Rabu, 04 April 2012

Perempuan dalam Demonstrasi

SAAT ini peran perempuan di ruang publik semakin terlihat dan tidak boleh diremehkan. Perempuan Indonesia perlahan-lahan mulai dapat menghapus stigma bahwa kehidupan perempuan bukan hanya seputar dapur, sumur, dan kasur.

Perempuan juga bisa mencari nafkah, menjadi pengusaha, bahkan menjadi pemimpin daerah ataupun pemimpin negara. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa saat ini perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Yang terbaru, drama rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa hari yang lalu juga jelas tak bisa dipisahkan dari persoalan perempuan. Rencana kenaikan harga BBM itu telah membawa dampak atas naiknya berbagai kebutuhan pokok. Tentu saja yang paling merasakan dampaknya adalah kaum perempuan, terutama ibu rumah tangga yang setiap hari harus bersentuhan dengan berbagai kebutuhan pokok tersebut. Sangat wajar jika rencana pemerintah tersebut mendapat penolakan dari berbagai elemen perempuan.

Demonstrasi saat ini memang bukan lagi didominasi kaum laki-laki, kaum perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menyuarakan aspirasinya. Apalagi hal ini telah diatur dalam Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945, yang menyatakan ‘’Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.’’
Dari sini dapat dipahami bahwa perempuan memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapat (berdemonstrasi) untuk memperjuangankan hak-haknya.

Dalam konteks negara demokrasi seperti yang dianut Indonesia, demonstrasi sejatinya memiliki arti sebagai sebuah gerakan protes yang dilakukan oleh sekumpulan orang untuk mengkritisi atau menolak berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berpihak dengan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat umum atau bahkan merugikan kelompok tersebut secara khusus.

Dalam hal ini rencana kenaikan BBM yang diusung pemerintah jelas merugikan kaum perempuan, di mana imbas dari naiknya harga BBM adalah naiknya harga sembako. Hal itu merupakan masalah bagi perempuan, karena di tangan kaum Hawa ini, pengelolaan keuangan rumah tangga dijalankan. Bahkan tidak hanya persoalan sembako, keuangan untuk pendidikan anak serta berbagai kebutuhan rumah tangga juga di tangan perempuan. Oleh sebab itu, menjadi hal yang biasa jika pada akhirnya perempuan melakukan demonstrasi, protes terhadap pemerintah, karena hak-haknya dirampas.

Anti Anarkisme

Berbeda dari kebanyak demonstrasi yang dilakukan oleh elemen masyarakat yang kebanyakan diwakili oleh kaum laki-laki, demonstrasi yang dilakukan oleh kaum perempuan biasanya berjalan damai dan jauh dari anarkisme. Hal ini bukan hanya disebabkan karena sifat dasar perempuan yang kurang suka kekerasan, akan tetapi hal itu disebabkan karena perempuan biasanya lebih mengedepankan otak dari pada otot.

Tidak mengherankan, seberapa banyak massa demonstran yang dilakukan oleh perempuan, aparat yang disiagakan untuk menjaganya relatif sedikit. Hal itu dikarenakan demonstrasi tidak akan berakhir dengan kericuhan. Bahkan jika sudah merasa lelah, biasanya para demonstran dengan sendirinya akan berangsur-angsur pulang. Kesan ini menunjukkan bahwa demosntrasi yang dilakukan oleh perempuan adalah demonstrasi efektif karena setelah menyuarakan aspirasinya, mereka akan kembali ke rumah masing-masing.

Berbeda dari demonstrasi yang dilakukan oleh para kaum laki-laki, mereka belum akan meninggalkan area demo ketika tuntutannya atau aspirasinya belum didengar. Bahkan ketika demo yang mereka lakukan tidak ditanggapi, maka pilihan yang sering mereka lakukan adalah bertindak anarkis, seperti yang dilakukan para demonstran beberapa hari yang lalu. Hal itu tak lain untuk menarik perhatian dan simpati agar apa yang mereka lakukan ditanggapi.

Perbedaan karakteristik antara laki-laki dan perempuan dalam berdemonstrasi menunjukkan perbedaan sifat antara keduanya. Laki-laki lebih senang demonstrasi dengan cara dan suasana yang ramai dan sering melakukan aksi kurang simpatik dengan melakukan tindakan anarkis. Sementara perempuan lebih senang melakukan aksi demonstrasi secara damai dan jauh dari tindakan anarkis.  

Aktivitas demonstrasi adalah sarana untuk menyampaikan protes, pendapat dan aspirasi kepada para penguasa, bukan wahana untuk menyalurkan kekerasan dan anarkisme. Apa yang telah dilakukan oleh kaum perempuan saat berdemonstrasi merupakan teladan bagaimana seharusnya demonstrasi dilakukan dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, bagi para demonstran hendaknya senantiasa melakukan aksi demonstrasi dengan cara-cara yang santun sebagaimana yang demonstrasi yang dilakukan oleh perempuan. (24)

Penulis

Noorma Fitriana M Zain, mantan pengurus Lembaga  Pengembangan Studi dan Advokasi Perempuan (LPSAP) PMII Rayon Tarbiyah, saat ini menjadi mahasiswi Pascasarjana Unnes Prodi Bahasa Inggris.
(/) 

Sumber: Perempuan dalam Demonstrasi (Suara Merdeka, 4 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons