Tuesday, April 3, 2012

Politik adalah Juga Keadaban (Suara Merdeka, 3 April 2012)

Politik, pada praktiknya berada di batas tipis antara kepentingan dan idealita keadaban. Pergulatan di seputar rencana kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga hari-hari ini, secara tersurat dan tersirat mengetengahkan cara-cara pengambilan sikap politik yang “berenang” di antara tujuan-tujuan jangka pendek dengan berinvestasi pencitraan dengan substansi keadaban: untuk apa kekuatan-kekuatan politik itu ada dan memaslahatkan keberadaan itu untuk rakyat.

Potret nyata dari kondisi berpolitik yang demikian itu adalah koalisi gabungan partai-partai penyokong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana mereka tergabung dalam kekuasaan, sekaligus bagaimana partai-partai itu tetap bermanuver dengan memainkan jurus pencitraan menuju kontestasi 2014. Perilaku politik dua kaki itu — yang tetap butuh kursi-kursi menteri tetapi bergerak seperti oposisi ñ menggambarkan penihilan keadaban dan bisa menjadi preseden perilaku.

Logikanya, jika memang memilih menyuarakan sikap yang berbeda dari pemerintah, mengapa partai-partai itu tidak menegaskan posisi sebagai oposisi seperti PDI Perjuangan? Apakah segi-segi populis yang menjadi momentum pencitraan kemudian melupakan posisi partai-partai itu sebagai bagian dari koalisi pemerintahan? Kesan “mau kursi kekuasaan tetapi enggan berhadapan dengan respons rakyat” akhirnya lebih menstigma sebagai pilihan-pilihan yang oportunistik.

Keriuhan di gedung parlemen menjelang 1 April kemarin pun seperti medan praktik untuk menguatkan realitas oportunisme politik yang membenarkan semua klasika teoretik, misalnya tesis Harold Laswell bahwa “politik adalah persoalan siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana”. Juga adagium klasik “politik adalah seni tentang berbagai kemungkinan”, atau eufemisme “dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanya kepentingan”.

Mendekatkan realitas perilaku dengan teori dan adagium-adagium klasik itu bukanlah justifikasi kita boleh kehilangan nalar jernih berpolitik. Keadaban mesti terungkap sebagai substansi tujuan untuk apa berpolitik. Politik dua kaki, dari sisi apa pun, bukan cermin keadaban yang memberi warna keteladanan. Pergulatan penetapan harga BBM menerbitkan kerinduan kita akan kematangan, keanggunan, dan kedewasaan perilaku sebagai contoh pendidikan politik.

Horison sikap partai-partai di parlemen hari-hari ini memang tak terlepas dari kepentingan menatap 2014. Mereka tidak mau kehilangan muka di hadapan rakyat, sehingga sikap yang untuk kali kesekian mengemuka merupakan investasi pencitraan. Namun apakah pemahaman “inilah politik” lantas menihilkan contoh berperilaku? Dan, mengapa sejumlah partai tidak berani menegaskan positioning mereka terhadap kekuasaan tetapi hanya memaksimalkan keuntungan dari sebuah “chaos sikap”? (/)

Sumber: Politik adalah Juga Keadaban (Suara Merdeka, 3 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons