Tuesday, April 10, 2012

Indonesia Kaya Minyak dan Gas, Tapi tak Bisa Ditenggak

Islam Times - BP Migas saat ini mempunyai 274 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dari jumlah itu baru 75 KKKS yang telah berproduksi, dan dari jumlah itu baru 47 yang telah menghasilkan lifting minyak.

Rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, dengan alasan agar APBN tidak terlalu bangrut akibat membiayai impor minyak serta subsidi BBM yang terus meningkat, mengundang sejumlah pertanyaan.

Mengapa di negeri yang pernah menjadi anggota negara-negara pengekspor minyak (OPEC), menjadi ”merana” karena semakin tergantung pasokan minyak dunia, yang harganya fluktuatif. Mengapa tidak ada upaya serius agar tidak mengimpor minyak ?

Sebagian dari pertanyaan itu sudah dijawab pemerintah, dalam hal ini oleh Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Usaha Minyak dan Gas Bumi (BP Migas). Pada 2012, setiap harinya lifting minyak mentah yang diproduksi sumur minyak kita hanya mencapai 900 ribu barel. Pada 2011, rata-rata mencapai 902 ribu barel/hari.

Lifting adalah minyak hasil produksi yang dapat dijual, diolah dan digunakan sepenuhnya. Sedangkan Produksi Minyak adalah Total produksi minyak dari perut bumi Indonesia (akan tetapi sebagian dipakai untuk kegiatan eksploirasi lagi), sehingga tidak semuanya digunakan. Total produksi dikurangi minyak yang digunakan untuk eksploirasi disebut Lifting.

Meski angka menunjukkan jumlah berlimpah, namun hal itu tidak dapat memenuhi kebutuhan riil BBM bagi rakyat yang mencapai lebih dari 1,3 juta barel/hari. Untuk memenuhi sisanya, tergantung pada impor yang ujung-ujungnya membebani APBN. Terlebih lagi sebagian besar penduduk masih menggunakan BBM bersubsidi.

Banyak Sumur
Menurut Deputi Pengendali Operasi BP Migas, Rudi Rubiandini, hingga saat ini Indonesia memiliki potensi 60 ribu sumur minyak yang tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Potensi ini belum digali semuanya, sehingga belum mampu mengamankan dan memenuhi kebutuhan nasional tanpa impor.

BP Migas saat ini mempunyai 274 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dari jumlah itu baru 75 KKKS yang telah berproduksi, dan dari jumlah itu baru 47 yang telah menghasilkan lifting minyak. 

Pada tahun 2012, BP Migas merencanakan eksploirasi sebanyak 237 sumur baru yang bisa menghasilkan lifting minyak, agar bisa mencapai target produksi 950 ribu barel/hari. Kita berharap rencana ini berhasil, agar bangsa ini masih bisa lebih lama menikmati minyaknya.

Masih soal sumur, bagaimana sebenarnya kedaulatan rakyat atas sumur yang dimiliki. Bila melihat sejarah sejak zaman kolonial Belanda, ”emas hitam” ini sudah ditambang melalui sumur-sumur yang dikelola perusahaan asing secara berbagi keuntungan dengan Belanda. Jepang berhasil mengalahkan Belanda dan menguasai sumur minyak yang diolah secara besar-besaran sebagai bahan bakar peralatan perang mereka.

Setelah Jepang kalah, Indonesia tidak mempunyai dana dan teknologi untuk mengangkat minyak dari dalam perut bumi yang telah dihancurkan penjajah. Di sisi lain negara industri maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris mempunyai perusahaan minyak dan berhasil mengerjakan ladang dan sumur minyak di berbagai negara dunia.

Akhirnya pemerintah Indonesia bekerja sama dengan mereka secara sistem kontrak. Salah satu isi kontrak adalah biaya pengeluaran minyak dari perut bumi ditanggung pemerintah. Penentuan besarnya biaya tersebut yang rentan terjadi penggelembungan. Bila biaya pengeluaran sangat tinggi, maka lambat laun keuntungan pemilik sumur semakin berkurang. Begitu sumur menghasilkan minyak, maka hasilnya harus dibagi antara pemerintah dengan pemegang kontrak.

Dari sini mengundang pertanyaan, apakah sudah benar perhitungan jumlah yang dihasilkan sumur kita dan bagi hasilnya?

Di sisi lain, perusahaan asing sering tidak bisa menjual minyak kepada pemerintah sebagai pemilik sumur, karena sudah mempunyai komitmen untuk memasok kebutuhan minyak perusahaan atau pemerintah negara lain. Akibatnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri pemerintah kita harus impor minyak dari pasar internasional.

Ibaratnya kita mempunyai sumur minyak dan gas, tapi kita tidak bisa mengkonsumsi langsung. 

[IslamTimes/sa/suaramerdeka] 

Sumber: Indonesia Kaya Minyak dan Gas, Tapi tak Bisa Ditenggak (Islam Times, 10 April 2012 11:27 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons