Tuesday, April 3, 2012

Masa Depan Kehidupan Tanpa Minyak (Suara Merdeka, 3 April 2012)

Topik soal cadangan minyak dunia sudah tak terhitung dibicarakan, ditulis, dan diseminarkan. Ribut-ribut soal rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kali ini mau tak mau juga mengingatkan kita akan suramnya masa depan dunia seandainya cadangan minyak habis. Data dan angka ternyata memunculkan prakiraan yang sungguh-sungguh membuat miris karena keberadaan sumber minyak bumi tidak akan lama, tinggal 41 tahun lagi.

Sudah pasti manusia tidak perlu menunggu sampai 41 tahun lagi untuki munculnya bencana ketika sumber minyak dunia benar-benar telah mengering. Hanya tinggal dua dekade saja sudah dapat dibayangkan betapa akan terjadi “cakar-cakaran”, konflik sosial, dan mungkin juga perang tak berkesudahan akibat perebutan sumber minyak yang ketika itu sudah mencapai fase kelangkaan parah. Tegakah kita membiarkan anak-anak kita kelak hidup dalam kondisi itu?

Saat ini, konsumsi BBM dunia per hari mencapai 85 juta barel. Dengan tingkat konsumsi seperti sekarang, cadangan minyak mentah akan habis dalam waktu 41 tahun. Cadangan gas alam tinggal 63 tahun, dan cadangan batu bara tinggal 119 tahun. Angka-angka tersebut seolah-olah meramalkan suatu kondisi masa depan yang gelap ketika sumur-sumur minyak telah mengering. Dengan fakta seperti itu, masih adakah optimisme bagi masa depan dunia?

Manusia sesungguhnya dikaruniai akal budi oleh Sang Pencipta untuk membuat kehidupan makin hari makin baik. Prediksi soal cadangan minyak dunia juga semestinya disikapi dengan makin serius mengembangkan sumber-sumber energi selain minyak bumi. Sangat disayangkan bahwa hiruk-pikuk pro-kontra rencana kenaikan harga BBM belum juga menjadi pendorong pemerintah maupun kelompok-kelompok terkait untuk makin gencar mengembangkan energi alternatif.

Hal itu berbeda ketika pada abad ke-18, dunia dikejutkan dengan ramalan Thomas Robert Malthus tentang pertumbuhan penduduk yang cenderung melampaui pertumbuhan persediaan makanan. Berdasarkan teori Malthus, disimpulkan bahwa dunia akan terjatuh ke dalam jurang kemiskinan dan kehancuran akibat pertumbuhan populasi penduduk yang tak terbatas. Teori Malthus justru mendorong manusia berupaya agar ramalan itu tidak terjadi.

Beranalogi dengan teori Malthus itu, kita masih memiliki pandangan optimistik bahwa prediksi mengenai kelangkaan dan ketiadaan sumber energi minyak tidak akan membawa dunia dalam jurang kehancuran. Namun, harapan optimistik itu menjadi kemungkinan apabila berbagai cara dilakukan sejak sekarang untuk mengantisipasi ketiadaan sumber minyak. Kita tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa ”waktu kehancuran itu sudah sangat dekat”.

Sumber: Masa Depan Kehidupan Tanpa Minyak (Suara Merdeka, 3 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons