Senin, 09 April 2012

Lampu Kuning Neraca Perdagangan

NERACA perdagangan RI masuk lampu kuning. Surplus perdagangan Indonesia terus tergerus. Sejak Agustus 2011 hingga Februari 2012, surplus perdagangan anjlok sekitar US$3 miliar. Bila pada Agustus 2011 masih US$3,76 miliar, pada Februari 2012 surplus bulanan kandas di kisaran US$700 juta.

Kinerja ekspor tidak naik signifikan, sedangkan impor melambung menjadi penyebab menipisnya surplus neraca perdagangan. Sepanjang dua bulan pertama tahun ini saja pertumbuhan ekspor 7,56%, sedangkan pertumbuhan impor mencapai 21,39%. 

Pemerintah menuding situasi pasar dunia yang tidak menentu sebagai pemicu melambatnya pertumbuhan ekspor. Impor meroket karena meningkatnya kebutuhan barang modal dan bahan baku yang mengindikasikan kuatnya pergerakan ekonomi. 

Pemerintah boleh saja mencari kambing hitam. Pertanyaannya, apa yang sudah dibuat pemerintah? Misalnya, soal ketidakpastian global. Bukankah peringatan sudah ada sejak lama? Pemerintah pun telah menggembar-gemborkan upaya diversifikasi produk dan pasar ekspor untuk mengantisipasi ketidakpastian. 

Jangan-jangan yang terjadi ialah pemerintah kalah sigap dengan negara lain dalam merambah pasar yang dituju. Atau lebih celaka, jangan-jangan Indonesia-lah yang menjadi sasaran pasar negara-negara lain. 

Dengan populasi penduduk yang mencapai lebih dari 237 juta jiwa dan kelas menengah yang meningkat, Indonesia tentunya menjadi pasar seksi bagi negara lain. 

Bank Dunia pernah menyebut 56,5% dari 237 juta populasi Indonesia masuk kategori kelas menengah. Artinya, ada sekitar 134 juta warga kelas menengah di Indonesia. Dengan magnitude itu, siapa yang tidak tergiur untuk membidik pasar Indonesia? 

Apalagi pemerintah juga sangat liberal dan agresif dalam membuka pintu impor. Yang ditangkan bukan hanya barang modal dan bahan baku yang dibutuhkan industri. Pemerintah juga membuka pintu impor lebar-lebar untuk barang kebutuhan hidup yang sesungguhnya ada dan bisa diproduksi di dalam negeri. 

Demikianlah, sayur-mayur, buah-buahan, ikan, ternak, dan bahkan garam pun didatangkan dari negara lain. Keinginan untuk membatasi jumlah pintu masuk produk impor untuk buah dan sayur pun hanya setengah hati. 

Dengan ditambah tarif bea masuk yang terbilang murah ketimbang negara lain, tidak mengherankan kalau impor membanjiri pasar negeri ini. Tarif rata-rata bea masuk Indonesia hanya 6,8%. Negara dengan perekonomian lebih maju seperti China, India, Korea Selatan, dan Brasil menerapkan tarif lebih tinggi, rata-rata sekitar 12%. 

Pemerintah seharusnya memaklumi pasar bebas bukan berarti bablas. Negara harus bisa melindungi produk domestik di pasar negeri sendiri. 

Jangan biarkan pasar kita yang molek jadi arena bazar produk bangsa lain. Surplus neraca perdagangan yang tergerus harus disikapi serius.

Sumber: Lampu Kuning Neraca Perdagangan (Media Indonesia, 09 April 2012 00:00 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons