Rabu, 19 Juni 2013

Koreksi Mentalitas Penegak Hukum (Tajuk Rencana Suara Merdeka, 18 Juni 2013)

Perilaku Briptu Priya Yustianto jelas mencoreng institusi kepolisian, dan lebih luas lagi mempermalukan lembaga penegak hukum. Dalam keadaan mabuk usai berpesta minuman keras di Jalan Pahlawan Semarang, dia lalu bermain-main dengan pistolnya, menarik pelatuk tetapi tidak meledak di kepala seorang satpam.

Namun pada tembakan kedua ke kepala satpam yang lain, terjadilah tragedi itu. Satpam itu, Nuki Nugroho meninggal dengan peluru menembus kepala belakangnya. Apakah insiden maut akhir pekan lalu itu merupakan sebuah kelalaian atau apa pun, yang jelas perilaku Briptu Priya tak termaafkan dari sisi integritas penegak hukum.

Bagaimana mungkin seorang aparat yang seharusnya mengamankan masyarakat dan penegakan hukum, malah menusuk kehidupan hukum sendiri? Bagaimana mungkin seorang polisi terlibat dalam pesta minuman keras? Bagaimana pula senjata yang merupakan peranti mematikan dibuat bermainmain? Permintaan maaf yang telah disampaikan Kapolda Jawa Tengah Irjen Dwi Priyatno dan Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan kepada keluarga korban merupakan keharusan dalam interaksi sosial.

Juga merupakan pengakuan kepolisian telah melakukan sebuah kesalahan lewat representasi perilaku Priya Yustianto. Tak cukup dengan itu, inilah mo-mentum kali kesekian bagi polisi untuk berintrospeksi, mengevaluasi sistem pembinaan personel dan pengawasan.

Senjata api merupakan bagian dari kelengkapan tugas polisional aparat, tetapi bagaimana seandainya pistol itu berada di tangan pribadi yang labil? Pertanyaannya, tentu, bagaimana seharusnya agar mindsetperilaku, sikap, dan karakter seorang anggota polisi terjaga dalam stabilitas koridor mental penegak hukum? Ya, betapa sering kita mencatat penggunaan senjata api secara menyimpang, mendatangkan bahaya, bahkan merampas nyawa orang-orang yang tidak berdosa.

Insiden di Semarang itu jelas menunjukkan masih ada sesuatu yang salah dalam mekanisme pembinaan personel anggota polisi, setidak- tidaknya kita lihat sebagai bias dalam unjuk eksistensi diri dan kelembagaan melalui pamer kekuatan yang disimbolisasi oleh seragam dan senjata. Inilah sesungguhnya potret "jagat kecil" kekuasaan aparat penegak hukum, ketika pada ruang "jagat besar" kita juga menangkap berbagai pelanggaran sebagai penyimpangan kewenangan dan kekuasaan. Jangan kita sepelekan insiden penembakan yang berkesan mainmain itu.

Sekali lagi, inilah bagian dari momentum koreksi disiplin diri dan kelembagaan anggota kepolisian. Jika tidak ada proses yang memuat kekuatan penjeraan, bukan tidak mungkin kejadian seperti itu akan berulang dalam berbagai bentuknya. Dalam mobilitas sosialekonominya, masyarakat membutuhkan jaminan keamanan, salah satunya tentu dari perlindungan polisi yang teguh pada integritas mentalnya.

Sumber : Koreksi Mentalitas Penegak Hukum (Suara Merdeka, 18 Juni 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons