Kamis, 13 Juni 2013

Pemerintah Kehilangan Momen (Tajuk Rencana Riau Pos, 12 Juni 2013)

Muncul berita bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM)  akan dinaikkan pada 18 Juni pekan depan.  

Hal ini berdasarkan penjelasan Menteri Keuangan, Chatib Basri usai menghadiri rapat terbatas terkait kenaikan harga BBM, Senin (10/6) lalu.

Chatib yakin SBY akan menyampaikan kenaikan BBM 18 Juni, karena sosialisasi sudah  dilakukan di media-media, bahkan anggaran untuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat  (BLSM) pun sudah disiapkan. Intinya  subsidi BBM itu akan dialihkan ke program pro rakyat.

Kita heran, mengapa kebijakan itu ditetapkan di saat menjelang Ramadan (sekarang sudah Bulan Syakban), dan kebijakan itu mengapa dilakukan di saat rakyat akan menyekolahkan anaknya, ada yang masuk TK, SD, SMP, SMA bahkan di bersamaan dengan masuk perguruan tinggi. 

Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Memasuki bulan-bulan banyak pengeluaran, di saat itu pula pemerintah menaikan BBM. 

BBM tidak naik saja rakyat sudah menjerit. Lihat biaya pendidikan, yang katanya gratis, kenyataannya biaya masuk sekolah berlibat-lipat dibandingkan masa Orde Baru. 

Bahkan kalau masa Orde Baru, anak tak pakai sepatu masih dimaklumi, tetapi sekarang sepatu pun harus seragam. Pakaian pun beragam yang harus dibeli, mulai dari pakaian merah putih, pramuka, olahraga dan baju Melayu. 

Itu baru bagian kecil dari keperluan biaya pendidikan, masih banyak lagi biaya lainnya, mulai dari buku sampai kegiatan ekstrakurikuler dan lainnya. Pokoknya pendidikan gratis hanya selogan, malah terlalu mahal.

Nah di saat pengeluaran dana sedemikian banyaknya, mengapa pemerintah menaikkan harga BBM. Bukankah kita sudah tahu bahwa kenaikan BBM berdampak pada harga Sembako, bahkan harga jengkol pun ikut meroket, tetapi mengapa tetap bertahan dengan sikap ini. 

Jika pemerintah tetap menaikan harga BBM di bulan penerimaan siswa baru dan menjelang puasa ini, maka artinya pemerintah tidak mempertimbangkan kondisi masyarakat. 

Apalah artinya subsidi Rp200 ribu yang diterima rakyat tetapi pengeluaran meningkat lebih dari subsidi itu, itu kan artinya sama dengan bohong.

Selalu saja pemerintah menganjurkan agar rakyat berhemat atau dalam bahasa lainnya mengencangkan ikat pinggang, tetapi kalau uang yang harus dihemat itu tidak ada, apa yang harus dihemat. Keperluan menjelang penerimaan siswa baru, dan saat menjelang puasa dan Hari Raya Idul Fitri itu sangat tinggi. 

Tradisi bangsa ini berbeda dengan bangsa lain. Kalau di Arab, Hari Raya Idul Fitri itu tidak terlalu berlebihan dilakukan perayaannya, tetapi di Indonesia, Malaysia, Brunei, perayaan Idul Fitri bersama keluarga itu adalah keharusan. 

Nah, ini seharusnya menjadi pertimbangan Presiden SBY menaikkan BBM, bahwa kultur bangsa dalam menyikapi Hari Raya Idul Fitri berbeda dengan bangsa lainnya. Perlu banyak persiapan yang serba baru.

Soal kenaikan BBM ini kesan yang muncul, pemerintah selalu saja tidak mempertimbangkan sisi momen. Selalu saja pemerintah tidak belajar dari kebijakan-kebijakan menaikkan BBM pada tahun-tahun sebelumnya.

Jangan salahkan jika pedagang menaikan harga barang terlabih dahulu, sebab pemerintah yang memulainya. Bahkan bisa dikatakan pemerintah yang menggerakkan para pedagang itu menaikan harga barang.

Rakyat tidak akan melakukan aksi penolakan jika saja kebijakan itu tepat waktu. Semoga pemerintah mempertimbangkan aspek momen ini. 

Sebagaimana hasil survei BPS seharusnya pemerintah menaikkan harga BBM itu pada April lalu.  Jika demikian, pemerintah sudah kehilangan momen. 

Tetapi apa boleh buat, harga-harga sudah mulai naik, sementara kenaikkan BBM masih berupa wacana. Masih wacana saja harga keperluan pokok sudah naik, apalagi setelah naik?*** 

Sumber :  Pemerintah Kehilangan Momen (Tajuk Rencana Riau Pos, 12 Juni 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons