Minggu, 16 Juni 2013

Langkah Tepat Bank Indonesia (Metro View, 14 Juni 2013)

PUTUSAN Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin merupakan langkah yang tepat untuk menenangkan keadaan. Indeks Harga Saham Gabungan yang tertekan dalam beberapa hari terakhir, langsung berbalik arah dan kembali bergerak ke arah positif.

Pilihan menaikkan BI rate dari 5,75 persen menjadi 6 persen memang tidak terhindarkan. Semua indikator terhadap nilai tukar rupiah menunjukkan warna merah, sehingga harus diambil respons untuk mengembalikannya ke jalur normal.

Dengan menaikkan tingkat suku bunga BI rate memang mengubah kecenderungan penurunan tingkat suku bunga untuk menekan cost of funds bagi dunia usaha. Namun di tengah situasi yang berubah dan cenderung melemahkan nilai tukar rupiah, kita tidak mungkin menggunakan kaca mata kuda.

Hanya saja langkah yang ditempuh BI bukanlah obat yang menyelesaikan persoalan. Saat berbicara di acara Pertemuan Puncak Forum Pemimpin Redaksi di Bali, Gubernur BI Agus Martowardojo mengharapkan pemerintah untuk bersama-sama mengambil langkah menyelamatkan gangguan di sektor moneter.

Nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp10 ribu per dollar AS, menurut Gubernur BI, tidak sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Dalam kondisi sekarang ini nilai tukar rupiah yang masuk akal itu berada pada kisaran Rp9.600 hingga Rp9.800 per dollar AS.

Memang tidak bisa terhindarkan faktor pasar keuangan global terhadap nilai tukar rupiah. Peningkatan rating Amerika Serikat oleh Standard & Poors membuat arus modal sedang bergerak ke AS. Akibatnya menyedot dollar AS di banyak negara dan itu menekan nilai tukar mata uang negara lainnya.

Kita memang sedang hidup di era yang terbuka. Suka tidak suka kebijakan negara lain akan mengimbas kepada kita. Setiap negara selalu mendahulukan kepentingan negara. Untuk negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang besar, mereka selalu diuntungkan oleh kebijakan ekonomi yang diambil.

Lihat saja Jepang yang sebenarnya sedang terpuruk perekonomiannya dalam waktu yang sangat panjang. Raksasa-raksasa industri Jepang satu per satu bertumbangan. Bahkan mulai disebut-sebut sebagai era "the end of Samurai".

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tidak mau membiarkan negerinya terpuruk. Ia menempuh langkah yang kontroversial dengan melemahkan nilai yen. Dengan melemahnya nilai yen secara drastis, otomatis produk-produk Jepang menjadi lebih murah dan mereka kembali mampu bersaing dengan negara-negara lain.

Keputusan sepihak yang dilakukan Jepang memang diprotes oleh banyak negara. Namun semua negara itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kebijakan PM Abe, sebab itu merupakan bagian dari upaya Jepang terhindar dari kehancuran.

Pengalaman Jepang menunjukkan tentang pentingnya kebijakan fiskal dan moneter dilakukan secara terintegrasi. Langkah itu akan bisa memperkuat perekonomian nasional dan tidak goyah menghadapi tekanan dari luar.

Kita jarang untuk memanfaatkan kedua instrumen itu untuk memperkokoh perekonomian kita. Kita malah kadang-kadang mengambil kebijakan yang bertolak belakang. Akibatnya, kita harus mengalami keterpurukan yang tidak perlu.

Sekarang ini kita sedang menghadapi tekanan moneter yang sebenarnya bisa membahayakan perekonomian kita. Hanya saja respons kebijakan fiskal yang diambil begitu lamban. Tekanan yang dilakukan DPR dalam urusan subsidi bahan bakar minyak, membuat pemerintah tidak leluasa untuk menerapkan kebijakan fiskalnya.

Kita berulangkali mengingatkan pentingnya apa yang disebut sebagai platform nasional. Partai-partai politik tidak bisa bersikap partisan untuk kepentingan bersama bangsa. Ketika kita terjebak dalam politik partisan, maka kita tersandera oleh persoalan yang menyulitkan kita sendiri.

Energi negatif pada kita memang cenderung tinggi. Akibatnya, kita terus saja melukai diri kita sendiri. Kita asyik dengan hal-hal yang sepertinya baik dan prorakyat, tetapi dalam jangka panjang sebenarnya membawa kita terjerumus dalam kondisi yang memurukkan kehidupan kita bersama sebagai bangsa.

Itulah yang sering kita katakan tentang pentingnya memiliki banyak negarawan. Sebab, negarawan selalu memikirkan jauh ke depan dan mendahulukan kepentingan negara. Beda dengan politisi yang tunavisi dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Sumber : Langkah Tepat Bank Indonesia (Metro TV News, 14 Juni 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons