Wednesday, April 4, 2012

Menyikapi Demo Mahasiswa

Akibat demo anarkis, mahasiswa kurang dapat simpati masyarakat. Malah, ada yang tega sampai memaki-makinya alias bersikap antipati, sehingga menganggap demo mahasiswa bukan lagi sebagai penyuara suara rakyat, tetapi hanya sebagai pembuat onar. Aneh.

Mestinya, demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM didukung. Tidak malah dimaki-maki atau dianggap sebagai pembuat onar alias perusuh. Keterlaluan. Kalau tidak mau mendukung, minimal diam sajalah! Jangan terlau banyak berkomentar macam-macam.
Mestinya, mahasiswa yang turun ke jalan menolak kenaikan harga BBM itu dibantu. Diberikan ongkos, diberikan uang saku, dan diberikan makan siang gratis. Supaya mereka tetap bisa terus berdemo sampai pemerintah benar-benar tidak jadi menaikkan harga BBM.

Hari ini, yakinlah, tidak banyak mahasiswa yang tergerak hatinya untuk berdemo. Apalagi memilih anarkis. Yang banyak itu, hanya duduk manis dibangku kuliah sambil berharap jadi PNS. Ja di pekerja, jadi tukang, alias jadi sekrup pembangunan.

Yang malas-malas dan asal kuliah juga banyak. Malah terancam DO. Banyak juga yang terlibat pergaulan bebas, maksiat, narkoba, premanisme, dan penyakit hedonisme lainnya. Data-datanya tidak akan terlalu sulit untuk didapatkan. Percayalah!

Karenanya, mahasiswa yang berdemo di jalanan itu bisa dikatakan sebagai maha siswa-mahasiswa pilihan. Bukan mahasiswa pembuat onar, apalagi perusuh. Mereka sedikit-banyaknya mengerti tentang apa dan bagaimana konsekuensi yang akan terjadi, bila harga BBM dinaikan.

Mereka sedikit-banyaknya juga mengerti soal angka-angka dan aturan-aturan. Bukannya mudah sihir angka-angka yang diiringi kata-kata. Mereka tidak sepenuhnya yakin dengan angka-angka dan katat-kata milik pemerintah itu. APBN jebol! Angka-angka sekian!

Selama ini, yang namanya APBN kita tidak pernah bisa benar-benar terserap habis dan jebol oleh ulah pemerintah dan antek-anteknya sendiri. Kalau tidak percaya, coba cek di KPK dan penjara.

Mahasiswa mengerti betul tentang kemungkinan adanya politisasi di balik angka-angka dan kata-kata itu. Tidak sepenuhnya akan berjalan murni, bersih. Jika semuanya telah percaya tanpa ada rasa curiga sedikitpun, maka itulah awal dari kebangkrutan negara-bangsa ini. Gayus, Nazaruddin, dan kolega-koleganya akan tertawa terbahak-bahak.

Menurut hasil survei LSI, hampir 90 persen rakyat Indonesia tegas menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Apa lagi? Artinya, hanya ada sekitar 10 persen saja yang mendukung kenaikan BBM. Seharusnya pemerintah lebih berpihak kepada yang hampir 90 persen, bukan kepada yang hanya sekitar 10 persen itu.

Lalu, yang sekitar 10 persen itukah yang kemudian memaki-maki dan menuduh demo mahasiswa sebagai pembuat onar dan perusuh? Bisa ia, bisa juga tidak. Kalau ia, wajar saja. Mereka orang kaya-raya. Kalau tidak, sungguh terlalu! Orang miskin yang memegahkan dirinya.

Akan tetapi, diduga alasannya pasti sama, yakni karena demo mahasiswa selalu anarkis, rusuh, mengganggu, dan merusak. Kalau saja demo mahasiswa tertib dan santun, seperti anjuran Presiden SBY, pasti akan didukung dan mendapat simpati alias cap jempol dari masyarakat. Aneh.

Inilah yang sebetulnya kontradiktif. Sebab, tidak mungkin demo mahasiswa itu akan berlangsung tertib dan santun, karena mereka turun ke jalan itu atas dasar kemuakan yang sudah memuncak. Kepala boleh panas, hati harus tetap dingin. Itu bukan karakter demo mahasiswa yang sudah didasari oleh kemuakan yang sudah memuncak.

Justru demo mahasiswa itu tidak akan terjadi, apabila mereka masih menyimpan stok rasa tertib dan santun, di tengah minimnya rasa tertib dan santun yang dimiliki oleh para aparat dan pejabat pemerintahan dari atas sampai ke bawah.

Sudah anarkis pun masih tidak didengarkan, apalagi tertib dan santun. Maka, akan dibawa lalu alias dicuwekin.

Sejatinya, demo mahasiswa itu selalu didahului oleh gerakan moral. Gerakan moral yang sudah didasari oleh kemuakan yang sudah memuncak akan sangat mudah untuk terlusut menjadi gerakan politik.

Apabila gerakan mahasiswa telah tersulut menjadi gerakan politik, maka tindakan anarkisme, suruh, dan sebagainya, menjadi pilihan saja yang tidak mudah untuk terhindarkan. Sebab, gerakan mahasiswa pasti akan dihalang-halangi oleh pihak aparat keamanan yang dalam pikiran mahasiswa, justru dihidupi oleh uang rakyat.
Bukannya malah melindungi demo mahasiswa, pihak aparat keamanan justru memukuli mahasiswa. Padahal, bagi mahasiswa, demo mereka sesungguhnya juga memperjuangkan nasib mere ka yang pasti terkena dampak atas kenaikan harga BBM itu.

Karenanya, mari mendukung demo mahasiswa! Boleh jadi rasa muak dan tindakan anarkis mahasiswa akan bisa berkurang. (*)

Penulis

ERIZAL (Direktur InCoSt, Institute for Community Studies)

Sumber: Menyikapi Demo Mahasiswa (Harian Singgalang, 4 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons