Sunday, June 16, 2013

Ekonomi Layu Sebelum Berkembang (Tajuk Rencana Bisnis Indonesia, 12 Juni 2013)

HARAPAN untuk mencapai pertumbuhan tinggi di sektor ekonomi nasional makin kabur seiring dengan rontoknya berbagai indikator perekonomian Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Tidaklah terlalu salah jika ada sejumlah kalangan berucap bahwa ekonomi Indonesia layu sebelum berkembang.

Jangankan untuk bertumbuh 7%, apalagi 8%, asumsi pertumbuhan ekonomi yang dalam APBN 2013 dipatok ‘hanya’ 6,8% saja kini diturunkan menjadi 6,2%. Demikian pula dengan target inflasi dari 4,9% kini malah menjadi 5,6% dan masih mungkin diubah ke angka 7% kalau harga BBM jadi dinaikkan.

Sebagian analis malah berkomentar lebih kecut, yaitu kalau ekonomi hanya bertumbuh 6,2%, praktis tidak tecermin peran pemerintah, karena konsumsi domestik saja sudah mampu menyumbang pertumbuhan sekitar 6,1%. Ini memperkuat ledekan banyak pihak selama ini bahwa pemerintah tidur saja ekonomi tetap tumbuh, sehingga sering kita dengar seloroh bahwa negara ini diselenggarakan secaraautopilot.

Penurunan berbagai penurunan indikator ekonomi tersebut menunjukkan ketidakyakinan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang tinggal punya waktu efektif untuk mengurus negara sekitar setahun lagi itu.

Penurunan indikator ekonomi ini juga, bila benar-benar terjadi, biasanya, akan segera diikuti dengan langkah penaikan suku bunga acuan SBI juga. Bila sudah demikian halnya, akibat selanjutnya mudah diduga yakni penurunan kualitas perekonomian nasional.

Multiplier effect berikutnya, jika suku bunga jadi dinaikkan, akan tidak nyaman untuk didengar, karena biaya ekonomi akan semakin mahal, meningkatnya potensi kredit macet, dan kolapsnya sektor properti yang niscaya akan diikuti oleh mandeknya beberapa industri pendukung.

Itu semua memang skenario buruk yang tidak kita inginkan, tapi bukan tidak mungkin terjadi jika tidak ada upaya serius untuk menghadangnya atau setidaknya meminimalkan skala ‘kerusakan’ yang bakal ditimbulkan.

Kalau ditelusur lebih jauh, pangkal dari gejalan kemerosotan ini terjadi, terutama, karena pemerintah tidak sepenuh hati menjaga dan merawat momentum emas yang sebenarnya sudah menghinggapi perekonomian nasional. Kepercayaan dan harapan investor global yang begitu besar untuk mengembangkan usaha di negeri ini tidak diimbangi dengan aksi nyata, misalnya, dengan membangun infrastruktur yang lebih serius.

Alokasi dana APBN lebih banyak tersedot untuk subsidi energi yang salah sasaran, khususnya untuk nomboki pembengkakan konsumsi bahan bakar minyak yang jauh di atas kuota. Dalam arti pragmatis, pemerintah lebih merelakan dana dalam jumlah tidak sedikit itu untuk memuaskan konsumsi BBM yang cenderung terbakar menjadi asap, bukan untuk menciptakan kegiatan produktif yang memiliki efek menetes bagi perekonomian bangsa ini.

Ditingkahi dengan tren penurunan permintaan berbagai komoditas ekspor Indonesia, tapi impor produk konsumsi yang menggelegak, maka lengkap sudah ‘penderitaan’ bangsa kita. Ini merupakan suatu rentetan sebab-akibat yang sebenarnya tidak perlu terjadi apabila pemerintah–dalam hal ini tentu peran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono–dapat bersikap lebih firm.

Betapa tidak. Untuk menaikkan harga BBM yang seharusnya menjadi domain pemerintah, tidak kunjung dilaksanakan hanya karena digertak oleh berbagai pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi status quo tersebut. Tampak sekali bahwa keputusan menaikkan BBM tersandera oleh kepentingan politik yakni tekanan partai lain dan ingin tetap dianggap populis.

Kita semua tentu berharap bahwa pemerintah bersama otoritas keuangan tidak menggunakan dalil ‘biasanya’, yakni begitu inflasi naik sedikit langsung diikuti dengan menaikkan suku bunga acuan, apabila gejala krisis nantinya jadi muncul. Berikanlah koridor ‘bermain’ yang agak longgar bagi pelaku usaha agar perekonomian nasional tetap bergulir sehingga bangsa ini tidak perlu teperosok di lubang yang sama untuk ke sekian kalinya.(JIBI/ems)

Sumber : Ekonomi Layu Sebelum Berkembang (Bisnis Indonesia, 12 Juni 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons