Selasa, 17 September 2013

Perempuan dalam Pusaran Kasus Korupsi (Padang Ekspres, 11 Mei 2013)

KORUPSI dan perempuan. Dua kata tersebut seolah tak bisa dipisahkan dalam penegakan hukum. Di situ ada kasus korupsi, di situ pula dipastikan ada dugaan keterlibatan perempuan. Entah perempuan sebagai bumbu-bumbu penyidikan atau memang benar-benar terlibat dalam kasus korupsi.

Tahun lalu kita disuguhi perempuan sebagai tersangka yang kemudian menjadi terdakwa kasus korupsi. Mereka, antara lain, Miranda Goeltom (kasus suap cek perjalanan dalam pemilihan dewan gubernur BI), Wa Ode Nurhayati (kasus korupsi dana proyek infrastruktur daerah), Angelinda Sondakh dan Mindo Rosalina Manullang (kasus korupsi pengurusan anggaran proyek wisma atlet SEA Games 2011), serta istri M. Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni (kasus korupsi proyek PLTS di Kemenakertrans).

Awal tahun ini peran perempuan bergesar dari pelaku menjadi pelengkap kasus korupsi. Subjek tetap laki-laki. Perempuan menjadi warna-warni pengungkapan kasus korupsi. Dimulai dari Irjen Djoko Susilo (kasus korupsi proyek simulator SIM di Korlantas Mabes Polri) hingga Ahmad Fathanah (kasus korupsi pengaturan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian).

Pada kasus Djoko terungkap bahwa perilaku korup bersinggungan dengan praktik poligami. Istri muda diduga dimanfaatkan untuk menyamarkan dan me­nyembunyikan harta yang diduga berasal dari kasus korupsi. Selain kasus korupsi, modus seperti itu menjerat Djoko sebagai tersangka kasus pencucian uang.

Sementara itu, pada kasus Fathanah, kita bisa menyaksikan bahwa praktik korupsi rawan perilaku seks menyimpang. Dengan uang melimpah, Fathanah begitu mudahnya menjerat banyak perempuan cantik. Mereka rata-rata terbuai dengan rayuan Fathanah. Tentu saja perilaku Fathanah tersebut tidak bisa diterima akal sehat karena pria asal Makassar itu sudah memiliki istri empat!

Fenomena perempuan dan kasus korupsi tidak bisa dilihat dari sudut pandang relasi gender. Sebab, sepak terjang perempuan tersebut tidak menunjukkan kualitas jati dirinya sebagai perempuan.

Sebaliknya, perempuan terjebak pada kekuasaan dan perilaku menyimpang pada dunia patriarkis. Pendek kata, perempuan tersebut menjadi objek kepentingan laki-laki dalam praktik korupsi. Kini saatnya perempuan berani bersikap. Mereka harus menunjukkan sisi positif sifat feminin yang diyakini selaras dengan semangat antikorupsi. Selain itu, mengoptimalkan kontrol sosial untuk mengimbangi kekuasaan (pria) yang rawan penyalahgunaan wewenang.

Ingat, korupsi ada karena kesempatan. Nah, kesempatan itulah yang seharusnya bisa ditutup perempuan. Kita tentu tidak menginginkan ada lagi perempuan-perempuan yang diperiksa dalam kasus korupsi. Cukup sudah perempuan di sekitar Fathanah yang terakhir. Jangan sampai ada perempuan yang terjebak lagi pada pusaran kasus korupsi. Ungkapan tentang bahaya godaan harta, takhta, dan wanita rasa-rasanya sudah tidak relevan lagi bila kaum perempuan berani bersikap dan bertindak. (*)

Sumber : Perempuan dalam Pusaran Kasus Korupsi (Padang Ekspres, 11 Mei 2013)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons