Selasa, 03 April 2012

Turunkan Harga yang Terlanjur Naik (Harian Analisa, 3 April 2012)

PASCA PROTES rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), pemerintah diharapkan dapat mengendalikan kenaikan harga bahan-bahan, terutama sembilan bahan pokok (sembako) dan mengembalikannya ke harga semula. Sebagaimana diketahui sehubungan keputusan sidang paripurna DPR RI yang intinya harga BBM yang semula direncanakan naik per 1 April 2012 tidak jadi melainkan hanya dimungkinkan apabila fluktuasi harga 15 persen rata-rata dalam enam bulan. Menanggapi fluktuasi kenaikan harga bahan-bahan itu, Plt Gubsu H. Gatot Pujo Nugroho ST berjanji segera berkoordinasi dengan semua instansi maupun pihak kompeten agar harga bahan-bahan, terutama sembako yang sempat bergerak naik beberapa hari lalu agar diturunkan dan distabilkan kembali.

Insiatif yang diambil Plt Gubsu patut dipuji. Apalagi hal itu menyangkut kepentingan masyarakat banyak, namun kita harapkan adanya rencana koordinasi tidak sebatas wacana, tapi dapat terealisir secepatnya. Selain upaya pemerintah, mahasiswa melalui aksi demonya mampu menekan pemerintah untuk mengambil kebijakan lain, diharapkan juga bisa berperan kembali turun ke jalan namun secara tertib dan santun. Tidak memakai aksi anarkis sebagaimana yang terjadi belakangan ini. Adanya tekanan disampaikan mahasiswa terhadap para pengusaha pemilik pabrik, distributor, pemilik modal transportasi dan pedagang sendiri agar tidak menaikkan harga semena-mena, diharapkan harga bahan-bahan kembali stabil. Hingga tidak berdampak terhadap keresahan berganda yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Kenaikan harga bahan-bahan yang dipicu rencana kenaikan BBM itu seharusnya tidak terjadi, namun mengingat faktor psikologis dan tidak adanya pengawasan terhadap fluktuasi harga dari pemerintah sehingga para spekulan bisa menaikkan harga kapanpun mereka mau. Padahal bila pemerintah bertindak, terutama diawali di pemerintah provinsi harga-harga itu bisa distabilkan karena memang belum ada komponen yang bisa memicu kenaikan harga kecuali faktor psikologis sehingga aparat pemerintah bersama kepolisian bisa merazia dan turun ke pasar-pasar untuk mendata kenaikan harga yang terjadi. Misalnya soal harga semen ikut-ikutan naik,kalau BBM sudah naik dapat dimengerti distributor akan terkena tambahan biaya transportasi, namun harga BBM belum naik tapi harga semen di pasaran sudah merangkak naik. Kalau biasa harta semen di pasaran Rp.42 ribu persak per 30 kg, naik jadi Rp.45 ribu - Rp50 ribu per sak. 

Selain itu faktor penyampaian rencana kenaikan BBM sejak jauh-jauh hari dari pemerintah, ternyata ikut memberikan peluang bagi para spekukan bermain dalam menaikkan harga berbagai bahan kebutuhan masyarakat. Begitu pula aksi massa yang menjurus tindakan anarki diperkirakan juga ikut memberikan andil menaikkan harga bahan-bahan. Berkat kepanikan yang timbul, masyarakat secara diam-diam membeli barang secara berlebihan. Secara ekonomi pasar, barang sedikit di pasaran akan memicu kenaikan harga. Di sinilah keterlibatan para spekulan yang mengambil keuntungan berlebihan dengan situasi masyarakat yang panik dengan menyimpan stok bila sewaktu-waktu terjadi kerusuhan. Karena itu peranan pemerintah bersama aparat kepolisian diharapkan dapat mengembalikan harga bahan-bahan yang terlanjur naik, terutamadengan menekan distributor dan agen-agen besar komoditas masyarakat, termasuk pedagang agar tidak menaikkan harga.

Kenaikan harga bahan-bahan dampak dari rencana kenaikan BBM itu hendaknya jadi pelajaran berharga bagi kita semua. Apakah memang sebagai negara demokratis, lebih penting mengumumkannya sejak awal agar masyarakat bisa mensikapinya atau partai-partai bisa menganalisanya? Sebaliknya, bila kita bercermin dari sikap pemerintah masa orde baru. Siang dibahas, jelang pukul 00.00 WIB harga baru BBM sudah diberlakukan. Dengan demikian masyarakat dan pedagang tidak sempat berpikir dan kaum spekulan bertindak sewenang-wenang. Sebagai negara demokratis. Tentu ada harga yang harus dibayar. Terutama untuk mendidik rakyat agar lebih dewasa dalam berdemokrasi. Namun kalau tebusannya terlalu mahal. Kita bisa memilih. Tentunya yang terbaik bagi rakyat. 

Sumber: Turunkan Harga yang Terlanjur Naik (Harian Analisa, 3 April 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons