Senin, 23 April 2012

Menimbang Manfaat Kartu Inafis (Suara Merdeka, 23 April 2012)

Peluncuran kartu Indonesian Automatic Fingerprint Identification (Inafis) oleh Polri akhir pekan lalu menuai banyak kritik. Argumen utama keberatan atas Inafis adalah persoalan kemanfaatan optimal. Kartu Inafis dinilai sebagai duplikasi kartu identitas, sebab sudah ada kartu identitas e-KTP. Kritik terhadap peluncuran kartu Inafis patut dipertimbangkan dengan seksama dan serius karena persoalan kartu identitas tidak sesederhana sebatas dokumen data diri.

Dasar utama kartu identitas tentunya adalah kebutuhan pemerintah akan adanya data diri yang lengkap setiap warga negara. Data diri ini penting, bahkan sangat penting, karena terkait pula dengan akurasi data kependudukan untuk berbagai hal mulai dari proyeksi program pembangunan hingga keamanan nasional. Program pembangunan tidak akan tepat sasaran dan tepat tujuan apabila perencanaannya tidak didasarkan pada data kependudukan akurat.

Pencatatan atau penyimpanan data identitas penduduk bisa berwujud KTP, e-KTP, paspor, nomor register penduduk, dan sebagainya. Program e-KTP yang baru saja diluncurkan pemerintah merupakan langkah tepat dan strategis untuk membangun sistem bank data penduduk yang valid dan aman. Sebab, dengan e-KTP, data penduduk akan terhubung online ke seluruh penyedia layanan e-KTP sehingga meniadakan kemungkinan pembuatan KTP ganda.

Kartu Inafis tampaknya tidak berbeda fungsi dan bahkan bisa disebutkan merupakan bagian dari fungsi e-KTP. Dari namanya saja, Indone-sian Automatic Fingerprint Iden-tification, sudah terlihat bahwa Inafis berfungsi sebagai bank data sidik jari warga. Menurut Polri, Inafis selain memuat data identitas diri yang sama dengan e-KTP juga memuat nomor kendaraan, BPKB, nomor sertifikat rumah, nomor rekening di bank. Justru karena itu, Polri perlu mempertimbangkan lagi.

Fungsi pendataan pada Inafis bisa dimaksimalkan pada e-KTP. Alasan Polri bahwa dengan Inafis, pengambilan sidik jari cukup sekali seumur hidup, tidak relevan bila dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Sistem elektronik pada penyediaan KTP tentu bisa dimaksimalkan tanpa batas. Di sisi lain, faktor ke-amanan juga penting dikaji ulang. Cukup amankah jika warga me-megang kartu yang memuat seluruh data rahasia seperti tertera pada Inafis?

Alih-alih sebagai program pengaman, kartu Inafis bisa berisiko mengundang bahaya bagi pemegang kartu. Pemerintah perlu mempertimbangkan secara sangat serius dan memilah mana data idenritas warga yang termasuk dalam area kepentingan publik dan data rahasia yang termasuk dalam area privasi. Biaya Rp 35.000 untuk kartu Inafis akan membebani masyarakat apabila tidak banyak manfaat yang diperoleh. Bila perlu, batalkan pengadaan Inafis. (/)

Sumber: Menimbang Manfaat Kartu Inafis (Suara Merdeka, 23 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons