Thursday, June 13, 2013

Perlu Kompensasi BBM Lebih Permanen (Tajuk Rencana Suara Merdeka, 30 Mei 2013)

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) segera terealisasi. Diperkirakan premium dinaik­kan menjadi Rp 6.500, dan solar Rp 5.500 per liter pada Juni mendatang. Implikasi kenaikan harga ini dipas­tikan bakal sangat banyak, terutama menimpa masyarakat yang ber­penghasilan pas-pasan dan miskin. Daya beli mereka pasti akan terimbas. Namun Menteri Keuangan Cha­tib Basri memastikan pemerintah telah menyiapkan paket kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi untuk rakyat miskin.

Bentuk kompensasi tidak hanya bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebesarRp 150 ribu per bulan selama lima bulan, karena ini hanya merupakan kompensasi pembuka dari program lain. Kompensasi lain bagi masyarakat miskin meliputi beras untuk masyarakat miskin (raskin), program keluarga harapan (PKH), infrastruktur desa dan padat karya. Mengingat BLSM bersifat sementara, hanya diberikan selama lima bulan, maka pemerintah perlu memberikan prioritas bagi kompensasi yang lebih permanen.

Prioritas ini dalam jangka panjang diharapkan melindungi masyarakat miskin dari dampak kenaikan harga BBM, tidak hanya terfokus pada pemberian BLSM yang setelah berhenti diberikan justru menimbulkan kekosongan. Intinya, perhatian perlu diberikan untuk memitigasi dampak kemiskinan. Pemerintah perlu membuka lapangan kerja yang lebih luas dengan berbagai program dan proyek, terutama yang padat karya. Di samping juga bantuan raskin serta PKH, yang mampu tetap menjaga kesehatan masyarakat.

Pemerintah menyiapkan program kompensasi untuk 15,5 juta rumah tangga miskin (RTM) dengan total anggaran Rp 30,1 triliun. Ada tambahan tiga bulan alokasi beras bagi RTM dengan harga jual Rp.1.600/kg dan maksimal pembelian 15 kg. Lalu menambah nilai bantuan PKH menjadi Rp 1,8 juta untuk 2,4 juta rumah tangga sangat miskin. Program bantuan siswa miskin (BSM) untuk anak SD, SMP, dan SMA diperluas menjadi 16,6 juta siswa. Juga berbagai program pembangunan infrastruktur.

Kompensasi permanen juga lebih menjamin kehidupan warga manakala dampak terjadi dalam aktivitas keseharian. Kenaikan harga BBM sudah pasti diikuti dengan kenaikan tarif angkutan umum, apalagi sudah ditetapkan pemerintah tidak akan memberikan insentif kepada sektor transportasi. Biaya transportasi sehari-hari akan me­ningkat. Sementara dampak berikutnya adalah kenaikan harga-harga secara umum, sebagai konsekuensi peningkatan biaya distribusi barang-barang antardaerah.

Sembari menjalankan berbagai macam program penanggulangan, pemerintah perlu mengatasi akar masalah yang utama, yakni ketergantungan terhadap konsumsi BBM. Perlu diambil kebijakan untuk mendorong angkutan umum menggunakan bahan bakar alternatif, terutama bahan bakar gas. Ketika harga minyak dunia naik, bahan bakar transportasi umum tak akan terkena imbasnya. Pada akhirnya juga akan mengamankan masyarakat dari kenaikan biaya angkutan dan kenaikan harga barang-barang.
(/) 

Sumber : Perlu Kompensasi BBM Lebih Permanen (Tajuk Rencana Suara Merdeka, 30 Mei 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons