Thursday, November 20, 2014

Buka-bukaan Faisal Basri: Mulai Mafia Migas Hingga Petral

Jakarta -Menteri ESDM Sudirman Said menunjuk Faisal Basri menjadi Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas). Tujuannya untuk membuat tata kelola migas transparan dan memberantas mafia.

Faisal memimpin tim ini selama 6 bulan untuk mengkaji secara menyeluruh sistem di sektor hulu minyak dan gas bumi. Tim ini nantinya akan memberikan kesimpulan yang dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan bagi Menteri ESDM dan Menteri BUMN. Terutama dalam membersihkan sektor ini dari praktik mafia migas.

Kemarin, Selasa (18/11/2014), detikFinance memiliki kesempatan untuk wawancara khusus dengan Faisal di Hotel Shangri-La. Berikut petikan wawancaranya.

Sebelum ke inti tugas tim ini, siapa mafia migas di Indonesia?
Mafia migas adalah para pemburu rente yang memiliki kedekatan dan pengaruh terhadap para pejabat tinggi pengambil keputusan yang berdampak pada tidak optimalnya produksi migas, inefisiensi, dan ekonomi biaya tinggi pada penyediaan BBM, serta mata rantai suplai gas. Hal tersebut juga difasilitasi oleh kelemahan peraturan yang berlaku.

Bagaimana cara mafia ini bermain di sektor migas kita?
Mereka (mafia migas) ini sudah masuk ke segala lini dan mempengaruhi. Tidak hanya di minyak, di gas juga sudah ada mafianya. Seperti alokasi gas, mau diekspor, diberikan ke PLN, untuk pupuk, atau untuk industri? Tentunya mereka senang kalau gasnya diekspor, dia dapat fee. Di situlah permainannya.

Tugas Tim ini untuk membersihkan mafia migas?
Saya itu diberi 4 tugas pokok untuk mereformasi tata kelola migas di Indonesia. Tapi kami akan tambah sendiri nantinya jadi 5-7 tugas. Tambahan tugas itu salah satunya seperti memasukkan azas keadilan antar generasi dalam pengelolaan migas. Jangan sampai migas dihambur-hamburkan sekarang, sehingga di masa depan jumlahnya tinggal sangat sedikit.

Migas ini kan sesuatu yang tidak terbarukan. Jadi kalau generasi sekarang mengambil banyak, apalagi dijual dengan harga yang murah, anak-cucu kita hanya kebagian minyak sangat sedikit. Oke kita ambil banyak minyaknya, tapi harus dimanfaatkan sumber daya alam ini untuk mempermudah generasi mendatang untuk mendapatkan migas.

Kita tahu, cadangan minyak nasional saat ini hanya tersisa 3,6 miliar barel. Dengan produksi Januari-September rata-rata 792.000 barel per hari, maka diperkirakan cadangan minyak nasional akan habis 13 tahun lagi. Jadi anak-cucu kita 13 tahun lagi sudah nggak punya minyak. Mereka harus beli minyak dengan harga internasional, yang kita nggak tahu lagi berapa harganya. Kan nggak adil.

Ini fakta, produksi kita turun terus. Dulu 1981 produksi minyak mencapai 1,6 juta kiloliter (KL) per hari, tapi kebutuhannya hanya 390.000 barel per hari. Sekarang produksi kita hanya 792.000 barel per hari tapi kebutuhannya 1,6 juta KL per hari.

Pada 2002, neraca perdagangan migas Indonesia masih surplus US$ 300 juta. Namun pada 2013, sudah defisit US$ 27,7 miliar. Apalagi kondisi kilang minyak Indonesia sekarang semuanya berusia tua. Kali terakhir Indonesia membangun kilang adalah 20 tahun yang lalu, sehingga ongkos produksi BBM jadi mahal, bahkan lebih mahal 4% daripada harga MoPS (harga impor BBM dari Singapura). Jadi makin banyak produksi (BBM) justu makin rugi

Apa gol yang diharapkan dari Tim Reformasi Tata Kelola Migas?
Tugas saya membuat sektor ini menjadi transparan. Menelusuri dari hulu sampai hilir sumbatan-sumbatan. Hipotesisnya, ini ada kelompok-kelompok kepentingan yang sangat nyaman berada di kekeruhan ini.

Para mafia migas ini seperti ikan lele yang sangat senang berada di air yang keruh. Sebaliknya, lele tidak akan bertahan di air jernih. Lele senang hidup di lumpur, di air yang keruh. Kalau lele ditaruh di akuarium yang jernih nangis dia, mati dia.

Jika air terus keruh, maka ikan-ikan yang bagus tidak mampu bertahan. Sektor migas ini seperti akuarium, tapi akuariumnya butek karena dikuasai mafia. Yang paling cepat mati siapa? Ikan mas koki. Pelaku-pelaku yang baik tidak bisa bertahan di tempat itu, matilah orang-orang baik itu.

Ketika pelaku-pelaku yang baik tidak bisa bertahan, maka yang tersisa hanya para mafia. Mereka melanggengkan cengkeramannya dengan mendekati penguasa. Munculah yang namanya lele, ikan sapu-sapu yang hidupnya begitu. Ikan-ikan jahat ini sekali makan banyak, dan mereka ingin mempertahankan kenikmatannya itu. Caranya, dia dekati kekuasaan.

Mafia migas ibarat orang yang suka di tempat gelap. Komite Reformasi Tata Kelola Migas akan coba menerangi sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi. Di lorong-lorong gelap, di situlah mafia. Tugas kami adalah menerangi lorong-lorong itu, supaya setan itu tidak berada di situ. Coba taman-taman kota ini gelap, itu remaja-remaja di situ. Bikin terang saja, nggak akan berani yang indehoi. Jadi ini simpel sebetulnya.

Orang banyak bilang, mafia ini paling bermain di Petral, benar?
Tahu nggak satu perusahaan yang ikut tender di Petral? Nggak kan? Siapa yang punya perusahaannya, ambil minyak dari mana, harganya berapa, itu bagaikan akuarium yang butek. Nggak jelas bagaimana prosedur dan pemainnya.

Tugas kami adalah menelusuri dari hulu sampai hilir sumbatan-sumbatan itu. Hipotesisnya, ini ada kelompok-kelompok kepentingan yang sangat nyaman berada di kekeruhan ini.

Petral sendiri berdirinya di Hong Kong, sekarang beroperasi di Singapura. Walaupun 100% sahamnya milik Pertamina, kami sendiri (Komite Reformasi Tata Kelola Migas) tidak bisa begitu saja minta datanya atau melakukan audit publik. Yang bisa minta datanya Petral ya pemegang sahamnya yaitu Pertamina. Sementara Pertamina milik pemerintah. Jadi atas permintaan pemegang sahamnya kita bisa dapat data.

(Finance Detik, Rabu, 19/11/2014 16:55 WIB)

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons