Kamis, 13 Juni 2013

Konsekwensi dan Kompensasi Kenaikan Harga BBM (Tajuk Rencana Riau Pos, 20 Mei 2013)

Sempat gonjang-ganjing didera ketidakpastian, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kini tinggal menunggu waktu. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida Alishjabana sudah menyebut besaran angka kenaikan harga BBM bersubsidi. 

Premium (naik) Rp2.000 menjadi Rp6.500 (per liter) dan solar (naik) Rp1.000 menjadi Rp5.500 (per liter). Masih ada yang belum pasti, yaitu kapan resminya harga baru itu berlaku.

Bagi pemerintah, ada plus-minusnya bila mengambil keputusan itu. Memilih opsi menaikkan harga BBM jelas lebih gampang dan mudah diterapkan. Itu di pihak pemerintah. 

Beda dengan nasib rakyat. Hal yang sudah pasti dan telah terjadi adalah konsekwensi dari rencana kenaikan tersebut. Baru saja rencana tak populer itu diumumkan, reaksi penolakan rakyat muncul di berbagai daerah. Kemarahan yang lumrah di setiap ada kebijakan kenaikan harga. 

Apalagi berdekatan tahun ajaran baru. Sementara di pasar, harga keperluan pokok terus merangkak naik. Pengusaha transportasi pun mengisyaratkan kenaikan tarif  angkutan dan berdalih sudah lama direncanakan.

Kita pun mencatat, pemerintah sudah menyiapkan skema kompensasi. Misalnya BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat), yang merupakan adaptasi dari skema Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun hanya akan diberikan dalam jangka waktu sekitar lima bulan saja. Juga disusun bentuk kompensasi  lain berupa Program Keluarga Harapan (PKH), beras untuk masyarakat miskin (Raskin), serta beasiswa untuk siswa miskin (BSM).

Apa pun bentuk kompensasi itu, kita harapkan nantinya berjalan efektif dengan pola penyaluran yang tepat bagi rakyat miskin, tidak salah sasaran. Pemerintah harus dapat memastikan, kompensasi yang diberikan akan menjamin rakyat yang sudah miskin tidak bertambah miskin.

Kita perlu terus mengingatkan, jika memang ingin menaikkan harga BBM, harus dipersiapkan betul segala aspek dan dampak dari hulu ke hilirnya sehingga tidak sampai mengganggu stabilitas di daerah, ketersediaan serta distribusi BBM tetap terjaga dan rakyat miskin tidak menjadi semakin tercekik. 

Kita sudah mendapat pengalaman pahit ketika tahun 2005 dan 2008, kenaikan harga BBM secara drastis berakibat menggilanya angka inflasi. Ya, kebijakan yang tidak terukur bakal mendorong naiknya inflasi dan tingkat suku bunga.

Karenanya, kita juga memberi apresiasi ketika ada usulan untuk menaikkan harga BBM secara bertahap tiap beberapa bulan sampai angka keekonomian yang diinginkan. Ini agar kebijakan terkait BBM ini tak menjadi beban dan subsidi tepat sasaran.***

Sumber : Konsekwensi dan Kompensasi Kenaikan Harga BBM (Tajuk Rencana Riau Pos, 20 Mei 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons