Minggu, 12 Januari 2014

Halaman Dalam Jejak Anas, dari Cikeas hingga Hambalang

NEFOSNEWS, Jakarta – Karir politik cemerlang Anas Urbaningrum, meredup gara-gara korupsi Hambalang terendus KPK. Setelah Nazaruddin “bernyanyi” pada 22 Juli 2011. “Ini baru permulaan,” kata Anas. Benarkah ada halaman berikutnya?

Setelah ditahannya Anas, seluruh rakyat berharap agar kasus korupsi ini dibongkar habis. Apalagi, Anas pernah menyebutkan dalam pidatonya, sesaat setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang, bahwa ini baru halaman pertama.

“Barangkali ada yang berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini saya nyatakan, ini baru permulaan. Ini adalah awal sebuah langkah berat. Ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama untuk kebaikan," kata Anas saat ditetapkan menjadi tersangka Hambalang pada 22 Februari 2013.

Tentu saja, kalimat itu ditafsirkan masyarakat bahwa akan banyak kejutan yang bakal dibacakan Anas di halaman-halaman selanjutnya. Termasuk harapan bahwa Anas akan menyebut nama-nama yang lebih berpengaruh dari dirinya.            

Sebenarnya bagaimana skandal Hambalang terungkap? Berawal saat KPK menetapkan Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, sebagai tersangka dalam kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang 2011.                  

Menariknya, sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Nazaruddin sempat melarikan diri dari tanah air sejak 23 Mei 2011. Baru pada 31 Mei 2011, dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Pada 8 Agustus 2011, Nazaruddin ditangkap oleh Kepolisian Internasional (Interpol) atas permintaan KPK. Ia ditangkap di Kolombia dan dikembalikan ke tanah air beberapa hari kemudian.  

Sejak itulah, Nazaruddin yang barangkali sakit hati, mulai membuka tabir berbagai korupsi yang dilakukan para elite politik, termasuk para elite Partai Demokrat. “Nyanyian” Nazaruddin membuat Andi Mallarangeng (mantan Menpora) ditahan KPK sebagai tersangka Hambalang. Termasuk membuat Angelina Sondakh menderita dengan hukuman 12 tahun penjara.

Bahkan, Nazaruddin kepada KPK mengatakan bahwa dia diminta mencarikan dana untuk pencalonan Anas sebagai Presiden pada Pilpres 2014 ini. Nazarudin menanggapinya sebagai guyonan.

Pada 21 Februari 2012, Nazaruddin menyebut ada aliran uang Hambalang ke kongres Partai Demokrat yang digelar 20-23 Mei 2010 di bandung, sebesar Rp 100 miliar. Uang itu buat para pendukung Anas. Sebelumnya Nazaruddin juga sudah menuding Anas terlibat mengurusi proyek Hambalang dan menerima Toyota Harier seharga Rp 670 juta.

Pada 9 Maret 2012, Anas yang masih menjabat Ketua Umum Partai Demokrat bereaksi terhadap tudingan Nazaruddin. Dia mengucapkan kalimat yang kemudian diingat publik. "Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas," sumbarnya di Kantor DPP Partai Demokrat, Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Hampir setahun setelah sesumbar, Anas dinyatakan sebagai tersangka kasus Hambalang, pada 22 Februari 2013. Anas kemudian menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada 24 Februari.

KPK menjerat Anas dengan Pasal 12 Huruf a atau Huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 12 UU Pemberantasan Tipikor antara lain menyebutkan, "Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar".

Huruf a dan b dalam Pasal 12 UU Pemberantasan Tipikor, memuat ketentuan pidananya, yakni pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya.

Sebenarnya terkait kasus Hambalang, Athiyyah Laila, isteri Anas, turut diperiksa. Sebab Athiyyah menjabat mantan komisaris PT Dutasari Citralaras yang merupakan salah satu subkontraktor PT Adhi Karya dalam proyek Hambalang senilai Rp 1,52 triliun. Perusahaan itu juga dipimpin Mahfud Suroso, yang kerap disebut orang dekat Anas. Penyidik KPK pun melakukan penggeledahan di rumah Athiyah untuk mencari jejak-jejak tersangka Mahfud Suroso.

Pada penggeledahan yang dilakukan KPK di rumah Athiyah Laila, pada Selasa (12/11/2013), penyidik menyita paspor Athiyah, telepon genggam milik Athiyah dan Anas, serta uang Rp 1 miliar yang disebut uang kas ormas PPI yang didirikan Anas. Status Athiyyah Laila masih sebagai saksi. Tapi sudah dicekal ke luar negeri.

Anas SBY Muda

Siapa sebenarnya Anas? Sejak kuliah di Unair Surabaya, ia aktif di HMI hingga terpilih sebagai Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selanjutnya, pria kelahiran 15 Juli 1969 ini, menjadi anggota Tim Revisi UU Politik 1988 dan anggota Tim Seleksi Parpol peserta Pemilu 1999. Dunia politik kian lekat pada dirinya, setelah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2005 yang bertugas menggelar Pemilu 2004.

Pemilu 2004 tercatat sukses mengantar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden. Sayang kesuksesan KPU menggelar pemilu ternoda kasus korupsi pengadaan logistik dan penyuapan anggota BPK. Anas pun sempat bersaksi di persidangan kasus tersebut. Namun, kesaksian Anas tak pernah berlanjut, meski ada dugaan Anas ikut menerima dana.

Pada 8 Juni 2005, Anas mengundurkan diri dari anggota KPU. Anas pun bergabung dengan Partai Demokrat. Anas sukses menjadi anggota DPR melalui Pemilu 2009. Dan tak lama kemudian, dia terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2010-2015 lewat Kongres Bandung.

Bagaimana hubungannya dengan SBY? Dulu, Anas kerap disebut-sebut sebagai SBY muda lantaran sikap dan gayanya sangat mirip dengan SBY. Selain itu, keduanya juga sangat dekat. Hal ini ditunjukkan lewat kepercayaan yang diberikan SBY. Pada 2009, misalnya, Anas ditunjuk SBY sebagai tim inti pemenangan pasangan SBY-Boediono.

Kasus Century menjadikan hubungan keduanya kian romantis. Anas diamanatkan Partai Demokrat untuk mengawal Pansus Angket Century dengan terlibat sebagai anggota. Anas terlibat aktif dalam mengamankan Pansus Angket Century. Berakhirnya Pansus Angket Century pada Maret 2010, sepertinya menjadi akhir masa romantis SBY-Anas.

Dua bulan berikut, ketidak-akuran keduanya mulai terlihat. Tepatnya saat Kongres II Partai Demokrat di Bandung, Jawa Barat. Maklum, SBY dan Cikeas dikabarkan mendukung Andi Mallarangeng sebagai Ketua Umum Demokrat. Tapi Anas justru menggalang kekuatan sendiri dan keluar sebagai pemenang. Konon, kemenangan Anas membuat SBY tak nyaman.

Tak sampai setahun menjabat Ketua Umum Partai Demokrat, Anas mulai terguncang dengan “nyanyian” Nazaruddin tadi.

Inikah akhir dari segalanya? Anas justru menyebutnya sebagai permulaan dan baru halaman pertama.

Akankah Anas segera membuka halaman kedua dan halaman-halaman berikutnya? Bisa saja hal itu diungkapkannya dalam persidangan di Pengadilan Tipikor nanti. Tentu saja dengan catatan, jika Anas benar-benar memiliki keberanian dan keteguhan hati untuk mengungkap kebenaran.

Alhasil, setelah selama ini, tak salah jika ada dugaan Anas sebenarnya memang tak punya halaman-halaman berikutnya. Atau dia kehilangan halaman itu. Atau dia sedang merancang halaman itu. Satu hal yang pasti, Anas kini sedang membuka halaman-halaman baru di balik jeruji KPK. Siapa yang menabur angin, siapa yang menuai badai. Siapa?

(yt astuti/kukuh bhimo nugroho)

Sumber : Halaman Dalam Jejak Anas, dari Cikeas hingga Hambalang (NEFOSNEW, 1 Januari 2014)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons