islam dalam aksi terror bom yang marak di Indonesia belakangan ini. Di samping membongkar keterlibatan TNI, Al Chaidar juru bicara Darul Islam dalam siaran persnya menyatakan aksi terror bom yang marak terjadi belakangan ini 90% kasus pemboman di tanah air ditenggarai dilakukan oleh kelompok Darul Islam dari faksi garis keras. Di mana mereka sangat terlatih secara militer dan berani mati untuk tujuannya. 

Dijelaskannya dalam DI sendiri ada 14 faksi. Faksi satu sampai enam merupakan faksi garis keras, faksi sisanya anti kekerasan. Dari faksi satu sampai enam, faksi satu sampai tiga punya hubungan dengan Mujahidin Internasional. Faksi ini yang ditenggarai kerap melakukan pemboman di tanah air, termasuk yang melakukan rangkaian bom Natal tahun lalu. Bom di GPIB Petra dan bom di sekolah internasional Australia awal Nopember lalu. Sementara 3 faksi garis keras sisanya, sejak lama memiliki jaringan dengan intelejen militer. Mereka sering melakukan tindakan teror, dan tindakan kriminal dengan membawa bahan peledak. Bentuk kerjasamanya sangat personal. Jadi dalam istilah sehari-hari dikenal dengan order, atau semacam pesanan. Itulah yang mau diputuskan oleh Al Chaidar dan kawan-kawannya. Maksudnya supaya jangan terjadi lagi hal-hal seperti itu. Lebih jauh Al Chaidar mengungkapkan bahwa bukan tidak mungkin Natal tahun 2001 akan diwarnai dengan pengeboman atau bentuk terror lainnya. 

Keterangan Al Chaidar mengenai salah satu faksi Darul Islam yang punya hubungan dengan intelijen militer, memang yang paling menarik bagi masyakat politik di Jakarta. Sejak lama memang sudah beredar isyu bahwa pihak tentara menggunakan orang Islam garis keras untuk menumbuhkan pertentangan antar golongan agama. Sementara jenderal ketika Habibie berkuasa berkepentingan agar timbul konflik di Indonesia, khususnya di daerah-daerah. Saat itu suasana keamanan yang rusuh akan menguntungkan posisi Habibie maupun Wiranto, apalagi waktu itu Wiranto tengah membidik kursi wakil presiden. 

Ketika Gus Dur menggantikan Habibie sebagai presiden posisi nya senantiasa berseberangan dengan perwira intelejen dan kelompok militer pro Orde Baru. Apalagi ketika Gus Dur memberhentikan Wiranto dan menyetujui digelarnya pengadilan HAM bagi beberapa perwira. Suasana perpolitikan dan keamanan di Indonesia langsung digoncang oleh aksi terror bom. Yang menjadi pertanyaan sekarang mengapa perlu ada pengeboman lagi sementara militer sepenuhnya mendukung pemerintahan Megawati. Sehingga tidak diperlukan 'pemanasan' untuk merusak citra pemerintahan Megawati seolah-olah tidak mampu menjaga stabilitas keamanan. Mungkinkah faksi DI tersebut dimanfaatkan oleh sekelompok faksi militer dari sayap lain? 

Yang juga menjadi pertanyaan siapa yang memberi instruksi kepada Al Chaidar untuk membongkar keterilibatan TNI dan faksi-faksi garis keras DI? Bila benar motivasi Al Chaidar memblejeti semua itu murni keinginannya sendiri tanpa didukung pihak militer atau polisi, mengapa ia mau membuka tabir yang sangat beresiko itu? Dan mengapa pula mantan Ka Bakin Z.A. Maulani yang dekat dengan Habibie, merespon pernyataan Al Chaidar dengan sangat emosional? Bahkan ada yang mengatakan Maulani seolah-olah kebakaran jenggot. Mantan Ka Bakin ini berusaha keras untuk mengecilkan peran DI yang dikatakannya sudah hancur. 

Seorang tokoh DI tua membenarkan keterangan Al Chaidar. Tokoh tua itu mengatakan bahwa ia dan teman-temannya sudah merasa tidak mampu lagi berjuang di hutan dan masuk penjara selama belasan tahun. Kini saatnya untuk berjuang secara konstitusional dan parlementer. Dia dan teman-temannya sudah merasa lelah bila selalu harus masuk dalam daftar pencarian orang. Al Chaidar sendiri mengakui apa yang diungkapkannya itu beresiko tinggi, tetapi akan beresiko lebih tinggi lagi apabila tidak diungkapkan. 

© Hak cipta 2001 Radio Nederland Wereldomroep

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons