Rabu, 20 Mei 2015

Demo Akbar Mahasiswa Memble?


Rimanews - Gembar-gembor bahwa mahasiswa akan mengerahkan massa besar-besaran untuk memprotes kebijakan pemerintah sepertinya hanya isapan jempol. Bukan hanya karena mundurnya jadwal, dari tanggal 20 Mei (hari ini) ke tanggal 21 Mei, tetapi geliat dan tanda-tanda penggalangan bala mahasiswa tak terlihat sebesar yang mereka suarakan dengan lantang beberapa waktu lalu.

Janji demo massal di seluruh kota besar di tanah air dan mengepung Istana Negara menuntut aneka perbaikan hingga isu melengserkan Jokowi tampaknya terlalu muluk, seperti janji politisi saat kampanye.

Janji yang sama sekali tak meyakinkan tersebut setidaknya dapat dilihat dari sejumlah faktor. Pertama, mahasiswa sekarang tak memiliki pengalaman menggalang dan menggerakkan massa di jalanan untuk menyuarakan kebenaran dan menjadi corong rakyat.

Pengalaman mahasiswa saat ini lebih kepada mengkoordinir massa untuk ke studio televisi menjadi juru sorak (tepuk tangan) di berbagai acara, bahkan di acara-acara yang tak memiliki kaitan dengan intelektualitas sekali pun.

Jaket almamater hanya mereka pakai sebagai alat supaya tampak kompak dalam sorotan kamera atau melindungi mereka dari paparan dinginnnya AC studio. Langka ada cerita mereka menggunakan jas untuk identitas intelektual dan melindungi diri dari terik di jalanan.

Bagaimana mungkin, mahasiswa yang hanya jago selfie di studio atau hobi foto bersama artis, politisi dan pejabat lalu dipamerkan di medsos memiliki nyali melawan rejim? Bagaimana mungkin orang yang bangun pagi saja takut berani membela kepentingan orang lain (rakyat)? Asumsi ini mungkin terlalu sadis dan tampak meremehkan, tapi fakta yang tampak memang demikian. Semoga saja pandangan ini salah.

Kedua, banyak kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa, mengalami keterpasungan rasionalitas (bounded rationality). Konsep yang dipopulerkan oleh Herbert A. Simon ini menjelaskan bagaimana orang membuat keputusan. Menurutnya, benak orang dalam bertindak dipengaruhi oleh tiga hal yaitu informasi yang mereka peroleh, keterbatasan kognitif di alam pikir, dan waktu yang tersedia untuk membuat keputusan.

Informasi yang diterima mahasiswa, termasuk aktivis, sering bukan dari proses pembacaan dan analisis yang tajam, tetapi secara instan, baik dari media maupun dari senior lalu ditelan mentah-mentah. Hanya sebagai penerima yang pasif, bagaimana mungkin mereka mempunyai kekokohan argumentasi atau orisinalitas berpikir?

Jarangnya membaca dan diskusi intelektual juga akan membatasi pengetahuan mereka. Orang dengan kapasitas intelektual yang rendah tentu akan mudah diombang-ambing oleh keadaan. Hal ini benar-benar terbukti dari bergesernya niat berdemo setelah para pemimpin mahasiswa dan organisasi ekstra kampus menghadiri undangan dari Jokowi di Istana Negara.

Waktu yang panjang dan media komunikasi yang mudah rupanya tak akan berpengaruh apa-apa dalam upaya mengkonsolidasi kekuatan. Suara mereka hanya santer di awal, seperti suara tonggeret atau uir-uir, dapat didengar dari jarak sangat jauh tapi sumber suara rupanya hanya serangga kecil tak berdaya.

Alasan bahwa demo diundur ke tanggal 21 Mei karena ketakutan ditunggangi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan mereka guna menggulingkan Jokowi jangan-jangan hanya sekadar argumentasi bergesernya motif turunnya mereka ke jalan.

Yang jelas, kita akan melihat esok, apakah mereka berhasil membalikkan pesimisme publik terhadap gerakan mereka. Atau, gerangan mereka harus lebih dulu belajar ke artis dangdut dalam menggoyang panggung. Tentu ini sekadar metafora bagi mahasiswa untuk dapat menggoyang jagat politik Indonesia.

Sumber : Demo Akbar Mahasiswa Memble? (RIMA News, 20 Mei 2015)
Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons