Selasa, 03 April 2012

Lily Wahid: SBY Takut Kalau Jumlah Kita Banyak

JAKARTA, RIMANEWS - Pasca keputusan DPR yang menunda penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan memasukkan pasal 7 ayat 6a yang juga disebut pasal siluman, gerakan mahasiswa dan elemen rakyat tidak berarti mencapai antiklimaks. Namun demikian, mereka diminta lebih merapikan barisan, hingga mampu menggalang kekuatan yanfg lebih besar lagi untuk menghentikan rezim SBY-Boediono yang telah gagal menyejahterakan rakyat.

Demikian mengemuka dari diskusi bertema “Perlawanan Rakyat: Ketidakpercayaan kepada Pemerintah dan Elit Politik” yang diselenggarakan Rumah Perubahan 2.0, Selasa (3/4). Diskusi menghadirkan anggota F-PKB Lily Wahid, Pengamat Revolusi Mesir Zuhairi Misrawi, pengamat politik UI Iberamsjah, dan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi.

Menurut Lily Wahid,  telah banyak bukti, bahwa SBY takut kalau penentangnya berjumlah banyak. Reaksi pemerintah terhadap berbagai aksi menentang rencana pemerintah menaikkan harga BBM beberapa hari lalu, menunjukkan SBY panik dan ketakutan. Itulah sebabnya dia merasa perlu mengerahkan TNI untuk menghadapi demonstran. Polisi saja dianggap masih belum cukup.

“Tapi walau begitu, kita harus tetap dan terus mengorganisir barisan agar lebih banyak dan kuat lagi. SBY takut kalau jumlah kita banyak. Tanpa barisan yang terorganisir dengan baik, sulit melawan SBY. Meskipun mereka bathil, karena mereka teroganisir, maka mereka jadi kuat,” ujar Lily.

Bukan antiklimaks

Mantan Ketua Ikatan Alumni UI (Iluni) Harijadi Darmawan yang didaulat untuk bicara juga punya pandangan sama. Justru pada aksi 30 Maret itu semua pihak, termasuk mahasiswa dan rakyat, terkejut. Ternyata, mereka masih punya kekuatan yang mencengangkan untuk melawan pemerintah yang menyengsarakan rakyat.

“Tapi kita harus belajar dari 1998. Gerakan ini tidak boleh diserahkan kepada orang­-orang tertentu yang ternyata bandit. Biarkan anak-anak muda yang bergerak dan memimpin perjuangan,” katanya.

Sementara itu, Iberamsjah berpendapat robohnya pagar DPR/MPR yang sangat kokoh itu, lanjut dia, menjadi perlambang rakyat tidak mau lagi dibelenggu. DPR sudah lama tidak lagi menjadi rumah rakyat. DPR lebih banyak berfungsi sebagai perwakilan partai yang telah berkhianat terhadap amanat rakyat.

“Kalau amanat sudah dikhianati oleh pemerintah, maka rakyat bisa menarik kembali kepercayaan itu. Saya sering merasa aneh, SBY yang katanya sangat mencintai rakyat, ternyata dia tidak peduli dengan darah dan air mata rakyatnya. Dia malah lari keluar negeri. Lebih aneh lagi, SBY kok justru mengerahkan TNI untuk menghadapi rakyatnya sendiri. Ini jelas melanggar Undang-undang ,” kata Iberamsjah.

Dia juga menolak anggarapan sebagian kalangan, pasca aksi 30 Maret, people power telah kehilangan momentum untuk menjatuhkan SBY. Menurut dia, walau harga BBM tidak jadi naik, rakyat sudah tetap tertindas oleh harga-harga yang telanjur dan terus naik. Rakyat masih menunggu saat yang tepat untuk kembali bergerak.

Pendapat senada datang dari Adhie. Dia mengatakan massa memang tidak menyerbu masuk ke gedung DPR kendati telah berhasil menjebol pintu gerbang. “Kami mencium ada upaya aborsi oleh aparat keamanan. Kalau hari itu kami masuk, pasti akan disikat habis. Saat itu saya sudah di dalam DPR, di sana sudah ada TNI yang bersenjata lengkap dan tidak mungkin dilawan massa sipil,” ungkapnya.

Terkait dengan hal itu, Zuhairi melihat tanda-tanda kejatuhan SBY sudah semakin dekat. Paling tidak ada dua problem serius yang kini dihadapi pemerintahan SBY-Boediono. Keduanya ini bisa mengantarkan rakyat ini ke revolusi. Pertama, telah terjadi defisit kepercayaan publik yang sangat luar biasa. Contoh yang paling baru, penolakan rakyat yang luar biasa terhadap rencana penaikan harga BBM.

“Bukan hanya di Jakarta, bahkan rakyat di daerah juga menolak BLSM. Angka penolakan itu mencapai 60%. Ini bisa jadi indikator kuat untuk terjadinya perubahan dan rervolusi. Problem SBY yang kedua, adalah defisit dukungan dari Parpol. Maka semakin lengkaplah syarat-yarat terjadinya revolusi sebagaimana yang terjadi di negara-negara Timur Tengah,” tukas Zuhairi. [ACH]

Sumber: Lily Wahid: SBY Takut Kalau Jumlah Kita Banyak (Rima News, 3 Apr 2012 06:41 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons