Selasa, 22 Mei 2012

Pembonceng Reformasi

Empat belas tahun bukan waktu yang pendek. Selama itu negeri ini berada di bawah era reformasi. Sejak Pak Harto (Soeharto) resmi mengundurkan diri dari kursi kepresidenan 21 Mei 1998, banyak yang berharap kondisi negeri ini akan berubah seratus delapan puluh derajat. Negara subur, rakyat makmur, semua sesuai aturan main. Tapi waktu sepanjang itu, setelah pemimpin negeri silih berganti dari BJ Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, lalu kini Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), reformasi sepertinya jalan di tempat.

Reformasi yang di awal kelahiran dianggap sebagai obat mujarab dalam upaya melakukan perubahan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, serta budaya lebih baik, ternyata masih sebatas impian. Pemerintahan yang demokratis hanya ada dalam kata-kata. Nyatanya, hukum masih pilih kasih, kemajuan ekonomi hanya dinikmati kalangan terbatas, kebebasan masih dalam batas sempit. Krisis kepercayaan yang dijadikan alasan melengserkan Soeharto kini juga mulai dialami SBY.

Ketidakadilan dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, dan hukum yang ingin dibenahi di era reformasi yang dikatakan tidak dapat ditawar-tawar, ternyata hanya omong kosong. Dukungan seluruh rakyat Indonesia, yang ditandai dengan tumpah ruahnya mahasiswa, tokoh reformasi, serta perwakilan masyarakat di kompleks gedung DPR-RI untuk memaksa penguasa Orde Baru turun "tahta", serta sampai jatuhnya korban jiwa, ternyata sia-sia. Keinginan lahirnya masyarakat yang adil dan makmur tak kunjung terwujud.

Pemerintah sekarang pun tak kunjung mampu memenuhi janji. Kepedulian yang diharapkan di segala bidang-politik, ekonomi, hukum, juga menyangkut budaya-- masih sebatas impian. Pejabat di berbagai kementerian, elite bangsa-eksekutif, legislatif, dan yudikatif-malah terkesan berlomba untuk memperkaya diri sendiri, memperlihatkan nafsu keserakahan, berupaya berkuasa secara turun-temurun.

Bukan hal aneh di Nusantara hampir tiap hari terkabar ada pejabat yang diduga, bahkan terbukti korupsi. Hukuman penjara karena korupsi bukan lagi aib. Satu masuk penjara, anggota keluarga lain coba berkuasa lagi. Seorang istri wali kota terpenjara karena terbukti korupsi, misalnya, tak malu membuat dan menyebar spanduk dan baliho dalam upaya menarik simpati masyarakat agar mendukungnya menjadi bakal calon wali kota, menggantikan suami.

Ada apa dengan negeri ini? Jangan-jangan telah dikuasai para pemboceng reformasi. Sepertinya pemimpin tertinggi di pemerintahan, Susilo Bambang Yudhoyono, perlu bersih-bersih. Cermati orang yang ada di sekeliling, periksa latar belakang mereka, baik itu pembantu resmi Presiden, penasihat, tim ini dan itu, apalagi yang tidak resmi. Mana tahu di antara mereka terdapat pembonceng yang justru dapat merusak reputasi Presiden dan keluarga.

Tak tertutup kemungkinan, di antara orang-orang di seputar Presiden justru ada yang berupaya memasang jerat untuk menguasai Presiden, agar kejahatan-termasuk korupsi-yang mereka lakukan pada masa lalu atau saat ini mendapat perlindungan. Reformasi harus dikembalikan pada tujuan. Semua itu membutuhkan keteladanan dari pemimpin, serta sistem ketatanegaraan yang benar. Jangan tunggu runtuhnya kepercayaan rakyat karena dapat berakibat munculnya perlawanan seperti akhir-akhir ini tejadi di beberapa negara.

Sumber: Pembonceng Reformasi (Suara Karya, 22 Mei 2012)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons