Minggu, 08 April 2012

Mempertahankan SBY Cost-nya Mahal, Rp 80 Triliun per Tahun

Indonesia sedang berada di rezim pendusta, yang tidak hanya korup tetapi juga melakukan kekerasan pada rakyatnya. Betapa tidak, praktik korupsi sudah sangat sistemik dan struktural. Dan itu diambil dari anggaran. Di rezim ini anggaran naik lebih dari dua kali lipat, tetapi rakyat tak merasakan apa-apa. Tak ingin negeri semakin terpuruk, rakyat menginginkan perubahan secepatnya. Jika tidak segera turun maka cost-nya sangat tinggi. Sebesar Rp 80 triliun di-tilep dari anggaran setiap tahun. Lantas apa saja langkah yang dilakukan Rizal? 

SOSOK Dr. Rizal Ramli selama ini dikenal sebagai sang pendobrak. Ia berani merestrukturisasi Bulog dan memperbaiki citra Bulog saat ia menjabat sebagai Kepala Bulog. Ia juga sukses melakukan terobosan saat menjadi Menko Ekuin selama 15 bulan. Ia melakukan 10 program percepatan ekonomi, salah satunya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di pedesaan untuk memperkuat stabilitas sosial politik. Ia pun mampu memacu perekonomian tumbuh 4,8 persen pada tahun 2000, di atas perkiraan sebelumnya yang 2-3 persen. 

Rabu pagi beberapa waktu lalu The Politic berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Dr. Rizal. The Politic tiba di kediaman Dr. Rizal Ramli yang asri dan berkonsep minimalis
di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Rumah berpagar kayu tinggi warna cokelat ini memiliki halaman yang luas. Begitu memasuki ruang tamunya, terlihat jejeran buku-buku dan lukisan koleksi pendiri Econit ini. Buku mengenai Albert Einstein terlihat di dalam kaca meja tamu. Dari ruang tamu, terlihat rak-rak buku di lantai dua. 

Setelah menunggu beberapa saat, sang empunya rumah
pun menghampiri The Politic, sambil tersenyum ramah dan menjabat erat. Mantan Kepala Bulog dan mantan Menko Ekuin pada era Presiden Abdurrahman Wahid (alm) ini pun mengajak The Politic masuk ke dalam ruang kerjanya yang cukup luas di sebelah ruang tamu. Lagi-lagi tumpukan buku-buku, lukisan dan foto-foto keluarga, Rizal bersama istrinya Hera (alm) dan ketiga anak mereka. Ada juga foto-foto Rizal kecil bersama ayah dan ibunya serta saudara-saudara kandungnya. 

Di belakang meja kerjanya, juga terdapat lukisan seorang anak laki-laki tanpa busana, di sampingnya terdapat bendera merah putih yang panjang. 

Rizal mengatakan hal itu menggambarkan nasionalisme simbolik. Bagaimana Indonesia memiliki kain yang berlimpah, tetapi masih ada anak yang kekurangan. Seperti itulah kondisi bangsa, dan itu adalah tugas semua untuk memperbaikinya. 

Perbincangan dengan Dr. Rizal diawali dari kisahnya di masa kecil yang sudah yatim piatu. Ia harus berjuang mendapatkan sesuatu yang ingin dicapainya, termasuk membiayai kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia dengan tegas jugamenceritakan bagaimana kondisi negeri ini, yang menurutnya dikuasai oleh rezim pendusta yang didukung partai dusta. Bagaimana negeri ini sudah menjadi sarang pendusta, korup, dan kekerasan. Jika rezim ini tidak diganti, maka cost-nya sangat mahal, yaitu satu tahun Rp 80 triliun di-tilep dari anggaran. 

Lulusan Ph.D dari Boston University, Amerika Serikat ini menginginkan perubahan secepatnya. Dan perubahan itu juga merupakan suara rakyat. Ia pun mendirikan Rumah Perubahan. Mengenai langkahnya apakah ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini, pria kelahiran 10 Desember 1953 mengatakan ia tidak ingin menjadi presiden-presidenan. Ia memiliki mimpi untuk mengubah Indonesia menjadi makmur, sejahtera dan hebat. Meski tidak punya kendaraan di partai, menurutnya apapun bisa didapat jika Tuhan berkehendak. Ia mengaca pada suksesnya Presiden Brazil, Luiz Inácio Lula da Silva, yang berasal dari tokoh buruh, yang sukses membangkitkan Brazil dari keterpurukan hanya dalam waktu delapan tahun. 

Perbincangan dengan pria berkacamata ini penuh dengan gelak tawa. Sesekali ia menyantap potongan buah pepaya segar. Ia mengatakan saat ini ia sedang memperbanyak makan buah- buahan dan sayur-sayuran, serta mengurangi karbohidrat agar tidak terlalu gemuk. Di sela-sela perbincangan, ia juga menunjukkan berbagai foto-foto dan lukisan keluarga di beberapa bagian ruangan rumahnya. Ingin tahu perbincangan selengkapnya? 

Seperti apa masa kecil Anda? 

Orang tua saya dari Padang, tetapi saat kecil usia enam tahun saya pindah ke Bogor tinggal sama nenek, Ny. Rahmah, karena kedua orang tua saya meninggal. ibu saya, Rabiah, meninggal lebih dulu saat saya usia lima tahun, baru berikutnya bapak saya, Ramli. 

Jadi yatim piatu sejak kecil ya, apa yang Anda ingat mengenai orang tua? 

Ibu saya termasuk wanita modern pada saat itu. Beliau pendidikan guru, naik sepeda. Saat itu kan perempuan di Padang jarang yang naik sepeda. (Rizal sembari memperlihatkan foto-foto masa kecilnya bersama ayah, ibu dan saudara-saudaranya. Ia adalah anak keempat). 

Dalam ingatan saya ibu saya sangat mengesankan. Karena beliau guru maka tiga tahun saya sudah diajari baca. Saya bersyukur umur tiga tahun saya sudah bisa baca. Karena modal kita yang paling besar itu adalah membaca. Saat saya ikut nenek saya di Bogor, di sana saya sudah membaca seluruh komik, cerita pendek dan buku-buku se-Bogor, itu saat usia SMP. Di sana saya sekolah di SD Hutabarat Bogor, SMP 1 Bogor dan SMA 2 Bogor. 

Kalau ayah Anda? 

Bapak saya dulu asisten wedana atau sekarang asisten camat lah. 

Meski tidak begitu lama bersama orangt ua, apa ajaran dari orang tua yang masih Anda ingat sampai sekarang? 

Kalau dari ibu saya yaitu membaca, pikiran dan intelektual tentunya. Kalau dari bapak saya, beliau itu orangnya mudah bergaul, banyak temannya. 

Anda tinggal sama Nenek, apa yang diingat saat bersama Nenek? 

Yang tinggal sama Nenek itu banyak, ada 14 orang, kakak- kakak dan sepupu-sepupu. Saya cucu yang paling disayang Nenek, saya suka menemani Nenek ke pasar. Nenek saya waktu itu punya usaha industri ayam negeri, baik ayam petelur ataupun ayam broiler, ayam potong. Kita semua bantuin Nenek, ya lumayan nggak jelek-jelek banget, masih bisa hidup, bisa makan. 

Nenek saya itu, nggak bisa baca, nggak bisa nulis, tetapi wibawa sekali. Orangnya nggak banyak omong. Setiap pagi beliau harus dibacakan koran sama cucu-cucunya. Beliau ingin tahu dunia dan perkembangannya. 

Karena suka baca lalu Anda membuat perpustakaan di Bogor ya? 

Iya. Saat itu di Bogor sudah tidak ada lagi bacaan yang bisa saya baca, karena semua buku di sana sudah saya baca. Waktu itu saya kelas 1 SMA. Saat itu, di Bogor ada perpustakaan. Saya minta tolong supaya dapat buku- buku dari luar. Saya tulis surat ke luar negeri, saya kirim surat sehingga bisa dapat buku lebih banyak. Itu sekitar tahun 1971. 

Perpustakaannya di rumah? 

Bukan tapi di Pemda Bogor. Pemda ingin membuat perpustakaan, saya bantu di situ. Di sana paling ada 200 buku, tidak banyak. 

Setelah lulus SMA Anda kuliah di ITB? 

Iya. Saya waktu itu diterima di ITB, jurusan Fisika. Waktu itu saya bertekad jika tidak diterima di ITB, saya nggak usah kuliah. Saya kan sudah nggak ada orang tua, Nenek juga kan nggak mampu biayai. Akhirnya saya diterima, tetapi saya nggak punya uang untuk membayar uang masuk kuliah. Kesal banget, putus asa waktu itu. 

Akhirnya saya bekerja di percetakan, menjadi mandor percetakan di Kebayoran. Selama bekerja setiap hari, saya ngirit. Makannya ngirit. Jadi saat saya punya uang, saya pergi ke Bandung. Saat itu, saya enam bulan nggak ikut kuliah. Di Bandung, saya kemudian bayar uang muka dan biaya kuliah. Tabungan saya juga dipakai untuk makan. Waktu itu saya senang jadi mahasiswa normal (tertawa), tapi setelah enam bulan uang saya habis. Untuk makan saja nggak bisa. 

Lalu saat itu apa yang Anda lakukan agar tetap bisa kuliah? 

Saat awal, teman-teman saya nolongin. Tapi lama-lama malu juga ya. Pilihan saya waktu itu, saya berhenti kuliah sajalah. Tapi akhirnya saya putuskan tidak berhenti kuliah. Tiba-tiba saya ingat kalau bahasa Inggris saya lumayan bagus. Kenapa saya nggak jadi penerjemah saja. 

Jadi di Bandung itu banyak dosen dan mahasiswa yang butuh terjemahan dari artikel ilmiah, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Jadilah saya mulai kerja menerjemahkan. Awalnya susah, butuh dua jam untuk satu halaman. Tapi lama-lama cepat 10 menit saja untuk satu halaman. Saat makin banyak yang minta diterjemahkan, saya ajak teman saya yang sama-sama miskin sebagai partner. Dia jadi tukang ketik saya, jadi saya membacakan dia yang mengetik. Tambah cepat saja, tujuh menit satu halaman. Akhirnya kita cuma kerja habis Jumatan sampai Sabtu sore jam empat. Makin lama kita makin populer, karena makin cepat (tertawa). 

Dari situ Anda bisa lanjut kuliah ya? 

Iya, semuanya biaya sendiri. Itu sudah cukup buat makan, pacaran dan bantuin teman (terbahak). Jadi saya bersyukur juga. 

Saat pertama kali menerjemahkan, dapat berapa sih? 

Aduh saya lupa ya. Tapi kualitasnya makin lama makin bagus, makin cepat. Yang minta diterjemahkan kan maunya cepat, sekarang minta, besoknya sudah harus selesai. Kebanyakan sih buku-buku engineering, science. Kalau latar belakang bukan science susah juga, kan banyak istilah-istilah minority. 

Selain menerjemahkan, apa lagi yang Anda lakukan untuk membiayai kuliah? 

Di Bandung saat itu belum ada sekolah internasional tetapi banyak orang asing. Anak-anak mereka yang sekolah bingung juga untuk bersekolah di mana. Akhirnya pakai sekolah koresponden. Bahan-bahan ujian dikirim dari Amerika, kemudian dikirim lagi ke Amerika hasilnya. Tetapi mereka juga butuh tutor yang mengajarkan. Akhirnya saya organisir 3-4 orang teman, kita mengajari anak-anak bule tentang science, matematika, dan sejarah. Waktu itu dibayarnya dalam Dolar, mahal banget. Jadi zaman dulu pokoknya bisa pacaran terus, nonton bisa 3-4 kali seminggu. (terbahak-bahak). 

Berarti untuk menyelesaikan kuliah Anda sangat bekerja keras ya? 

Semua dalam hidup saya nggak pernah didapat dengan mudah. Saya anak yatim piatu, tidak pernah diperhitungkan oleh teman-teman. Mereka makmur- makmur, berasal dari keluarga berada. Kadang-kadang sedih sekali, terutama waktu Lebaran. Tapi saya buktikan saya Rizal Ramli seorang yatim piatu, bisa juga jadi, dengan kerja keras, dengan perjuangan. 

Ngomong-ngomong saat kuliah Anda aktif berorganisasi ya. Waktu itu sempat dipenjara, karena apa? 

Iya, saya pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB tahun 1977. Saat kuliah di tahun 1978, saya jadi tim penulis Buku Putih Perjuangan Mahasiswa
ITB, kita berempat. Bukunya itu tentang kritik terhadap sistem pemerintahan di Indonesia yang otoriter. Kita ingin Indonesia yang lebih demokratis. Selain itu, buku ini juga mengenai kritik terhadap praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) terutama keluarga Soeharto. 

Keluarnya buku itu membuat Pak Harto marah sekali. Buku ini diterbitkan namun dilarang beredar. Tetapi ternyata buku tersebut distensil, karena belum ada percetakan. Dan justru buku tersebut beredar di mana-mana, di seluruh kampus di Jawa dan luar Jawa. Bahkan beberapa koran memuat mengenai kritik mahasiswa ITB terhadap Pak Harto. Dari situ rupanya Pak Harto marah sekali, dia beredel koran dan majalah yang memuat tulisan ini. 

Buku kecil ini kemudian ada yang menerjemahkannya ke dalam delapan bahasa oleh Prof. Ben Anderson, profesor dari Cornell University, Amerika Serikat. Buku Putih ini dianggap sebagai kritik pertama yang sistematis terhadap sistem otoriter Orde Baru. Belum ada sebelumnya yang protes-protes, alasan dan visinya apa. Saat itu saya sudah tingkat empat. 

Tidak takut ya? 

Saya tidak takut. Saat jadi aktivis mahasiswa kemudian dipenjara di Sukamiskin, Bandung saya tidak takut. Tetapi waktu itu kalau ingat Nenek saya jadi sedih karena dia nangis melulu karena cucu kesayangannya di penjara. 

Di penjara berapa lama? 

Tiga bulan di penjara militer Jl. Sumatera, dan satu tahun di penjara Sukamiskin, Bandung, penjaranya Soekarno. Waktu itu kita ber-9 dipenjara, mahasiswa dari ITB, Unpad, IKIP, dan Unisba. 

Selama di dalam penjara, pengalaman apa yang Anda dapatkan? 

Ada dua hal yang menarik. Pertama, saya jadi bisa baca buku lebih banyak, di penjara kan pengangguran. Teman-teman saya mengirimi saya buku-buku. Jadi saya seperti sekolah lagi di sana, semacam Institut Sukamiskin. Selain baca, saya juga diskusi dengan teman-teman setiap hari. 

Kedua, saya belajar main catur dengan para napi. Jadi saat itu untuk sarapan paginya nasinya jelek banget, kadang ada batunya, ada pasirnya, dicampur dengan kelapa yang kadang sudah basi. Nggak tahu itu dananya dikorupsi atau budget-nya sedikit. Saya nggak bisa makan itu. Jadi lebih baik saya nggak makan nasi. Setiap pagi, mahasiswa taruhan dengan para napi, siapa yang bisa menang main catur mendapatkan sarapan ekstra. Padahal kita sebenarnya tidak ingin sarapan. (tertawa). 

Di Sukamiskin, selain tahanan politik mahasiswa, juga orang-orang yang kena hukuman berat di atas lima tahun, yaitu perampok, pembunuh, pemerkosa. Lama-lama jadi kenal. Waktu itu saya pernah naik bis di Jakarta, terus ada yang colak-colek, ternyata dia dulu dari Sukamiskin, rupanya kepala pencopet di bis. (tertawa). 

Setelah keluar dari penjara, Anda kuliah lagi? 

Saya nggak selesai di ITB. Selama di penjara kan saya banyak baca buku-buku ekonomi politik. Jadi saya tertarik untuk belajar ekonomi. Lalu saya mulai daftar ke luar negeri, saya cari beasiswa dan dapat beasiswa dari Ford Foundation. Saya tertolong karena bahasa Inggris saya. Banyak mahasiswa yang pintar- pintar tetapi bahasa Inggrisnya payah, jadi nggak punya kesempatan kuliah di luar negeri. 

Anda akhirnya ambil kuliah di mana? 

Saat itu saya melamar ke Boston University. Saya mendapatkan rekomendasi dari Rektor ITB dan Adnan Buyung Nasution, yang pernah jadi lawyer saya saat saya diadili. Mereka mengatakan Rizal Ramli anaknya pintar, kreatif dan berani karena itu direkomendasikan. Namun, begitu melihat nilainya angkanya jelek semua. (tertawa). 

Karena itu, akhirnya saya diterima mahasiswa percobaan di Boston selama enam bulan, ikut program S1 Ekonomi, pada tahun 1980. Saya buktikan di situ, saat saya hanya sebagai mahasiswa, nggak jadi aktivis nilai saya bagus- bagus semua. Nilai Ekonomi Makro saya A, mengalahkan bule-bule. Akhirnya saya diterima menjadi mahasiswa biasa. Kuliah yang seharusnya dua tahun, saya selesai 1,5 tahun. 

Setelah lulus apakah langsung lanjut kuliah lagi? 

Saya dapat tawaran untuk meneruskan kuliah. Tapi waktu
itu ada dua pertimbangan. Saya sekolah ekonomi bisa lulus dengan angka bagus tetapi saya tidak ada pemahaman sesungguhnya tentang ekonomi, karena saya modalnya matematika. Kalau dikasih masalah, terus dicari solusi ekonominya kan bisa dicari gampang, tetapi saya merasa belum benar-benar paham mengenai ekonomi. 

Kedua, saat itu usia saya sudah 30 tahun, masih single, ingin cari pacar terus menikah. (tertawa). Akhirnya saya balik ke Jakarta dan bekerja menjadi Redaktur di Prisma, selama setahun. Pacar saya, saat itu masih kuliah tingkat akhir di Arsitektur ITB. Sampai dia selesai, akhirnya tahun 1982 menikah dengan Herawati. 

Setelah itu meneruskan sekolah lagi ya? 

Di Amerika saya mendapatkan beasiswa untuk belajar di Boston University. Beasiswa untuk biaya kuliah dan biaya hidup. 

Tapi karena saya bawa istri dan anak dua, uangnya tidak cukup. Akhirnya saya bekerja menjadi asisten researcher. Hera yang waktu itu sudah jadi arsitek, bekerja di biro arsitek di Boston. 

Ternyata istri saya juga ingin kuliah. Setelah 3-4 tahun bekerja dan cukup uang, ia diterima di Harvard School of Planning. Jadi ia sembari bekerja, kuliah dan mengurus dua orang anak. Saya juga begitu. Waktu itu belum
ada di sana keluarga Indonesia yang suami istri kuliah dan mengurus anak. Kita jadi legenda, keluarga perjuanganlah kita ini. Syukur semuanya beres dan mendapatkan gelar Ph.D. 

Saat kembali ke tanah air, apa yang Anda lakukan? 

Saat kembali ke Indonesia saya dapat bonus anak ketiga, bonus pembangunan. (tersenyum). Saya juga mendirikan Econit. 

Apa tujuan Anda saat mendirikan Econit? 

Waktu itu, pertama saya ingin think tank yang independen, bukan think tank yang berasosiasi dengan pemerintah. Kedua, saya ingin memberi warna dalam wacana, pemikiran, dan analisis ekonomi Indonesia. Kiprah kita sudah lumayan lah, kita cukup dikenal. Sekarang ini diteruskan oleh Dr. Hendri Saparini, ekonom lulusan Jepang, sejak 2005. 

Apa pandangan Anda mengenai kondisi negara Indonesia? 

Kinerja makro ekonomi tahun 2010 ke 2011 memang membaik, kemungkinan ekonomi tumbuh di atas enam persen. Tetapi Indonesia menghadapi risiko terkena dampak krisis ekonomi dunia, terutama Eropa. Pemerintahan juga sangat lemah karena pemimpinnya lemah. Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan dan kepemimpinan yang semakin luas pada pemerintah. 

Di samping itu, impor Indonesia makin lama makin besar, ekspor mengalami perlambatan. Akibatnya, surplus transaksi berjalan Indonesia kurang. Ini akan memberi tekanan pada rupiah, rupiah akan melemah. Selain itu, ada potensi kenaikan harga pangan. Karena itu kita ingin perubahan pemerintahan secepatnya, perubahan sekarang juga. 

Apa yang akan Anda lakukan untuk perubahan secepatnya ini? 

Tentu yang pertama saya akan mengajak sebanyak mungkin rakyat Indonesia untuk melakukan perubahan. Nggak usah nunggu sampai tahun 2014, sekarang juga harus ada perubahan. Dulu 1,5 tahun yang lalu, saat kita mulai mengatakan harus ada perubahan, dianggapnya masih terlalu pagi. Tapi sekarang hampir semua orang ingin perubahan, karena sudah terlalu korup. Tak hanya korup, tetapi juga rezim pendusta, didukung partai pendusta. 

Selain itu juga doyan melakukan kekerasan terhadap rakyat sendiri seperti di Papua, Bima, Lampung. Jadi kalau disingkat pendusta, korup dan kekerasan (PKK) atau korup, pendusta dan kekerasan (KPK) (tertawa). 

Jika dibandingkan dengan rezim sebelumnya, apakah rezim yang sekarang lebih parah? 

Lebih parah. Waktu zaman Pak Harto, korupsi atau KKN itu hanya keluarga, kroni-kroninya dan cukong yang diberi hak bisnis, kesempatan bisnis eksklusif untuk mengembangkan bisnis. Itu nggak benar juga karena monopoli itu nggak benar. Untuk kalangan bisnis, bagaimana pun mereka juga menciptakan lapangan pekerjaan, meski nggak benar juga didukung oleh hak-hak khusus. 

Saat zaman Soeharto, pengusaha ini menyumbang ke yayasan, ke Golkar, menyumbang buat beasiswa, untuk kampanye Soeharto. Tapi mereka tidak langsung nyolong dari anggaran. Sudah keburu disikat oleh Soeharto. Jadi pejabat juga nggak berani nyolong dari anggaran. 

Tapi sekarang, rata-rata pada merampok dari anggaran. Jadi, DPR dengan sepengetahuan Menteri-Menterinya, karena Menteri-Menteri menerima sogokan dan anggarannya disahkan oleh DPR. Dari situ sudah kepotong 15-20 persen. Bayangkan jika anggaran pembangunannya Rp 400 triliun, kalau dipotong 20 persen, mereka dapat Rp 80 triliun. Belum lagi saat proyeknya berjalan, di lapangan akan ada lagi korupsinya 30 persen. Totalnya jadi 50 persen. Tidak aneh, selama tujuh tahun kepemimpinan SBY, anggaran naik dua kali lipat, tapi rakyat tidak merasakan apa-apa. 

Rakyat malah makin susah ya? 

Iya, karena sebagian anggaran di-tilep. Sederhana kok, kalau kita jalan ke Sumatera, itu bukan melewati jalan, tetapi kolam, off road terus. Di Jawa sama saja, saya kan sering ke daerah-daerah, keliling. Jadi, untuk mempertahankan kualitas infrastruktur saja tidak mampu, nggak usah bilang membuat jalan yang baru. Belum pernah ada pembangunan irigasi padahal APBN-nya naik 2,5 persen. Harusnya rakyat kecil sejahtera, tapi kagak tuh. Yang makin sejahtera ya para pejabat, tokoh- tokoh partai, gubernur dan bupati. 

Kalau zaman Soeharto kan terbatas, mekanismenya juga beda. Kalau sekarang nyolong dari anggaran. Dari mulai istana hitam sampai ke menteri, gubernur, bupati sampai ke rakyat tidak dapat apa-apa. Kan di sini ada dua istana, istana hitam dan istana putih. Istana putih tempat semua yang baik-baik, yang indah-indah dan normatif dibicarakan. Sementara istana hitam lokasinya tidak jelas. Istana hitam tempat seluruh transaksi gelap dan penyogokan itu terjadi. Rakyat kita diakali, depannya istana putih, belakangnya istana hitam. Karena itulah kenapa sekarang perlu perubahan cepat. 

Jadi kalau mengharapkan pemerintah memperbaikinya, sudah hopeless ya? 

Ya, bukan begitu. Ada pertanyaan jika SBY diganti sekarang, biaya atau ongkosnya mahal. Ongkos ekonomi dan sosialnya mahal. Kata siapa? Justru kalau mempertahankan SBY sampai tahun 2014 itu mahal banget, satu tahun saja Rp 80 triliun. Dua tahun lagi berarti menjadi 240 triliun. Belum lagi kerusakan moral atau apa. Saya hitung dari biayanya saja, jika dipertahankan, rakyat Indonesia rugi besar. 

Anda membuat Rumah Perubahan ya, tahun berapa? 

Tahun 2007 akhir. Tadinya lokasinya di Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Tapi kata orang- orang terlalu jauh. Akhirnya dipindahkan ke Harmoni, Jakarta Pusat, jaraknya kurang dari 1.000 meter ke Istana Negara. Maksudnya agar monitoring Istana makin mantap, lebih dekat kan? 

Akan ada gerakan untuk menghimpun massa lebih banyak? 

Belum waktunya dibicarakan. Tapi saya rasa masyarakat Indonesia ingin perubahan dengan cara damai, mereka tidak ingin ada kekerasan. 

Anda sering berbicara dengan rakyat? 

Saya sering kali berbicara dengan rakyat biasa, dari sopir taksi, tukang ojek di warung- warung, bell boy, dan lain-lain, mereka ingin perubahan secepatnya. Saya pernah naik taksi, dia cerita kalau dulu masukin sekolah anak masuk SMP nggak perlu bayar, tetapi sekarang masuk SD bayar Rp 4 juta dan masuk SMP bayar Rp 7 juta. Sementara penumpang taksi makin sedikit, setoran tetap, dan bensin naik. 

Saya juga pernah berbicara dengan seseorang yang bekerja di lepas pantai, saya bertemu dengan dia saat di bandara. Dia mengatakan dia dan keluarga memang hidupnya lumayan meski harus bekerja keras. Tetapi dia tidak terima Indonesia seperti ini, sudah rusak, semua dirampok. Rakyat nggak dapat apa-apa. Dia minta tolong, rakyat kan ingin perubahan tetapi tidak tahu caranya. Tetapi mereka tahu mana yang brengsek, mana yang ngerampokin dan mana yang betul-betul hatinya untuk rakyat. Saya ke mana-mana jadi suka terharu, karena dibebani. 

Kalau dengan cara damai, tidak mau turun juga bagaimana? 

Kalau nggak mau turun juga, kita uber terus kan (tertawa). Cuma sebagai seorang bekas teman dekat SBY, saya ingin mengimbau lebih baik dia mundur baik-baik, secara terhormat. Karena banyak kasus yang terjadi ini sifatnya kriminal. Bank Century kriminal, kasus Antasari kriminal, kasus manipulasi kriminal, kasus korupsi secara sistemik oleh partai dusta ini juga kriminal. Lebih baik mundur baik-baik. 

Jika SBY mau mundur baik-baik, saya bisa telepon Hillary Clinton, menteri luar negeri Amerika Serikat untuk disediakan pesawat khusus untuk keluarga SBY supaya pindah dan pensiun di Hawaii saja, seperti halnya mantan Presiden Filipina, Marcos. Kalau beliau tidak mau mundur, ya saya minta maaf, akan jadi Presiden pertama di Indonesia yang diadili, seperti halnya presiden Arroyo di Filipina. Arroyo juga sama, terlibat korupsi, pembunuhan politik, dan sebagainya. 

Berarti akan ada kemungkinan diadili? 

Buat bangsa Indonesia ini menjadi pembelajaran. Siapa
pun yang bersalah, termasuk Presiden, harus diadili agar bangsa Indonesia belajar. Selama ini mentang-mentang Presiden terus kebal hukum. Hukum itu harus betul-betul adil. Siapa saja, baik itu rakyat kecil, presiden atau orang kaya, kalau dia bersalah maka harus diadili, sehingga pemimpin Indonesia yang akan datang akan lebih amanah, takut juga kan masuk penjara. Kalau sekarang kan nggak takut masuk penjara. Kalau SBY ngeyel terus, apa yang terjadi? Indonesia akan semakin hancur. 

Menurut Anda apakah kasus-kasus Nazaruddin dan Anas akan terungkap? 

Kasus yang menyangkut Nazaruddin dan Anas, kasusnya dibuka pelan-pelan. Kayak orang kupas apel atau mangga saja. Satu lapis, lapis berikutnya. Nanti pas lapisan paling dalam rakyat Indonesia akan kaget, karena ternyata sampai di Istana Hitam. Rakyat kan sudah tahu, nggak mungkin kasus ini tidak melibatkan kekuasaan yang besar. Nazaruddin sendiri mengaku ke media kan? Makin lama kita makin malu melihatnya sebagai bangsa. 

Saya kasih contoh di Jerman, presidennya korupsinya ecel-ecel banget, cuma dibayari hotel tapi lalu masuk ke media, dia langsung malu dan langsung mengundurkan diri. Banyak kalangan intelek yang usul pada saya agar Partai Demokrat dibubarkan saja karena korupsinya sistemik dan struktural, dari Pembinanya, Ketua Umum sampai ke bawah. Ini supaya Indonesia memberikan shock therapy dan kita belajar di masa yang akan datang. Di luar negeri memang begitu, partai yang sangat korup akan dibubarkan. Saya sendiri belum ambil sikap karena kita nggak ada kekuasaan. 

Apakah Anda punya target untuk maju menjadi Presiden? 

Saya bukan berkeinginan menjadi presiden, tetapi ingin mengubah Indonesia supaya menjadi negara yang makmur dan hebat. Saya percaya, di abad 19 itu abadnya Inggris. Inggris memiliki angkatan laut yang paling hebat. Abad 20 itu abadnya Amerika Serikat, yang memiliki angkatan udara paling canggih, memiliki sistem telekomunikasi palinghebat dan lembaga keuangan paling dahsyat. Namun abad 21 ini abadnya Asia. Di Asia ini beberapa raksasa sudah bangkit seperti Jepang, China, Korea dan India. Satu-satunya yang masih tidur dan harus dibangunkan agar berlari secepat mungkin adalah Indonesia. 

Saya yakin dengan visi yang betul dan leadership yang benar, kita bisa tumbuh di atas 10-12 persen per tahun. Kalau itu terjadi, maka berarti setiap tahun enam juta orang akan mendapatkan kerja baru. Otomatis nanti upah akan naik kalau dalam satu tahun ekonominya bisa menciptakan lapangan kerja baru. 

Ambisi atau obsesi terbesar Anda? 

Ambisi saya yang paling besar bukan presiden-presidenan, tetapi mengubah Indonesia menjadi negara yang makmur, negara yang hebat, yang bisa menciptakan lapangan kerja. Kalau Anda lihat saya membantu memperjuangkan jaminan sosial kan? Itu semua kan tujuannya untuk rakyat. Kalau sakit, ada jaminan kesehatan. 

Bersama Rieke, Iqbal dan tokoh-tokoh buruh, saya ikut demonstrasi, ikut memperjuangkan idenya di media supaya rakyat kalau sakit bisa mendapatkan jaminan kesehatan. Kalau menganggur ada jaminan pengangguran. Kalau mau beli rumah, cicilannya dibantu. Di luar negeri seperti itu biasa. Ini penting banget. Nanti saya percaya kita bisa melakukan itu. 

Untuk mengubah Indonesia, berarti harus memegang posisi penting kan? 

Kalau hanya sekadar jadi presiden, semua orang kan mau jadi presiden. Cuma sederhana, mau kuasa dan kemudian menyalahgunakan kekuasaan buat pribadi atau kelompok. Kalau ditanya apa visinya, mau dibawa ke mana Indonesia ini, mampu nggak dalam waktu lima tahun melakukan perubahan sehingga rakyat Indonesia lebih sejahtera. Saya rasa nggak ada yang berani ngomong. 

Jadi harus dihadapkan pada rakyat Indonesia, bahwa ada presiden-presiden iklan, yang modalnya cuma punya uang, bisa bayar iklan, bisa bayar televisi, punya media sendiri. Itu berhadapan dengan kita kawan-kawan yang mewakili gerakan rakyat. Sekarang terserah sama rakyat Indonesia apakah mau memilih pemimpin iklan. 

Tapi nanti jangan kecewa jika buntutnya seperti SBY lagi. Lah wong modalnya di iklan saja, yang hatinya nggak merakyat. Atau dukung pemimpin-pemimpin gerakan rakyat dari bawah. 

Jadi Anda punya nurani untuk rakyat? 

Saya nggak tega, kadang saya sampai menangis. Pernah pelayan di restoran di Kediri, dia mencium tangan saya, dia bilang, “Pak, ini sudah tidak benar nih”. Itu mengganggu pikiran saya. Saya ke mana-mana terharu, merasa dibebani. Orang seumur saya kan seharusnya bisa jadi penasihat di mana-mana, di dalam dan di luar negeri. Kerjanya rapat dan keliling dunia, jadi anggota dewan komisaris perusahaan dalam dan luar negeri. Saya hampir setiap bulan terima undangan di luar negeri, untuk kasih ceramah atau kasih kuliah. 

Kalau saya pikir, ngapain pusing-pusing. Begini dihormati, diundang ke dalam dan luar negeri, dikasih fasilitas kelas satu. Tapi setiap kali saya jalan, saya kan suka naik taksi dan ojek, kalau naik pesawat pun kelas ekonomi, rakyat biasa datang sama saya dan minta tolong bahwa bangsa ini sudah rusak. 

Kalau ingin mencalonkan menjadi Presiden, kendaraannya apa kan Anda nggak ikut partai? 

Ya, di sini apa sih yang nggak mungkin. Kalau kita percaya Allah Yang Maha Kuasa, apa sih yang nggak mungkin. Di Amerika Latin, di Brazil ada presiden dari tokoh buruh, nggak ada partainya, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Dia terpilih jadi Presiden setelah selama 1,5 tahun menggabungkan semua. 

Selama delapan tahun masa kepemimpinannya, Brazil yang tadinya negara paling banyak utangnya menjadi berkurang. Ia menciptakan lapangan kerja baru bagi 40 juta orang, yang artinya lima juta dalam setahun. Dia berhasil mengurangi kemiskinan. Itu bisa. Sebelumnya, puluhan tahun Brazil dipimpin oleh pemimpin yang mewakili orang- orang kaya. Begitu mereka berkuasa, mereka makin nikmati, mereka makin kaya lagi, lupa diri dan rakyat tidak dapat apa- apa. Baru pertama kali ketika Lula memimpin, dia dari bawah, dari gerakan rakyat, dari jalanan buruh, dia ubah Brazil. Orang Brazil sekarang bangga, jadi negara industri paling hebat, ekspor handphone, ekspor mobil dan ekspor pesawat. 

Kalau untuk Indonesia, kira- kira bisa berubah berapa lama? 

Kalau dulu butuh waktu minimum 25 tahun. Setelah hancur perang dunia kedua Jepang membutuhkan waktu 25 tahun untuk mengejar ketinggalan. Mahathir Muhammad cerita ke saya, dia banyak belajar dari Jepang, dia butuh waktu kurang dari 20 tahun untuk mengubah agar rakyat Malaysia lebih makmur. Sekarang lima kali dari Indonesia. 

China butuh waktu 15 tahun untuk mengubah negara yang tadinya miskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia. Pada tahun 1960an, pendapatan rakyat China hanya 50 dolar per orang dan Indonesia 100 dolar per orang. Brazil membutuhkan waktu delapan tahun saja untuk mengubah negerinya. Semua itu bisa karena pemimpinnya hatinya pada rakyat, pemimpinnya berpihak pada rakyat. 

Jadi perubahan tergantung pemimpinnya ya? 

Ya, ada visinya juga kan. Nggak mungkin kalau hanya berpihak pada rakyat saja, tapi nggak ada visi, nggak ada strategi. 

Kalau untuk Indonesia, kira- kira bisa berapa tahun berubah agar rakyat lebih sejahtera? 

Begini deh, Rizal Ramli waktu jadi pejabat (Menko Ekuin) 15 bulan sudah ada perubahan. Kalau Anda ke Padang, ada airport baru, tanya tuh pas zaman siapa dan siapa yang cari uangnya. Palembang juga begitu. Airport Surabaya juga baru. Tadinya cuma proposal saja, diskusi selama 10 tahun, tetapi nggak jadi-jadi. Tol Jakarta-Bandung juga tadinya proyek yang nggak jadi- jadi. Tapi saya cuma 1,5 tahun jadi. Dan masih banyak yang lainnya. 

Jadi Anda ingin mendobrak, sesuai julukan sang pendobrak ya? 

Jadi Menteri saja 1,5 tahun. Bayangkan kalau jadi Presiden, bisa bikin apa. Optimis? Indonesia membutuhkan pemimpin yang apa adanya, tidak dibungkus dengan iklan. Pemimpin Asia yang besar seperti Lee Kuan Yew, Mahathir Mohammad. Di Indonesia, pemimpin yang saya kagumi adalah Ali Sadikin, ngomong apa adanya tapi dikerjakan. Jadi bukan pemimpin yang dibungkus iklan atau pencitraan. Kekuatannya iklan seperti SBY. 

Kalau untuk mengantisipasi yang pemimpin iklan bagaimana? 

Kalau di seluruh dunia, kekuatan uang itu tidak bisa dilawan kecuali dengan uang yang lebih banyak lagi. Akhirnya korup, kongkalikong dan nanti pada saat berkuasa, nembak-nya banyak banget. Tapi di seluruh dunia, kekuatan uang bisa dilawan dengan rakyat yang punya passion, dengan seluruh jiwa raga, bisa dilawan, bisa dikalahkan. Banyak caranya, yang penting kita garisnya jelas, punya hati nurani untuk rakyat. Saya sendiri hidupnya sudah cukup kok, anak-anak sudah besar, sudah menikah dan bekerja. 

Jika Anda dikasih kesempatan untuk memimpin Indonesia, langkah apa yang akan Anda lakukan dalam 100 hari pertama? 

Nggak usah ngomong begitu deh, sudah 100 hari saja (tertawa). Bisa dilihat track record dari orang- orang pada saat berkuasa apa yang dilakukan. Bisa juga dilihat dari track record saya. 

Terakhir, saya beri dongeng. Di surga, wakil dari bangsa-bangsa datang ke kamar Tuhan dan
protes karena Tuhan tidak adil dan menganakemaskan Indonesia. Dari Australia protes karena sebagian dari tanahnya gurun pasir sehingga mereka tidak cukup air tanah. Untuk mendapatkan air mereka harus menampung air hujan, untuk digunakan di pertanian dan air minum. Sementara di Indonesia, Tuhan memberi banyak air tanahnya, alamnya hijau dan bagus. Dari negara-negara Skandinavia, Norwegia, Denmark, dan Swedia juga protes karena mereka diberi salju selama 300 hari, sehingga mereka harus belajar menyimpan makanan untuk 300 hari. Mereka hanya bisa menanam 60 hari saja. Sementara di Indonesia, rakyatnya sangat berlimpah makanan sehingga untuk menyimpan makanan dua hari saja tidak mampu. 

Akhirnya Tuhan mengaku dosa karena telah menganakemaskan Indonesia. Kata Tuhan, tapi apakah kalian tahu bahwa saya belum pernah kasih mereka pemimpin yang hebat. Mereka bertanya mengapa Tuhan tidak kasih pemimpin yang hebat untuk Indonesia. Kata Tuhan karena setiap menjelang Pemilu rakyatnya berdoa agar diberi uang Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Akhirnya diberilah uang hasil rampokan Century dan anggaran. Ibu-ibunya dan para gadisnya juga berdoa agar diberi pemimpin yang ganteng, yang gagah, seolah-olah mau mencari pacar. Akhirnya dikasihlah oleh Tuhan pemimpin yang gagah dan ganteng, tetapi penakut, peragu, dan pendusta. 

Pesan dari sini, karena itu carilah pemimpin yang amanah, yang bisa membawa Indonesia menjadi raksasa dunia, yang bisa mengangkat Indonesia dan menyejahterakan Indonesia. Bisa membedakan antara pemimpin gerakan rakyat dengan pemimpin gerakan iklan. (Dikutip dari The Politic, Edisi 10 - Th I, 02-15 Maret 2012) 

Tergila-gila dengan Membaca 

Rizal Ramli bisa dikatakan sangat tergila-gila dengan membaca. Tercermin dari ruangan di rumahnya, mulai dari ruang tamu, ruang kerja hingga ruangan di atas yang dipenuhi berbagai buku, baik buku bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dari kecil, ia memang sudah hobi membaca. Ia sudah melahap semua buku- buku mulai dari komik, cerita pendek ataupun buku-buku lain yang ada di Bogor, kota tempat tinggalnya bersama sang nenek. Saking sukanya membaca, dulu saat bersekolah ia memilih duduk di bangku belakang agar bisa membaca komik ataupun cerita-cerita silat seperti Ko Ping Hoo. 

Agar tidak dimarahi guru karena membaca buku lain di luar pelajaran, maka begitu sang guru mendekat, maka ia pura-pura serius menyimak. Meski demikian, ia bersyukur nilai-nilainya sangat tinggi. Bahkan untuk pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ia paling tinggi nilainya. 

Pintar ditambah dengan kelebihan energi membuatnya menjadi badung. Ia suka mengusili orang lain. Contohnya, saat ujian sekolah dengan waktu dua jam, maka dalam waktu kurang dari satu jam ia sudah menyelesaikan semua jawaban ujian. Karena itu, ia pun lalu memberikan jawaban ujian untuk teman-temannya. Misalnya Matematika, untuk menjawab soal banyak versi jawaban yang bisa dijelaskan. “Karena itu saya terkenal di sekolah, sering disetrap juga,” ucapnya sembari tertawa. 

Saat SMP, saking inginnya membaca dan tidak ada lagi buku bacaan bahasa Indonesia yang bisa ia baca, maka ia ingin membaca buku bahasa Inggris. Setiap hari ia jalan kaki dari rumahnya di Jl. Merdeka hingga Jl. MA Salmun di dekat Istana Bogor. Di sepanjang perjalanan, ia mengingat 15 vocabulary bahasa Inggris dalam sehari. Lama-lama vocabulary bahasa Inggrisnya banyak, hingga akhirnya ia bisa membaca buku dalam bahasa Inggris. Dari situ, ia kemudian pintar berbahasa Inggris. Bahkan pernah mengikuti kompetisi mengarang dalam bahasa Inggris dan menang hadiah jalan-jalan ke luar negeri. 

Terkadang, pria yang saat kecil setiap pagi jalan kaki cepat keliling Kebun Raya Bogor ini tidak ingin diganggu saat membaca. Karena itu, ia sering naik pohon mangga atau rambutan dan membaca di atas pohon. Menurutnya membaca di atas pohon membawa kenikmatan tersendiri karena tidak ada yang mengganggu. Kebetulan rumah neneknya yang memiliki usaha industri ayam petelur dan ayam potong ini cukup luas dan dipenuhi berbagai pohon. 

Kolektor Buku Einstein 

Berbagai buku ia lahap mulai dari buku novel, sejarah, cerita silat, filsafat dan lain-lain. Namun, dari berbagai buku yang ia miliki ia sangat memfavoritkan buku-buku Albert Einstein, fisikawan yang dikenal dengan teori relativitasnya. Kekagumannya pada Einstein sudah ia miliki sejak kecil, bahkan ia mengatakan ingin seperti idolanya itu. Berbagai buku, poster hingga patung kecil yang berbau Einstein ia miliki. Bahkan ia mengatakan ingin seperti ilmuwan terbesar abad 20 itu. 

Saking sukanya, saat ini ia mengaku ada sekitar 30-40 buku biografi Einstein yang ia miliki. Terlihat begitu berada di ruang tamu, di kaca meja tamu terhadap buku mengenai Einstein berbahasa Inggris. Teman-teman Rizal sangat mengetahui jika ia ngefans dengan si jenius yang lahir di Jerman ini. Tak heran, teman- temannya sering membelikan kado buku-buku mengenai Einstein jika ia berulang tahun atau jika ada buku baru mengenai pria yang mendapatkan Penghargaan Nobel dalam Fisika tahun 1921 untuk penjelasan efek fotolistrik dan pengabdiannya bagi Fisika Teoretis ini. 

Dua Istrinya Meninggal Karena kanker 

Kisah romantis Rizal Ramli dan istrinya Hj. Ir. Herawati Ramli, M.Arch (alm) dimulai saat acara musik klasik, bertempat di Student Center ITB pada tahun 1976. 

Saat itu Hera memainkan lagu-lagu klasik pada saat resital piano. Dari situ, hati Rizal bergetar saat Hera memainkan karya- karya Beethoven. Rizal pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia langsung kagum pada sosok mahasiswi arsitektur yang kurus, namun halus, rapi, cantik dan pintar memainkan lagu-lagu klasik itu. 

Meski sempat terpisah jarak karena Rizal sempat di penjara di Sukamiskin dan kemudian pada tahun 1980 Rizal melanjutkan studi di Boston University, tapi tak mampu memisahkan cinta mereka. tahun 1982 mereka menikah. Mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Dhitta Puti Saraswavati Ramli, Dipo Satria Ramli dan Daisy Orlana Ramli. Sayangnya kemudian Ramli ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh istri tercinta pada 9 Juni 2006 karena sakit kanker. 

Setelah ditinggal sang istri, pada tahun 2008, Rizal mempersunting Marijani, etnis Tionghoa asal Bangka. Sayangnya, sang istri juga mengalami sakit kanker. Rizal mengatakan ia sudah mengetahui Marijani terkena kanker sejak sebelum menikah. Marijani akhirnya tak bisa menolak takdir, pada tanggal 1 Maret 2011 Rizal kembali ditinggal istri untuk menghadap Sang Khalik selama-lamanya. [***] 


Sumber: Mempertahankan SBY Cost-nya Mahal, Rp 80 Triliun per Tahun (RMOL, 06 April 2012 17:58:00 WIB)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons